Kamis | 24 Oktober 2019 |
×

Pencarian

NEWS

Tes Keperawanan Sebelum Menikah Langgar HAM

Selasa | 19 September 2017 | 15:00

MEDIAKEPRI.CO.ID , Medan – Perlunya tes keperawanan terhadap calon pengantin perempuan, serta juga meminta adanya tes keperjakaan pada calon pengantin pria dalam buku karya seorang hakim Binsar Gultom berjudul ‘Pandangan Kritis Seorang Hakim’ dianggap tidak manusiawi dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Hal ini disampaikan Hj Kemalawati Eteng SH, Ketua BKOW Sumut kepada SIB, Sabtu 16 September.2017.

“Negara tidak memiliki hak untuk mengatur urusan pribadi seseorang, sebab pernikahan adalah hal yang sakral di antara dua insan dan itu kewenangan individu. Sehingga wacana tersebut sangatlah tidak manusiawi,” tegasnya.

Menurutnya, angka perceraian itu tinggi bukan karena masalah perawan atau tidak, melainkan banyak faktor seperti faktor ekonomi. Tes keperawanan justru akan dapat melukai kaum wanita, sebab tidak semua anak perempuan yang tidak perawan itu tidak baik.

“Tes keperawanan itu sungguh sangat tidak adil untuk kaum perempuan, bagaimana dengan nasib anak-anak perempuan yang hampir rata-rata mengalami tindakan kekerasan seksual, serta yang mengalami kecelakaan sehingga membuatnya harus tidak perawan lagi? Jadi sesungguhnya, banyak hal yang lebih penting dilakukan pemerintah, jika memang benar-benar ingin menurunkan angka perceraian, salah satunya memberikan hukuman yang berat untuk pelaku kejahatan seksual. Agar tidak ada lagi predator-predator yang merajalela untuk melukai kaum perempuan,”tegas Kemalawati.

Lanjutnya, banyak solusi yang lebih baik dalam menekan angka perceraian, di antaranya memberikan pendidikan seks di usia dini kepada anak, penyuluhan dan melakukan kegiatan-kegiatan rohani untuk menumbuhkan iman generasi muda.

“Persepsi masyarakat mengenai pendidikan seks yang masih tabu untuk dibicarakan bersama anak menjadi sebab yang harus dibenahi bersama untuk membekali anak melawan arus globalisasi yang semakin transparan dalam berbagai hal termasuk seksualitas. Sehingga anak akan terus mewaspadai diri dari berbagai tantangan yang sedang dihadapi. Budaya kita adalah budaya yang sopan, santun dan beretika. Jangan biarkan anak terpengaruh budaya barat yang memiliki banyak hak kebebasan. Anak adalah tanggung-jawab semua,” katanya.

Lanjutnya, hal yang utama dan baik untuk kedua insan yang harus dilakukan sebelum menikah agar bahtera rumah tangga berlangsung dengan baik, sebenarnya bukanlah mengetes keperawanan namun lebih baik memeriksakan kesehatan keduanya serta mengetes urine untuk mengetahui apakah calon pengantin terbebas dari penyalahgunaan Narkoba atau tidak, sebab pernikahan yang sehat adalah yang terhindar dari segala sakit penyakit, sehingga umur pernikahan akan terus langgeng.

Sumber : SIB

Editor :