Kamis | 19 September 2019 |
×

Pencarian

NEWS

MIRIS! Iwan Cepi Pembunuh Bayaran yang Taubat, Perempuan Korban Terakhir Paling Disesali

Senin | 20 November 2017 | 17:34

MEDIAKEPRI.CO.ID, – Iwan Cepi (75), seorang pembunuh bayaran paling ditakuti di Indonesia mengaku sudah tobat. Hal itu diungkapnnya saat diwawancara oleh On The Spot Trans 7, Rabu 15 november 2017 silam.

Iwan menuturkan, bahwa dipenjara selama satu dekade telah mengubah hidupnya. Iwan, yang kini sudah renta itu dulunya disebut-sebut sebagai pembunuh yang bengis saat melakukan aksinya.

Iwan adalah anak dari Murtado, seorang jawara Betawi yang dikenal dengan sebutan ‘Macan Kemayoran’.
Dalam perjalanan hidupnya, Iwan pernah menjadi seorang tentara selama delapan tahun. Akan tetapi, ia memutuskan keluar karena merasa tidak disiplin.

“Kalau keluar, saya memang lupa dengan kedisiplinan saya,” ujarnya.

Setelah itu, ia kemudian menjadi pembunuh bayaran. Targetnya orang-orang kaya sesuai orderan yang didapatkannya. Orang-orang kaya itu meminta Iwan untuk membunuh pesaing bisnis mereka.
Iwan mengaku sudah membunuh sejak tahun 70-an.

Tak ada kamus tega dalam hidupnya Dia membantai siapa saja yang menjadi target. Semua dilakukan semata-mata untuk mendapatkan uang. Saat membunuh, ia tidak memikirkan para korban. Lantaran ia hanya mengacu pada bayaran yang akan didapatkan.

Menurutnya, pengalaman masa lalunya itu sekarang menjadi beban hidupnya. Lantaran ia merasa bersalah.

Karena telah membunuh orang-orang yang tidak bersalah padanya. Bahkan meninggalkan kegalauan luar biasa di dalam hidupnya.

Apalagi setelah membunuh seorang perempuan. Dia merasa dihantui rasa bersalah yang tak kunjung berakhir.

“Yang paling saya ingat adalah yang terakhir, karena dia adalah seorang perempuan. Perasaan saya ada tidak teganya, karena ia perempuan, karena itulah saya menyesal,” tutur Iwan.

Sebagai imbalan atas pekerjaannya yang melenyapkan nyawa orang lain itu, Iwan mengaku dibayar 2-25 juta rupiah.

“Bayarannya 2 juta, tapi yang terakhir ini 25 juta,” katanya.

Uang tersebut biasanya digunakan untuk hura-hura semasa muda. Karena profesi preman yang menurutnya suka seperti itu.

Iwan mengaku datang ke agen untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Sebelum melakukan eksekusi pembunuhan, Iwan selalu melakukan survei terhadap setiap korban yang akan ia habisi.

“Saya tidak bisa mendadak, langsung bunuh gitu saya gak mau, ya harus survei,” ungkapnya.

Ia melakukan hal tersebut untuk memudahkan aksinya. Dengan lebih mengenal korban, biasanya paling tidak seminggu ia mengamati korban.

Selama di penjara, Iwan mengaku dirinya menjadi penguasa para narapidana yang lainnya.

“Karena kepiawaian saya, saya juga akhirnya menguasai kelompok narapidana yang ada di sana,” ungkap Iwan.

Pengalaman-pengalamannya selama di penjara membuatnya kini semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Hal tersebut lantaran ia menyadari dirinya tak lagi muda. Sehingga akhiratlah yang kini menjadi fokus tujuan hdupnya, dengan memohon pengampunan kepada Tuhan. (***)

Editor :