Selasa | 01 Desember 2020 |
×

Pencarian

PERISTIWA

Berawal Chatingan Di Grup WhatsApp LGBT, Ali Tewas Mengenaskan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Ali Rahman (34) dibunuh dengan keji oleh Petrus Paulus (21) di Gang Waru, Kramat Jati, Cawang, Jakarta Timur.

Kepada polisi, Petrus mengaku marah terhadap Ali yang memintanya mengirim foto berbau pornografi.

Loading...

Ali ditemukan tewas bersimbah darah dengan sejumlah luka tusukan pada Senin, 16 April 2018 malam. Mayat Ali ditemukan oleh warga sekitar pukul 19.30 WIB. Warga pun langsung melaporkannya ke polisi.

Terdapat luka di pelipis Ali hingga mengeluarkan darah, kondisi luka juga ditemukan di bagian tangan dan kaki. Kapolsek Kramat Jati Kompol Nurdin mengatakan tangan Ali terluka diduga karena korban mencoba melakukan perlawanan.

“Ada luka di pelipis, tangan, dan kaki korban. Tangan luka mungkin korban melawan, dia (korban) bukan warga situ, mungkin lagi main ke rumah temannya,” ujar Nurdin saat dihubungi detikcom, Senin, 16 April 2018.

Setelah mengumpulkan sejumlah barang bukti, polisi kemudian memburu Paul, yang menjadi tersangka pembunuhan tersebut.

Loading...

Petrus ditangkap di rumah kontrakan kakaknya di Jalan Raya Serang, Sukadami, Cikarang Selatan, pada Selasa, 17 April 2018 pukul 06.45 WIB.

Paul kemudian langsung dibawa ke Mapolres Jakarta Timur untuk menjalani pemeriksaan. Polisi mengatakan Paul tega menghabisi Ali dengan senjata tajam karena dendam.

“Pelaku melakukan pembunuhan diduga sakit hati dan dendam terhadap korban.

Pelaku juga kesal karena korban minta foto badan dan kemaluannya kepada tersangka,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur AKBP Sapta Maulana, Selasa, 17 April 2018.

Sapta menjelaskan korban meminta foto tersebut melalui aplikasi chatting WhatsApp. Sapta menambahkan, pelaku pun akhirnya bertemu dengan korban, kemudian melukainya hingga tewas.

“Pelaku dan korban ini bertemu dan di situlah pelaku menghabisi nyawa korban,” ungkap Sapta.

Belum diketahui apakah keduanya telah saling mengenal sebelumnya. Selain itu, Paul marah karena dimasukkan ke dalam grup WhatsApp LGBT.

“Anak itu dimasukkan ke grup WA yang LGBT itu, tapi dia bukan pelaku, maka dia marah kenapa dimasukin ke dalam grup itu.

Akhirnya di situ dia disuruh memotret barang yang tidak bisa ditampilkan.

Dia marah dan manggil dia,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa, 17 April 2018. (***)

sumber: detik.com

 

Loading...
Loading...