Rabu | 27 Januari 2021 |
×

Pencarian

INTERNASIONAL

“Cukup, Saya Tidak dapat Melihatnya Lagi” Kisah Algojo saat Eksekusi Wanita dan Teman Sendiri

MEDIAKEPRI.CO.ID, Riyadh – Meski sudah ratusan kali melakukan eksekusi pemancungan, Abdallah Al Bishi tak dapat melupakan pengalamannya melihat eksekusi hukum pancung.

Kala itu ia masih bocah dan menyaksikan ayahnya, Said Al Bishi, algojo Kerajaan Arab Saudi, melakukan eksekusi hukuman pancung di depan Gerbang King Abdul Al Aziz di Mekah.

Loading...

Orang-orang di sekitarnya selalu membicarakan eksekusi pancung berhubungan dengan sistem pencernaan. Abdallah ingin melihat pemancungan untuk belajar mengenai alat pencernaan manusia karena akan menghadapi ujian. Tapi pemandangan yang ditemuinya benar-benar membuatnya kaget.

“Ketika ayah mengeksekusi, saya berlari mendekat untuk melihat sistem pencernaan manusia. Tapi yang saya lihat hanyalah kepala manusia melayang dan leher yang terlihat seperti lubang sumur.

Cukup, saya tidak dapat melihatnya lagi,” kenangnya dalam wawancara dengan stasiun televisi Lebanon, LBC TV, November 2006.

Abdallah mengaku tak mengetahui apa yang terjadi setelahnya, ia hanya ingat sebuah mobil mengantarnya pulang ke rumah. Malamnya, ia tak dapat tidur. Tapi beberapa hari berlalu ia sudah terbiasa dengan ingatan pemancungan.

Loading...

Frances Larson dalam Severed: A History of Heads Lost and Heads Found, menuliskan bahwa kepala merupakan pusat aktivitas kesadaran manusia. Kepala tersusun atas 20 tulang, lebih dari 32 gigi, otak, dan organ sensorik. Keseluruhan susunan ini tertata dalam ruang terbatas bersama indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan rambut.

Leher manusia memiliki kekuatan untuk menopang dan menjadi penghubung jaringan darah. Ketika kepala terpisah maka darah akan menyembur dengan kencang. Hal ini menyebabkan pemancungan menjadi pekerjaan paling berdarah.

“Ketika kepala terpisah ada ahli yang mengatakan manusia masih hidup dua detik, ada yang mengatakan tujuh detik dengan perhitungan persediaan oksigen di otak. Tapi itu semua bakal menyakitkan dengan kepala terpisah dari badan,” tulis Larson.

Pengalaman melihat pemenggalan itu tak membuat Abdallah kapok. Saat dewasa ia justru meneruskan pekerjaan sebagai algojo kerajaan setelah ayahnya berpulang pada 1991. Hari pertama bekerja ia mengayunkan pedang ayahnya, yang dinamai Sultan, untuk memancung tiga terpidana mati. Abdallah hanya merasa canggung sebentar ketika hendak melakukan tugasnya.

Profesi sebagai algojo pancung terus ditekuninya. Pengetahuan dan koleksi pedangnya bertambah. Ia menyebutkan pedang tersebut jenis jowhar yang khusus dibuat untuk melakukan eksekusi. Salah satu pedang dinamainya Qaridha yang didesain untuk diayunkan secara vertikal.

Ratusan tugas untuk memancung kepala sudah dijalaninya. Ia menganggap dirinya hanya menjalani perintah agama, tugasnya sudah dijelaskan dalam kitab suci. Makanya Abdallah tak memiliki keraguan sedikitpun.

Eksekusi mati bukan satu-satunya tugas buat Abdallah. Dalam wawancara terpisah di stasiun televisi yang sama, ia menyebutkan juga memenggal kaki dan tangan terpidana pencurian. Terpidana tersebut diberikan bius lokal sebelum pedang Abdallah menebas.

Jika ia merasa iba, hal itu justru akan mempersulit terpidana tersebut hingga tugasnya tak lancar dan menyebabkan rasa sakit. Abdallah mengaku pernah mengeksekusi orang-orang yang dikenalnya. Tapi ia takkan terpengaruh dengan kedekatan itu. bahkan selalu menemui terpidana mati yang dieksekusinya untuk rekonsiliasi.

Kini Abdallah berhasil mendidik anak tertuanya, Badr, sudah menjalani profesi ini dan akan ditempatkan di Riyadh. Dua anak lainnya, Muhammad dan Faysal, sudah diajak untuk menyaksikan pemancungan dan pemenggalan tangan serta kaki.

Rekan seprofesi Abdallah, Abdallah Ahmad Bakhit Al Ghamedi mengaku pemancungan terpidana perempuan lebih susah karena lehernya tertutup. Biasanya ada sedikit celah terbuka di dekat leher kiri. Seorang algojo ahli akan menyasar celah ini dengan tepat.

Meleset sedikit dapat menyentuh penutup kepala hingga membuat orang yang dipancung merasa lebih sakit.

“Saya pernah mengeksekusi tiga perempuan dengan satu pedang. Satu saya eksekusi di Riyadh, dua orang di Dammam, dan ada yang keempat saya eksekusi di Jeddah. Eksekusi ini lebih sulit dari laki-laki. Leher laki-laki terlihat jelas di bawah dagunya,” aku Ahmad Bakhit.

Seluruh eksekusi ini tak mempengaruhi kehidupan pribadi Ahmad Bakhit. Usai eksekusi, ia tetap bergaul dan bercengkrama dengan keluarga secara normal. (***)

sumber: detik.com

Loading...
Loading...