BENCANA

Allahu Akbar “Jlegur” Warsini dan Wartini Jatuh Bangun di Bibir Jurang, Berlari Tanpa Menengok Puncak Merapi

Sabtu | 12 Mei 2018 | 6:33

MEDIAKEPRI.CO.ID – Sri Warsini (27) terkesiap saat wajahnya tak sengaja memandang ke arah puncak Merapi, Jumat, 11 Mei 2018.

Sesaat ia tak mampu bergerak menyaksikan asap pekat bergulung-gulung cepat membubung ke angkasa. Rumput di pondongan tangannya nyaris jatuh saking ia gemetar.

“Jlegurrrrr….langsung bergulung-gulung asap membubung di puncak. Sangat menakutkan Mas,” kata Warsini di rumahnya, dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman.

Warsini dan adiknya, Tri Wartini (26), saat itu tengah menyabit rumput di lereng barat bukit Kukusan. Mereka berangkat naik gunung sekitar pukul 06.30.

Jarak tempat ia dan adiknya “mugut” atau mencari rumput untuk pakan ternak sekitar satu kilometer saja dari puncak Merapi. Letusan freatik Merapi terjadi pukul 07.43

Dari tempat ia berdiri, Warsini bisa sangat jelas menyaksikan puncak Gunung Merapi yang pagi itu cuaca di sekitarnya sangat cerah. Tidak ada kabut menghalangi.

“Setelah agak sadar karena saya ini “kamitenggengen” (terpaku), rumput dan sabit saya lempar. Saya lari turun, teriak-teriak panik dan nangis” kata Warsini yang sore itu masih tampak syok dan kelelahan.

Bukit Kukusan adalah bagian punggungan bukit yang puncak sebelah timurnya disebut Gunung Kendil. Bentang bukit tinggi itu terlihat jelas dari gardu pandang Klangon.

Di lokasi itu hanya ada Warsini dan adiknya. Tiga pencari rumput lain warga Kalitengah Lor, yaitu Mbah Ratno, Bejo dan Rami, ada di lereng berbeda, dan lebih dulu datang sehingga kemungkinan sudah turun.

Perjalanan turun Warsini dan adiknya dari puncak bukit bukan masa-masa yang mudah. Mereka panik dan ketakutan, harus cepat turun, namun yang ada hanya jalan setapak selebar dua telapak kaki.

Sebelah kanan lereng berujung jurang sangat dalam, hulu Kali Gendol. Warsini yang gemetaran jatuh bangun sampai lima kali. Ia juga sempat terguling-guling di turunan curam.

“Saya hanya bisa bertakbir, Allahu Akbar! Allahu Akbar, kata saya, dan kami berusaha secepat mungkin turun. Gumpalan tebal itu seolah mengejar kami,” ungkap Warsini diamini adiknya.

Tri Wartini yang lebih muda, jauh lebih gesit ketimbang kakaknya. Beberapa kali ia jauh meninggalkan kakaknya.

Terpaksa balik lagi naik, dan menolong kakaknya yang ternyata jatuh bangun.

Tanpa menghiraukan semak, rumput berdaun tajam di sepanjang perjalanan turun, kakak adik ini akhirnya sampai di dekat tower air di kawasan Klangon.

Di lokasi itu terparkir dua sepeda motor mereka. Jarak dari lahan merumput ke parkiran motor sekitar satu kilometer. Dari situ ke rumah mereka juga sekitar satu kilometer.

Tenaga mereka nyaris habis. Ternyata mereka sudah dijemput suami Warsini yang menyusul dari rumah. Selain mereka sudah tidak ada seorangpun lainnya.

Setelah istrahat sebentar, Warsini memancal motornya ke sekolah anaknya di Srunen. Rupanya murid-murid SD Srunen sudah diungsikan ke Jambon, jauh di bawah dari dusun mereka.

Warsini pulang sebentar, tapi penduduk dusun sebagian sudah mengungsi.

Situasi pagi itu sangat mencekam, panik, dan tangis terdengar bersahut-sahutan.

