Sabtu | 05 Desember 2020 |
×

Pencarian

PERISTIWA

Ini Achmad Soetardjo, Pengawal Sang Proklamator ini Meninggal Dunia Diusia 101 Tahun

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sragen – Nama Achmad Soetardjo mungkin tak pernah ditulis dalam buku-buku sejarah. Semasa hidupnya dia juga menutup rapat kedekatannya dengan Bung Karno. Sebagai pengawal sang proklamator, dia memilih pensiun muda ketika terjadi pergolakan politik tahun 1965.

Pemakaman Ahmad Soetardjo di Sragen (Istimewa)

Tardjo, demikian panggilannya, menghembuskan napas terakhir pada Selasa 23 januiari 2018 kemarin. Dia meninggal pada usia yang ke-101 tahun. Hari ini jenazahnya dimakamkan di Sragen, Jateng.

Loading...

“Ayah memang sudah sakit-sakitan karena faktor usia. Ayah meninggalkan 14 orang anak dari dua istri dan 23 cucu,” kata putra kedua Tardjo, Eddy Hary Susanto (63), saat ditemui di rumah duka, Cantel Kulon, Kecamatan Sragen Kota, Sragen, Rabu 24 Januari 2018.

Dalam upacara pemakaman, perwakilan Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) membacakan sedikit riwayat militer almmarhum. Dia pernah terjun di beberapa medan perang, seperti dalam perang kemerdekaan 1945 di Kalimantan dan Operasi Yogya Kembali.

Menurut Eddy, Tardjo memutuskan pensiun dini saat politik Indonesia sedang bergolak pada 1965. Tardjo meninggalkan Jakarta lalu menetap di Yogyakarta. Lama tinggal di Yogyakarta, pria kelahiran Solo itu kemudian berpindah ke Sragen pada tahun 1990-an.

“Ayah tentara yang netral. Mungkin agak risih juga, dulu kan banyak blok sini blok situ, Bapak enggak suka, pilih mundur. Ayah saya tentara yang sederhana, hidup yang wajar saja, tidak dalam kemewahan,” ujar Eddy.

Loading...

Mengenai kisah Tardjo saat menjadi pengawal Bung Karno, bahkan kepada anak-anaknya pun Tardjo hampir tidak pernah bercerita. “Enggak pernah cerita apa-apa (tentang tugas mengawal Bung Karno). Waktu beliau berjuang juga enggak pernah cerita,” ungkapnya.

Hal serupa juga dibenarkan putra sulung Tardjo, Eddy Herwanto. Dia hanya ingat ayahnya pernah bercerita tentang Soekarno yang sangat disiplin. “Bapak cerita kalau Presiden Soekarno itu sangat disiplin. Kalau (acara) jam tujuh ya jam tujuh, enggak pernah telat,” kata pria berusia 65 tahun itu.

Eddy Herwanto memang memiliki kenangan saat diajak ayahnya masuk ke dalam istana negara. Dia menyaksikan sendiri kedekatan ayahnya dengan Bung Karno.

“Saat masuk ke halaman belakang, ada Bung Karno sedang ngopi, lalu menyapa Bapak. Kalau ngomong pakai Bahasa Jawa. Akhirnya saya keliling istana sama Bapak,” ungkap dia.

Karier Tardjo di ABRI memang tidak begitu menonjol. Pangkat terakhirnya hanya sampai letnan dua. Saat pensiun, pangkatnya naik menjadi letnan satu.

“Bapak itu termasuk malas ngurus pangkat, padahal bintang gerilyanya banyak kalau mau ngurus. Makanya enggak terkenal,” lanjutnya. (***)

sumber: detik.com

Loading...
Loading...