Senin | 23 September 2019 |
×

Pencarian

NEWS

Kisruh Angkutan Online dengan Konvensional, Begini Kata Pengamat

Sabtu | 14 Oktober 2017 | 2:30

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Kisruh transportasi online (Gojek, Uber, Grab) dengan transportasi konvensional (Angkot, Ojek) terjadi karena adanya persaingan moda atau persaingan sarana angkutan dengan pasar pelanggan yang sama.

Hal itu dikatakan Pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Shanty Yulianti Rachmat, ST MT MSc PhD, Jumat, 13 Oktober 2017.

“Sebenarnya, polemik ini terjadi karena persaingan moda, dilihat dari teori model transportasi adalah mode choice model,” kata Shanty.

Moda transportasi online ataupun konvensional, kata Shanty, dipilih oleh masyarakat tergantung dari tingkat kepuasan relatif yang dicapai oleh masyarakat itu sendiri.

Sedangkan tingkat kepuasan relatif yang dimiliki masyarakat tergantung dari pelayanan dan kelengkapan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing transportasi itu.

Kelengkapan karakteristik yang dimaksud misalnya, waktu perjalanan, harga, kepercayaan, informasi, dan lain sebagainya.

Sehingga, masing-masing moda akan bersaing untuk memenuhi tingkat kepuasan relatif masyarakat semaksimal mungkin.

Jika moda transportasi bisa memenuhi tingkat kepuasan relatif masyarakat semaksimal mungkin, maka, kemungkinan moda transportasi itu dipilih oleh masyarakat semakin meningkat.

Sekarang, lanjut Shanty, pada persaingan moda transportasi online dan konvensional, terdapat kelengkapan karakteristik (waktu perjalanan, harga, kepercayaan, informasi, dan sebagainya) yang tidak dimiliki oleh satu atau yang lainnya.

Karena transportasi online dan transportasi konvensional ingin mempertahankan tingkat kepuasan relatif masyarakat semaksimal mungkin hanya melalui kelengkapan karakteristik yang saat ini dimiliki, maka menurut Shanty polemik ini pun terjadi.

Polemik ini diperparah, sambung Shanty, karena sulitnya menegakkan kesepakatan yang telah dihasilkan, yang tercantum pada revisi PM 26/2017.

Moda baru yang muncul pun (transportasi online), mengambil segmen masyarakat yang sama, sehingga terjadi perebutan pasar pelanggan.

Polemik seperti ini menurut Shanty juga sering terjadi sebelumnya. Misal, persaingan taksi antar berbagai merek, delman dengan angkutan kota, ojek dengan angkutan kota, ataupun angkutan kota dengan bus. (***)

sumber: tribunjabar

Editor :