Selasa | 24 September 2019 |
×

Pencarian

NEWS

Sejarah Perjalanan Dunia Prostitusi di Jakarta, Dimulai dari Becak hingga Gerbong Kereta

Rabu | 01 November 2017 | 21:50

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pada awal 1950 becak menjadi alat transportasi favorit warga Jakarta. Mereka hadir di setiap sudut kampung, hingga jumlahnya puluhan ribu. Alat transportasi roda tiga ini menjadi pilihan warga yang cuma punya kekuatan otot untuk mencari nafkah.

Tapi dalam perjalanannya, terjalin simbiosis mutualisme antara para penarik becak dengan para perempuan penjaja cinta. Lalu dikenal istilah ‘Becak Komplit’ yang merujuk salah satu praktek prostitusi di Jakarta kala itu. Ada kalanya si perempuan penjaja cinta berkeliling diantar abang becak untuk mencari lelaki hidung belang atau sebaliknya. Lalu di atas becak yang disewa itulah mereka melepas hajat, tentu di lokasi yang gelap.

Agar tidak kelihatan orang, menurut Firman Lubis dalam buku Jakarta 1950-an, Kenangan Semasa Remaja, becak ditutupi dengan kain dan sengaja diposisikan di tempat yang gelap. Firman menyebut ada sekitar 25 ribu becak di Jakarta kala itu.

Ikhwal ‘Becak Komplit’ ini juga disinggung dalam biografi mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin karya Ramadan KH, Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977. Kenyataan itu menjadi salah satu dari 1001 ekses kehadiran becak di Ibukota selain memicu kemacetan. Karena itu Ali kemudian mendatangkan 1.200 bemo sebagai alternatif angkutan yang lebih manusiawi ketimbang becak.

Bang Ali juga menertibkan praktek prostitusi di gerbong-gerbong kereta yang biasa langsir di sekitar Stasiun Senen dan Jatinegara. Hal itu ditempuh setelah pihak Jawatan Kereta Api seperti tak berdaya untuk membereskannya.

Praktek prostitusi di gerbong kereta sebetulnya sudah berlangsung sejak masa revolusi. Penyair Chairil Anwar dalam buku Aku’karya Sjumanjaja termasuk salah satu pengunjung setianya. Tapi berkat pergaulannya dengan para pelacur di Senen itulah, Chairil juga membubuhkan sebuah karya fenomenal. Karya itu tak lain slogan pada poster bergambar pelukis Dullah goresan Affandi. Bunyi slogannya singkat, “Boeng, Ajo Boeng!”.

Para seniman yang hadir saat pembuatan poster tersebut setuju dengan tulisan Chairil. Mereka tidak tahu “Boeng, Ajo, Boeng” merupakan ucapan para pelacur di Senen, yang jadi langganan Chairil. (***)

sumber: detikcom

Editor :