Selasa | 24 September 2019 |
×

Pencarian

NEWS

Kapuspen Akui Ada Sebahagian Keputusan Gatot Direvisi Panglima TNI

Rabu | 20 Desember 2017 | 9:58

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayor Jenderal TNI MS Fadhilah mengatakan kabar pembatalan beberapa keputusan dalam hal pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI benar adanya. Menurutnya, sebagian keputusan direvisi karena penyesuaian kebutuhan organisasi.

“Betul, memang ada sebagian yang direvisi disesuaikan dengan kebutuhan organisasi,” ungkap Fadhilah, Rabu, 20 Desember 2017.

Sebelumnya, beredar Surat Keputusan Panglima TNI No. Kep/982.a/XII/2017. Dalam surat tersebut disebutkan, ada beberapa perubahan keputusan dalam hal pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI yang lalu.

Surat tersebut bertuliskan perubahan Keputusan Panglima TNI No. Kep/982/XII/2017 tanggal 4 Desember 2017 lalu tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI. Ada 16 panglima tinggi TNI yang tidak jadi dihentikan atau diangkat jabatannya.

Di antaranya terdapat nama Pangkostrad TNI Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi yang kini mebjabat sebagai Ketua Umum PSSI. Nama-nama lainnya merupakan nama yang terdapat pada nomor urut 1-7, 13-17, dan 29-32 pada lampiran surat keputusan yang dibatalkan itu.

“Dengan demikian maka Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/982/XII/2017 tanggal 4 Desember 2017 telah diadakan perubahan,” begitu tulisan di surat tersebut. Surat itu dibubuhi tanda tangan Kepala Setum TNI Brigadir Jenderal Ferry Zein. Di sebelah tanda tangan itu terdapat tulisan tertanda Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Seperti diketahui, ketika Jenderal TNI Gatot Nurmantyo masih menjabat sebagai Panglima TNI, keluar Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/982/XII/2017, tanggal 4 Desember 2017 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI. Surat tersebut menetapkan, Mutasi Jabatan 85 Perwira Tinggi (Pati) TNI. Pemutasian tersebut terdiri dari 46 Pati jajaran TNI Angkatan Darat, 28 Pati jajaran TNI Angkatan Laut dan 11 Pati jajaran TNI Angkatan Udara.

Nyerempet Politik

Pengamat Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi melihat pembatalan keputusan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto terkait pemberhentian Pangkostrad Jenderal Edy Rahmayadi tentu saja memiliki konsekuensi.

“Panglima, hati-hati. Ini nyerempet politik loh,” kata dia melalui siaran pers.

Fahmi menilai dampak keputusan Panglima mengganti surat No. Kep/982/XII/2017 terkait pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI bukan hanya membuat Edy bisa gagal mengikuti kontestasi pilkada Sumatera Utara (Sumut) 2018.

“Cuma itu saja? Tentu tidak. Yang bersangkutan (Edy) diketahui sudah mengajukan permohonan pensiun dini sejak beberapa waktu lalu,” katanya.

Sesuai aturan, kata dia, seorang perwira TNI harus berhenti dari dinas aktif ketika mendaftar sebagai bakal calon kepala daerah ke KPU. Edy adalah satu-satunya bakal calon Gubernur Sumut yang telah jelas partai pengusung dan wakilnya.

Artinya, Edy, menurut Fahmi, tentu saja sudah siap lahir batin untuk bertarung. Dan itu adalah hasil proses komunikasi politik yang tak sederhana. “Keputusan Panglima berpotensi memporak-porandakan hal itu. Imbas yang paling enteng bisa jadi adalah kekecewaan implisit di balik loyalitas seorang perwira,” kata dia.

Imbas yang lebih berat adalah kegaduhan baru yang akan muncul. Apakah Gerindra, PAN dan Demokrat akan diam saja? Fahmi menyebut Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto harus bijak. “Kenapa tak berfikir, mungkin perwiranya yang satu ini lebih bermanfaat bagi rakyat Sumatera Utara? Lagipula Edy belum tentu menang. Masih panjang prosesnya. Bisa saja justru figur lain yang terpilih,” tuturnya.

Edy Rahmayadi juga dinilainya bukan sosok yang luar biasa istimewa untuk digandoli di TNI. Stok pengganti yang mumpuni, bahkan yang lebih berkualitas banyak. Seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Edy juga tentu saja paham konsekuensinya. Ini disebutnya sebagai ‘point of no return’. (***)

sumber: republika.co.id

Editor :