Kamis | 19 September 2019 |
pemkab lingga
×

Pencarian

LINGGA

Alias Wello Mampu Gugah Perhatian Wapres untuk Hadiri Perhelatan Tamadun Melayu di Lingga

Jumat | 29 September 2017 | 20:50

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga -Karismatik Bupati Lingga, Alias Wello tak diragukan. Soalnya, Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) tak mampu menolak undangan untuk membuka perhelatan Tamadun Melayu bersempena Hari Ulang Tahun Kabupaten Lingga ke – 14 yang jatuh pada tanggal 20 November 2017.

“Saya datang. Nanti dikoordinasikan dengan protokoler,” tegas Wapres JK saat menerima Bupati Lingga, Alias Wello di ruang kerjanya, Jumat, 29 September 2017.

Dalam pertemuan itu, Alias Wello yang akrab disapa Awe ini memaparkan kegiatan yang akan dibuka Wapres ini merupakan agenda besar. Soalnya, dalam perhelatan ini akan diikuti sejumlah negara yang merupakan kerabat melayu antar bangsa, yakni Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Vietnam, Kamboja sampai Madagaskar. Dan untuk dalam negeri, semua diundang dari Sabang sampai Merauke.

Untuk menghadapi kegiatan akbar ini, pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga sudah memulai langkah persiapan rencana kegiatan lintas negara tersebut.

“Tahap tahap awal kita mulai persiapan. Pada awalnya, ini kegiatan daerah. Kita bicara juga dengan tokoh senior seperti Said Parman, Said Barakbah, Pak Abdul Malik yang sudah sekelas dunia,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Lingga, Muhammad Ishak belum lama ini.

Dikatakan pada perbincangan untuk Tamadun Melayu yakni kebesaran-kebesaran Melayu yang dibuat oleh Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS). Bagaimana SMRS dari Bintan ke Lingga dengan serba kekurangan dan tekanan dari penjajah bisa berkomunikasi dengan bangsa lain. Baik itu dalam urusan perdagangannya dengan Rafles.

“Tapi intinya kondisi saat ini lebih hebat dari zaman dahulu. Ketika zaman Sultan Mahmud, bisa komunikasi ke negara lain. Apalagi di zaman kita yang sudah maju seperti ini. Lingga punya sejarah itu,” terang Ishak.

Dampak positif dari kegiatan tersebut, lanjut Ishak, bahwa pertama kita mengenal potensi-potensi yang ada. Baik itu objek wisata sejarah budaya yang dikemas sedemikian rupa. Sebagai Bunda Tanah Melayu ini negerinya. Dan setiap tahun orang datang ke ibunya.

“Ada orang lain yang kita libatkan. Membuat konsep ini tidak harus melibatkan semua orang dulu. Semua sisi kita angkat. Kedepan juga ekonomi,” ujarnya. (bran)

Editor :