KRIMINALITAS

SADIS!! Penganiayaan Diman yang Berlangsung Di Teras itu Menewaskan Sang Ibu dan Istrinya Kritis, Begini Kronologinya

Kamis | 10 Mei 2018 | 2:30

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Dua perempuan, Enung Juariyah (60) dan Hera (30), mengalami penganiayaan keji, Selasa, 8 Mei 2018.

Meski empat dibawa ke Rumah Sakit Sartika Asih namun Enung Juariyah tak terselamatkan.

Ia mengalami pendarahan di bagian kepala sehingga menekan otak kecilnya.

Hera (30) yang adalah menantu Enung Juariyah, terluka parah dan harus dirawat intensif di RS Al Islam Bandung.

Kisah dua perempuan ini makin memprihatinkan karena pelaku penganiayaan keji merupakan orang terdekat keduanya.

Sang pelaku bernama Diman Julianto (29), anak kandung Enung Juariyah dan suami Hera.

Diman Julianto secara terbuka menganiaya ibu dan istrinya di teras rumah mereka di RT 5/8 Kampung Talun, Desa Batukarut, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.

Bahkan, aksi kekerasan sekitar pukul 19.00 WIB itu disaksikan banyak warga tapi teriakan histeris warga diabaikan Diman.

Warga yang menyaksikan peristiwa sadis itu pun tak kuasa membujuk Diman untuk menghentikan aksinya.

Warga justru khawatir, semakin dibujuk, Diman Julianto bisa semakin kalap terhadap korban juga warga.

Diman Julianto menganiaya ibu dan istrinya memakai cangkul dan arit (sabit).

Ketua RT 05 di Kampung Talun, Yaya Rohaya yang baru selesai salat Magrib serta mengaji mengaku kaget mendengar teriakan warga.

“Saat saya cek, warga sudah berkerumun di lokasi dan posisi Diman dan korban sudah di teras, sudah kejadian (penganiayaan),” katanya, Rabu, 9 Mei 2018.

Akibat penganiayaan Diman Julianto, Enung Juariyah dan Hera tergeletak tak berdaya di teras.

Pelaku pun tak beranjak dari tempat kejadian sembari tetap memegang dua senjata di tangannya, cangkul dan arit.

Tak banyak yang ia lakukan pascakejadian itu, hanya duduk lalu berdiri tapi tetap sambil memegang cangkul dan arit.

Diman sempat berulang-ulang bersikap seperti itu.

Disemprot pakai alat pemadam

Satu di antara keluarga Diman melaporkan peristiwa itu ke Polsek Pameungpeuk.

Mendapat laporan itu, Petugas dari Polsek Pameungpeuk dan Satreskrim Polres Bandung segera ke tempat kejadian.

Proses pengamanan Diman pun berlangsung cukup menegangkan.

Saat polisi datang ke lokasi kejadian, ia dan dua korbannya masih di dalam rumah.

Diman Julianto mengancam akan melakukan penganiayaan lagi.

Polisi berusaha bersikap persuasif, membujuk Diman Julianto tapi pelaku mengabaikan bujukan polisi.

Polisi, menurut warga, sempat melepaskan dua kali tembakan peringatan yang tetap tak digubris Diman Julianto.

Petugas terus berusaha menemukan cela untuk menangkap Diman.

“Saat tersangka lengah, petugas langsung menyemprot pelaku dengan APAR (alat pemadam api ringan) dari belakang,” kata Kapolres Bandung, AKBP Indra Hermawan di Mapolres Bandung, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu, 9 Mei 2018.

Setelah itu, Diman Julianto segera diringkus petugas.

Butuh waktu cukup lama bagi polisi untuk mendapatkan momen yang pas ketika konsentrasi pelaku terpecah.

“Kejadiannya pas sekitar pukul tujuh malam, dan berhasil diringkus sekitar pukul 10 malam lebih,” ujarnya.

Duga istri selingkuh

Polisi menyebut aksi Diman Julianto dilatarbekangi dugaan selingkuh yang dilakukan istrinya.

“Tersangka menduga istrinya pernah berboncengan dengan laki-laki dugaan selingkuh,” kata AKBP Indra Hermawan.

Diman juga sakit hati terhadap ibunya yang menyarankannya agar cerai dengan Hera.

Lebih jauh, polisi menduga ada yang ganjil dengan kondisi kejiwaan tersangka.

“Kami masih koordinasi dengan dokter dan psikolog terkait kejiwaan tersangka,” ujarnya.

Akibat perbuatannya itu, Diman Julianto terancam hukuman 15 tahun penjara.

Jarang gaul

Kejadian sadis itu membuat warga trauma. Sehari setelahnya, RT 05 di Kampung Talun tampak sepi.

“Sekarang di sini menjadi sepi, warga ketakutan dan trauma atas kejadian ini. Baru pertama kali kejadian seperti ini,” kata Ketua RT 05 di Kampung Talun, Yaya Rohaya.

Menurutnya, peristiwa itu tidak terduga, bertolak belakang dengan keseharian Diman Julianto.

Diman dikenal warga sebagai orang yang baik dan pendiam.

“Orangnya baik, jarang gaul karena jarang ada di kampung. Sok di luar karena kerja,” ujar Yaya Rohaya.

Menurutnya, jika ada keperluan adaministrasi ke RT, Diman sangat formal dan sangat sopan.

Padahal antara dia dan tersangka masih ada ikatan saudara.

Menurut Yaya Rohaya, Diman baru setahun tinggal bersama ibu dan istrinya, menempati rumah sang ibu.

Sebelumnya, Diman bersama sang istri tinggal mengontrak di luar kampung.

“Sebelumnya tinggal di luar, mungkin karena jauh ke tempat kerja. Pindah ke sini baru setahunan sejak dia sakit. Menikah baru dua tahun dan belum punya anak,” katanya. (***)

sumber: tribunnews.com

Editor :