RAGAM

Istilah ‘The Power of Emak-emak’ Karna Salah Menyalakan Sein, Hendrik Ferianto: Panik dan Lupa

Sabtu | 17 Februari 2018 | 10:39

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pengguna sepeda motor di Indonesia unik-unik. Malah tak jarang terdapat emak-emak naik motor matik yang menyalakan sein kiri tapi beloknya ke kanan. Tapi, salah menyalakan sein itu kenapa identik dengan emak-emak sehingga kerap timbul istilah ‘The Power of Emak-emak’?

Instruktur Safety Riding Astra Honda Motor (AHM) Hendrik Ferianto punya pandangan sendiri. Menurutnya, kebanyakan wanita dalam berkendara atau melakukan apa pun biasanya menggunakan perasaan.

“Setiap pengguna jalan, baik itu pejalan kaki, wanita atau pria itu karakternya beda-beda. Dan mereka punya kelemahan masing-masing. Pengendara wanita mereka lebih menggunakan perasaan. Saat mereka diintimidasi, mereka cenderung panik. Kalau orang panik dia akan melakukan dua hal, bergerak sembrono atau diam,” kata Hendrik kepada detikOto belum lama ini.

“Yang terjadi adalah ada seorang wanita salah sein. Sebenarnya salah sein ini kalau boleh disurvei, mereka jawabnya pasti bilang sudah benar nyalakan sein. Sebenarnya (salah menyalakan sein) itu adalah lebih ke arah lupa dan panik. Misalnya gini, ada perempuan naik motor diklaksonin terus. Namanya orang panik, dia mau ngegas itu bisa jadi ngerem, ngerem bisa jadi ngegas. Apalagi perempuan, bisa salah tingkah,” sambungnya.

Lantas kenapa yang kebanyakan salah menyalakan sein itu ibu-ibu? Menurut Hendrik, ibu-ibu yang kerap salah menyalakan lampu sein itu karena kemampuan naik motornya rendah.

“Jadi naik motor itu butuh skill, mental, pengetahuan, perasaan, pengalaman. Banyak pengendara wanita yang learning by doing, sehingga mereka tidak siap secara mental tapi modalnya yang penting bisa jalan aja. Coba tanya, ada nggak lady biker yang salah sein? Nggak ada kan? Karena mereka siap secara mental. Dalam berkendara itu nggak cuma butuh yang namanya skill, tapi juga mental. Mental ini ada pengalaman, perasaan. Kalau minim pengalaman, gampang panik, diklaksonin dari belakang, yang tadinya sein kiri jadi sein kanan, karena sudah panik,” kata Hendrik.

Intinya, sebut dia, kebanyakan pengendara perempuan berkendara dengan perasaan. Mereka juga mudah panik saat diintimidasi atau saat diberi tekanan oleh pengendara lain. Misalnya selalu diklakson dari belakang oleh pengendara lain, mereka cenderung mudah panik.

“Kemudian mereka tidak punya kemampuan untuk mengambil keputusan secepat pria,” sebut Hendrik. (***)

sumber: detik.com

Editor :