Senin | 30 November 2020 |
×

Pencarian

PERISTIWA

“Ada Surat Tugasnya Kok” kata Pramugari Cantik itu saat Kamar Kosnya di Ketuk Satpol PP

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Operasi yustisi digelar serentak oleh Pemkot Surabaya, Selasa 2 Januari 2018.
Pemeriksaan sekaligus pendataan warga pendatang ini dilakukan guna mengantisipasi lonjakan warga pendatang usai libur natal dan tahun baru.

Sasaran yustisi yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Surabaya beserta kelurahan dan kecamatan adalah di rumah kos tempat tinggal pendatang dari luar Kota Pahlawan.

Loading...

Salah satunya dilakukan di kawasan Petemon dan Banyu Urip.

Di sana terdapat banyak warga pendatang luar Surabaya yang perlu didata.

Ani Mulyani, menjadi salah satu warga pendatang yang diyustisi oleh Satpol PP Kota Surabaya.

Wanita berusia 27 tahun ini tampak kaget saat rombongan petugas mengetok kamar kosanya di Jalan Petemon 4 No 17A.
Ia mengaku baru bangun tidur lantaran baru pulang bekerja dini hari.

Loading...

“Saya pendatang dari Bogor. Kerja sebagai pramugari kereta. Ada surat tugasnya kok,” ucap Ani mengeluarkan surat tugas dari PT KAI yang ia miliki.

Ani pun menurut saja saat petugas meminta data KTP untuk dicatat sebagai warga pendatang ke Surabaya.

Wanita berambut panjang ini mengaku sudah pernah melakukan pendataan ke RT setempat.

“Sudah mendata, dan sudah menyerahkan data. Kaget saja kok diperiksa lagi, apalagi baru bangun tidur,” katanya.

Meski begitu ia mengaku senang adanya pendataan seperti ini.

Artinya ada perhatian untuk warga pendatang. Sehingga membuat tempat kosnya menjadi aman.

“Pernah juga sekali malam yustisi, mencari narkoba. Tapi untungnya tidak ada yang ditemukan,” ucapnya.

Ani sendiri mengaku sudah enam tahun tinggal di Surabaya.

Ia sempat kos di Wonorejo, namun lantaran tidak aman ia pindah ke Petemon setahun belakangan.

Sementara itu, Penyidik PNS Satpol PP Kota Surabaya Hajar Sulistyono mengatakan operasi yustisi ini dilakukan serentak atas arahan dari Pemkot.

“Kami menyisir di tiga lokasi tempat kos di Petemon. Ada 24 warga pendatang yang kami data,” kata Hajar di lokasi.

Menurut Hajar mereka berasal dari Lamongan, Pemekasan, dan juga ada dari Makassar.

Sementara itu di kawasan Banyu Urip, mereka mendapatkan sebanyak 56 orang warga pendatang non permanen.

“Banyu Urip kami dapat 56 orang penduduk non permanen, dari enam titik kos,” kata Hajar. (***)

sumber: tribunnews.com

Loading...
Loading...