Ia lalu pergi menyusul anaknya bersama suaminya. Sesudah situasi kembali tenang, mereka pulang ke rumah di Dusun Kalitengah Lor.

Sampai sore, rumput dan sabit serta kain gendong mereka masih tertinggal di puncak bukit Kukusan.

“Biar saja lah, nanti kalau sudah kuat ke sana,” lanjut ibu satu putri ini.

Menurut Warsini dan Wartini, pagi sebelum berangkat merumput, mereka sebenarnya merasakan ada keganjilan di puncak gunung.

“Ada suara ngosrong (seperti tiupan angin kencang). Jelas sekali suaranya, dan pepohonan di puncak sana tak bergerak,” kata Warsini.

Pengakuan ini dikuatkan pendengaran dan penglihatan yang sama oleh ayahnya, Wardi (57).

“Saya juga mendengar suara kemrongsong, seperti dari tubuh gunung,” aku Wardi.

Tanda lain, asap yang keluar dari kawah Merapi juga terlihat lebih tebal dari biasanya.

“Tebal dan pekat cokelat,” tambah Warsini. Keganjilan itu malah jadi bahan candaan mereka saat akan berangkat.

“Adik saya sempat nanya, nanti kalau njebluk piye, saya bilang, ya lari,” lanjutnya.

Candaan itu ternyata jadi kenyataan.

Keduanya mengalami peristiwa yang sangat menyeramkan tak jauh dari puncak Merapi.

Bahkan nyaris merenggut nyawa mereka.

Warsini mengaku saat lari turun tak pernah lagi menengok ke belakang.

Ia benar-benar ketakutan jika gulungan asap dari Merapi memburu dan melibas mereka.

“Takut kaya kejadian 2010,” timpal Wartini, sang adik.

Saat berbincang-bincang dengan Tribunjogja.com di dekat kandang ternak keluarga Wardi, mereka masih menyuguhkan wedang teh dan krupuk beras di tengah suasana yang panik setelah erupsi.

Keluarga itu memiliki empat ekor sapi perah dan simetal (pedaging). Warsini dan Wartini jadi tulang punggung keluarga tiap pagi, yaitu mencari rumput ke lereng Merapi.

Suami-suami mereka ikut buruh padat karya atau kadang mencari pasir di Kali Gendol.

“Biasanya selesai merumput sekitar pukul 8,” kata Warsini.

Sebelum tugas mereka tunai, ternyata pagi tadi mereka dipaksa lari lintang pukang mencari selamat saat Merapi “batuk” memuntahkan material vulkanik.

Pada 2010, keluarga itu kehilangan semua harta benda. Rumah mereka di Kalitengah Lor ludes tersapu awan panas.

Mereka akhirnya kembali membangun rumah di atas puing-puing, di Kalitengah Lor. Tawaran pindah ke hunian tetap di lokasi baru, ditolak sebagian besar warga.

Waktu itu mereka menolak karena takut kehilangan tanah temoat tumpuan hidup mereka jika pindah ke permukiman relokasi.

Peristiwa 2010 masih meninggalkan memori kuat yang membuat trauma. “Tadi gak ada sirine bunyi atau pengumunan mengungsi,” kata Wardi.

Pengungsian dilakukan mandiri, inisiatif masing-masing warga dengan sarana seadanya. Khusus untuk murid SD Srunen, dievakuasi menggunakan truk pengangkut pasir.

Menurut Tini, warga Kalitengah Lor yang membuka warung di Klangon, sempat terjadi beberapa kecelakaan kecil saat proses pengungsian.

“Tabrakan dan jatuh dari motor karena berebut jalan. Semua panik, dan ada yabg naik ada yang turun. Situasi ruwet pokoknya,” kata Tini.

Saat Tribunjogja.com tiba di Klangon tengah siang hari, sejumlah warga terlihat turun dari perbukitan membawa rumput. Situasi bergerak normal. (***)

sumber: tribunnews.com

Editor :