RAGAM

Rakyat Miskin, Dari Pelaku Penjarahan dan Pembakaran Menjadi Korban Tragedi Mei 1998

Kamis | 10 Mei 2018 | 0:35

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Seorang peneliti dari Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) Razif berpendapat bahwa Monumen Mei 1998 yang didirikan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur sedikit banyak dapat merehabilitasi nama rakyat miskin yang dianggap hanya sebagai pelaku penjarahan dalam Tragedi Mei 1998.

Menurutnya pada Mei 1998 rakyat miskin khususnya yang berkemampuan ekonomi rendah selalu diposisikan sebagai pelaku penjarahan. Namun setelah Komnas Perempuan, Komunitas Korban, Pendamping Korban, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang saat itu dipimpin oleh Gubernur DKI Jakarta meresmikan Monumen Mei 1998 pada tanggal 13 Mei 2015, rakyat miskin yang dulu selalu dianggap sebagai pelaku kini dianggap sebagai korban dari tragedi tersebut.

Razif berpendapat bahwa monumen tersebut dapat dianggap sebagai satu bentuk permintaan maaf dan pertanggungjawaban pemerintah dalam tragedi yang menewaskan ratusan hingga ribuan orang tersebut.

“Monumen Mei 1998 itu bisa dianggap sebagai bentuk permintaan maaf dan pertanggung jawaban pemerintah kepada rakyat miskin yang dulu selalu disebut sebagai pelaku penjarahan,” kata Razif di kantor ISSI di Jalan Batu Ratna III Nomor 9/D, Kramat Jati, Jakarta Timur pada Selasa, 8 Mei 2018.

Ia mengatakan bahwa dirinya sempat meniliti sebuah kampung di Klender Jakarta Timur yang bernama Kampung Kebon Singkong.

Dari wawancaranya dengan sejumlah warga tersebut ia menemukan bahwa pada saat terjadinya pembakaran Mal Klender pada 14 Mei 1998, warga yang datang untuk masuk ke dalamnya tidak berniat menjarah namun untuk mencari tahu tentang kabar kerusuhan dari oknum yang tidak bertanggung jawab.

Karena menurutnya, ada oknum yang memberitahu warga bahwa terjadi kerusuhan di Mal Klender yang membuat warga berbondong-bondong ke Mal tersebut. Namun setelah warga masuk ke dalam Mal tersebut terjadi pembakaran hebat yang membuat warga ikut terbakar di dalamnya.

Ia juga sempat mewawancarai seorang loper koran yang biasa berjualan di depan Mal tersebut. Dari wawancara tersebut ia menemukan bahwa situasi sebelum terjadinya pembakaran tersebut terbilang ganjil. Loper kotan tersebut mengatakan bahwa banyak warga yang berbondong-bondong masuk ke dalam Mal dengan wajah yang penuh kecemasan.

“Loper koran itu bilang kalo situasinya waktu itu beda. Orang-orang berbondong-bondong datang, tapi mukanya cemas,” kata Razif.

Razif menemukan adanya semacam pola yang sama dari beberapa kejadian penjarahan dan pembakaran di Jakarta dari hasil penelitiannya di beberapa titik di Jakarta seperti Mal Klender, Jatinegara, dan beberapa tempat lain ketika Mei 1998. Ia menemukan bahwa ketika kejadian tidak ada satu pun mobil pemadam kebakaran yang memadamkan api. Dari situ ia mengambil kesimpulan bahwa peristiwa tersebut telah direncanakan sebelumnya meski ia tidak bisa menunjuk pihak yang merencanakannya.

“Dari beberapa titik itu nggak ada mobil pemadam kebakaran sama sekali. Biasanya kan mereka selalu sigap kalo ada kebakaran,” kata Razif.

Ia berpendapat setidaknya ada tiga faktor yang mengawali terjadinya Kerusuhan Mei 1998 di beberapa tempat di Jakarta. Pertama adalah berkurangnya pasokan pangan, melemahnya rupiah hingga Rp 18 ribu per US$ dari awalnya Rp 2,5 ribu per US$, serta adanya kesenjangan pendidikan antara sekolah swasta dan sekolah negeri.

Dari tiga faktor tersebut ia menemukan situasi yang aneh sebelum terjadinya kerusuhan tersebut. Ia memperhatikan bahwa ketika itu orang-orang banyak berdatangan ke pusat pertokoan untuk membeli bahan pangan. Ia menduga, masyarakat ketika itu cemas karena semakin berkurangnya pasokan pangan.

“Orang-orang sebelum itu dateng ke toko-toko, beli empat sampe lima kantong beras. Dulu kan dijualnya yang 20 kiloan per kantong. Harganya waktu itu mungkin sekitar puluhan sampai ratusan ribu,” kata Razif.

Razif yang ketika itu masih bergabung dengan Tim Relawan Kemanusiaan Sandyawan Sumardi juga mengatakan bahwa setelah penjarahan dan pembakaran yang terjadi di sekitar wilayah Jakarta itu warga di perkampungan Ibu Kota menjadi was-was dan saling curiga dengan satu sama lain.

Hal itu membuat suasana di beberapa perkampungan di Jakarta menjadi mencekam. Dari situ ia melihat bahwa ada pihak-pihak yang sengaja mengadu domba rakyat miskin kota.

“Suasana waktu itu mencekam. Satu kampung curiga dengan kampung lain yang berdekatan. Takut kampung lain akan menyerang dan menjarah mereka,” kata Razif.

Ia juga berpendapat bahwa tragedi tersebut menimbulkan trauma yang dalam di beberapa tempat di Jakarta. Menurutnya beberapa bekas trauma tersebut tampak di pintu pagar rumah yang sengaja dibuat tinggi.

“Coba aja ke Pinangsia. Itu pagarnya tinggi-tinggi baru sejak 98,” kata Razif. (***)

sumber: tribunnews.com

Editor :