Kamis | 19 September 2019 |
×

Pencarian

NEWS

Kisah Pilu Gadis Yang Berfoto Dengan Toga Diantara Dua Makam, Ditinggal Orangtua dan Dianggap Gila

Kamis | 19 Oktober 2017 | 15:49

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Foto wisuda yang diposting Adilla Bt Kamaruzzaman mendapat perhatian dari ribuan warganet.

Bukan berpose dengan latar rak buku pada umumnya, gadis yang akrab disapa El itu berfoto diantara dua makam.
Rupanya, Adilla punya alasan tersendiri memilih tempat tersebut untuk berfoto.

Pilu mengetahui alasan Adilla yang dicurahkan di akun media sosialnya.

Wanita 21 tahun itu menceritakan bahwa dirinya telah ditinggal ibu saat berusia empat tahun.

Ibunya menghembuskan napas terakhir dalam kecelakaan pada 27 Agustus 2000.

Kecelakaan terjadi setelah Adilla bersama ayah dan ibu pergi ke sebuah pasar malam.

Nahas sepulangnya dari pasar malam sebuah mobil menabrak motor yang mereka tumpangi.

“Darah mengalir di sepanjang jalan.

Ya Allah aku percaya pada janjimu.

Tidak ada saksi pada waktu itu.

Saya menangis Mama meninggal tepat di tempat ia terlepas dari bawah truk.
Dan lepastu saya tidak ingat apa jadinya,” tulis Dilla.

Setelah kejadian itu, Dilla melanjutkan hidup bersama ayah dan kakak tirinya yang dipanggil sebagai Kaklong.

Kakak tersebut merupakan anak pertama almarhum ibunya, dari suami pertama.

“Lepastu, saya naik dengan Kaklong dan kadang pulang ke rumah ayah.

Ayah hidup seperti biasa setelah mama meninggal.

Ayah dulu adalah tentara teritorial.

Lepastu Dad adalah seorang nelayan.

Terkadang ayah bergabung dengan teman dekat sirkuit f1 untuk kedua anak kami,” lanjut Dilla.

Namun, kejadian menyedihkan kembali menimpa Dilla.

Sang ayah yang menderita diabetes, hipertensi, dan jantung, harus menghadap Yang Maha Kuasa.

Ayahnya terjatuh di kamar mandi dan mengalami strok sebelum berpulang pada 22 Juni 2006.

Setelah ditinggal kedua orangtuanya, akhirnya Dilla diantar oleh pamannya ke rumah yatim piatu di Ampangan, Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.

Saudaranya itu berjanji akan menjemput Dilla saat dia sudah berusia 12 tahun.

Tapi sekian tahun menunggu, sang paman tak pernah datang.

Hingga dia terbiasa tak pulang kampung lagi dan sampai-sampai memanggil pemilik panti asuhan seperti orang tua sendiri.

“Pertubuhan Anak Yatim Darul Aminan menjadi rumah baru untuk saya tinggal.

Pakcik saya janji untuk ambil saya balik bila saya cecah umur 12 tahun.

Saya tunggu. Tapi, saya jadi penunggu. Tahun pertama, kedua dan…,” lanjutnya.
Para saudara pun tak pernah ada yang menjenguknya, kecuali Dilla yang memintanya.

Bahkan, Dilla mengaku pernah tertidur di luar rumah kakak tirinya, saat keluarga itu sedang keluar.

Dilla juga mengaku mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya.

Mereka sering mengejek Dilla dan menganggapnya gila karena sering menunggu ayahnya yang telah tiada untuk menjemputnya di sekolah.

“Saya ada parut didagu waktu saya sekolah rendah, teman kawan ejek saya.

kata saya miskin, busuk waktu tu, ayah pun dah tak ada,” cerita Dilla.

Banyak pula yang menganggapnya sedang berhalusinasi mengenai kematian ibunya.

Tapi Dilla bersikukuh dia mengingat betul kejadian yang merenggut nyawa ibunya, meskipun pada saat itu ia masih berusia empat tahun.

“Mungkin kanak kanak sebaya saya juga takkan mampu menipu kan? tapi sayang polis tak terima keterangan saya. mereka kata saya berhalusinasi,” tulisnya.

Namun, tekad Dilla begitu kuat untuk bangkit dari keterpurukan.

Meskipun tak memiliki orangtua lagi, dia berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Sejak usia 11 tahun, Dilla rajin menabung uang yang diberikan para donatur untuk anak-anak yang tinggal di panti tempatnya tinggal.

“Pelajaran saya. bagaimana saya bisa belajar diploma setelah Mama Ayah meninggal?

1. tabungan saya Simpanan saya di panti asuhan selama tujuh tahun, jadi bekal.

Tapi, simpanan saya pun tak cukup.

hanya bertahan sampai saya semester 3. sebab? barang art bukan murah serba serbi saya beli sendiri.

Termasuk barangan mandian, belanja harian.

ada masa saya akan keluar dengan kawan, beli barang dekat luar. juga duit simpanan saya.”

Mulai semester 4,5 duit belanja saya hanya dari baki duit PT. bulan pertama dan kedua saya oke masuk bulan ketiga, saya ‘puasa’.
Adakala, saya tak makan nasi hampir minggu.

kadang2 lupa kalo makan nasi terakhir.

tapi teman2 saya ada, diorang belanja. alhamdulillah.”

Kini, Dilla berhasil lulus dari Universiti Teknologi Mara (UiTM) jurusan seni reka banyak orang yang datang mendekat padanya.

Sayang, Dilla sepertinya masih mengingat perlakuan yang diterimanya saat kecil.

“Dulu waktu saya reply status diorang, mesej diorang, takda pun nak reply.

Betapa hinanya manusia kan? Kita juga diburukkan.

Ada yang baru nak mengaku saudara.

Tapi maaf, saya bukan Adilla yang dulu. yang lemah dulu saya dibuang tak apalah ujian Allah selalu ada,” pungkas Dilla.(***)

Editor :