Rabu | 02 Desember 2020 |
×

Pencarian

NATUNA

WADUH!!! Susi Pudjiastuti ‘Larang’ Wartawan Natunà Liput Penenggelaman KIA dengan Alasan Terbatas Kapasitas Angkutan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Natuna – Seremonial kegiatan penènggelaman kapal ikan asing (KIA) oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, di Perairan Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, Minggu, 29 Oktober 2017 meninggalkan prasasti  kepedihan bagi wartawan Natuna.

Pasalnya, tempat dimana digelarnya acara seremonial kegiatan penenggelaman puluhan KIA, pihak dari Humas KKP RI menyampaikan kepada beberapa wartawan lokal, bahwasannya wartawan lokal tidak diizinkan untuk menaiki Kapal Orca 2, dengan alasan kapasitas kapal yang berukuran setara dengan KM Sabuk Nusantara itu, tidak mencukupi.

Loading...

“Maaf untuk wartawan lokal tidak bisa ikut, karena kapasitasnya terbatas,” kata Diding Sutardi, seorang staff Humas KKP RI, saat dihubungi media melalui telepon selular.

Diding mengaku, larangan wartawan lokal untuk mengikuti kegiatan penenggelaman KIA tersebut, sesuai arahan dari atasannya di Humas KKP RI.

“Ya tidak boleh, itu perintah dari bos saya,” katanya tegas, seolah bos dia mendapat perintah dari atasannya lagi, yaitu Menteri KKP Susi Pudjiastuti.

Kondisi ini membuat wartawan Natuna “membatin”. Dimana usai penegelaman kapal justru menjadi perbincangan hangat. Demi tuntutan pembaca lokal
Natuna, wartawan ingin mendegar info penenggelaman.

Loading...

Kabag Humas Setda Natuna, Budi Dharma membenarkan, wartawan Natuna dilarang menumpangi Kapal Pengawas Orca 2 PSDKP, yang membawa rombongan sang Menteri menyaksikan detik-detik penenggelaman KIA.

“Rombongan mau pindah ke Kapal Orca 2, dan untuk rekan media yang mau meliput, nanti nunggu rilisnya saja, karena tidak diizinkan masuk oleh Humas KKP,” ungkap Budi Dharma kepada sejumlah awak media.

Sementara itu, Erwin Yohannes Simanungkalit, salah seorang wartawan dari salah satu media online di Kepri, mengaku sangat kecewa dengan perlakuan pihak Humas KKP RI yang melarang dirinya bersama awak media lain meliput.

“Masak kita sudah jauh-jauh datang, panas lagi, sampai sini tak boleh meliput. Apa bedanya media lokal dengan media Nasional. Toh yang mengetahui kondisi riel disini adalah wartawan lokal, bukan media Nasional. Kami juga bisa menyuguhkan informasi yang berguna untuk Pusat. Ini namanya Humas KKP mendiskriminasi wartawan Natuna,” sebut pria yang akrab disapa Kalit itu, kesal.  (kmg)

Loading...
Loading...