TERORIS

Ekspresi Senyum Napi Teroris dan Penyelamatan Balita, Bikin Netter Ngelus Dada

Jumat | 11 Mei 2018 | 11:09

MEDIAKEPRI.CO.ID – Ekspresi senyum di wajah-wajah para napi teroris saat mereka menyerahkan diri pada Kamis 10 Mei 2018 kemarin masih terus menjadi tanda-tanya besar.

Pantauan TribunStyle.com, warganet mengaku mengelus dada dan gagal paham dengan makna senyum di wajah-wajah mereka yang sudah membuat sejumlah nyawa personel polisi melayang.

“senyum dalam maksud apa yaa, udah menghabisi nyawa malah senyum,” tulis seseorang dengan akun @anisasptnr lewat Instagram .

Seseorang dengan akun Twitter @ernestprakasa mengaku sesak dadanya.

“Dada sesak membayangkan nasib para polisi yg gugur karna disiksa dan dibunuh di Mako Brimob. Turut berduka teramat dalam. #KamiBersamaPOLRI,” kicaunya di Twitter.

Seorang warganet membandingkan ekspresi ganjil para napi teroris saat menyerahkan diri dengan perlakuan kejam mereka kepada jajaran polisi hingga berujung 5 nyawa melayang di pihak korps Bhayangkara.

Simpati kepada polisi bertambah dengan beredarnya video perlakuan polisi menyuapi para napi teroris dengan nasi bungkus dalam perjalanan ke LP Nusa Kambangan.

Tambah bersimpati lagi melihat seorang anak balita keluarga napi teroris aman dalam gendongan polisi saat drama penyerahan diri.

“Ini bayi anak dari seorang Napi teroris, aman dalam gendongan petugas polisi, adanya bayi ini jg tdk bisa serbuan scra sembrono, perlakuan manusiawi oleh polisi, berbeda jauh dr perlakukan keji bbrapa napi teroris thdp rekan2 mrk yg gugur & terluka parah #KamibersamaPolri ,” kicau Muhammad Guntur Romli di Twitter.

Seperti dilansir TribunnewsBogor.com, sebanyak 155 narapidana teroris di Mako BrimobKelapa Dua, Depok akhirnya menyerah pada Kamis, 10 Mei 2018.

Sebelumnya, terjadi kericuhan antara narapidana teroris dengan pihak kepolisian Mako Brimob sejak hari Selasa, 8 Mei 2018 malam.

Puncaknya adalah ketika 155 napi teroris menguasai tiga blok tahanan yaitu Blok A, Blok B, dan Blok C.

Tragisnya, dalam keributan itu, lima anggota polisi tewas dibunuh dengan berbagai cara brutal oleh para napi.

Bahkan seorang anggota polisi bernama Brigadir Polisi Iwan Sarjana disandera lebih dari 24 jam.

Setelah melakukan proses negosiasi yang cukup tegang dan alot, Brigarir Polisi Iwan Sarjama akhirnya dibebaskan dengan luka-luka dan lebam di seluruh bagian wajah serta tubuh.

Sebanyak 145 napi teroris menyerahkan diri setelah negosiasi, sementara 10 lainnya tetap bergeming.

Mereka baru benar-benar menyerah setelah polisi menyerukan peringatan melalui dentuman dan tembakan peluru.

Terlihat bahwa ekspresi para napi teroris ini tidak bisa ditebak dan menimbulkan tanda tanya.

Dilihat dari foto-foto di atas, para napi berbaris lalu menjalani pemeriksaan oleh para aparat kepolisian.

Mereka digeledah agar bisa dipastikan bahwa mereka tidak membawa senjata tajam maupun benda berbahaya lain. (***)

sumber: tribunnews.com

Editor :