Kamis | 14 November 2019 |
pemkab lingga
×

Pencarian

Kandidatku untuk Pilkada Lingga

LINGGA

Penampilan ‘Sensualitas’ Artis di Tamadun Melayu Antar Bangsa Timbulkan Kontroversi

Jumat | 24 November 2017 | 8:44

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Penampilan dengan sedikit sensualitas artis dalam malam hiburan di Tamadun Melayu Antar Bangsa di Daik Lingga menimbulkan kontroversi. Sejumlah elemen masyarakat angkat bicara dengan tampilnya penghibur di kegiatan berskala internasional ini dinilai yang mencederai budaya melayu.

Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM), M Ishak yang juga sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Pemkab Lingga mengaku kecewa. Bukan dari segi lagu yang dibawakan sang artis, akan tetapi, pakaian yang digunakan. Ishak menilai kurang pantas ditampilkan pada acara itu.

Loading...

“Tak pantas. Dari awal, kami yang juga merupakan panitia Tamadun, telah memperbincangkan untuk mendatangkan artis melayu dari Malaysia, seperti Siti Nur Haliza, tapi tau-taunya yang datang bukan artis melayu,” kata dia kepada mediakepri.co.id, Kamis 23 November 2017.

Lebih lanjut kata Ishak kalau pun ada artis lain, tentu busana yang digunakan adalah busana melayu ataupun busana muslim yang telah ditunjukkan oleh artis-artis lokal yang dimiliki daerah dengan menggunakan pakaian yang sopan.

“Saya tidak tahu sebenarnya siapa yang mengurus artis, karena bukan konteks kami, dan dana tidak dari Dinas Kebudayaan. Tidak ada anggaran khusus untuk mendatangkan artis ini,” ujarnya.

Sementara itu secara terpisah, tokoh pemuda Aziz Martindas mengatakan tidak tepat, apalagi kalau hal busana yang ditampil agak sedikit sensualitas tidak melambangkan identitas melayu. “Tidak sopan dalam etika,” katanya.

Loading...

Menurutnya,melakukan aktivitas hiburan biasa dilakukan sebagai panitia orang yang bertanggung jawab dari satu agenda benar benar melakukan koordinasi dengan panitia utama penyelenggara ini,yakni dinas kebudayaan.

“Lebih utama ini tentang acra adat budaya yang beradab,” tambahnya.

Dikatakannya, boleh saja kalaupun hiburan artis ingin menyamakan dengan event tamadun tetapi harus sesuai dengan etika kemelayuannya. Karena, katanya, event ini sudah tingkat internasional, yang melibatkan banyak pihak diantara negara serumpun yang mengangkat budaya melayu itu sendiri.

Lebih jauh dikatakannya, kita tahu sebagai budaya melayu adat bersendi sarak, sarak bersendikan kitabullah. Oleh karena itu, kata dia, mungkin kurangnya koordinasi mengakibatkan satu kesalahan bisa jadi cacat dan cela. “Bak kata pepatah, karna nila setitik rusak susu sebelanga,” katanya.

Dirinya berharap sebagai kegundahan dari pada masyarakat agar ini menjadi pembelajaran kedepan untuk melakukan evaluasi mana yang baik maupun tidak, agar kedepan menjadi lebih baik lagi. (bran)

Editor :

Loading...
Loading...