BATAM

Batam, Pernah Punya Sejarah Buruk dengan Terorisme, Sebagai Warga Batam Ini yang Harus Kita Lakukan

Senin | 14 Mei 2018 | 16:52

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam – Sebagai kota yang pernah memiliki sejarah buruk dengan terorisme, warga Batam patut waspada terhadap serangan-serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris berkedok jihad, agama dan sebagainya.

Jika kita menyegarkan kembali ingatan kita, Batam merupakan salah satu kota sasaran utama para teroris. Ini dibuktikan dengan Batam sebagai salah satu kota yang menjadi sasaran pertama kali gerakan teroris di Indonesia, 24 Desember 2000 malam, bertepatan dengan malam natal, selain Medan, Pematang Siantar, Pekanbaru, Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Pangandaran, Kudus, Mojokerto, dan Mataram.

Pada saat itu, ada 4 bom meledak di waktu yang hampir bersamaan kala itu. Bom-bom tersebut diledakkan di gereja-gereja, diantaranya Gereja Protestan Simalungun, Sungaipanas, Gereja Katolik Beato Damai, Bengkong, Gereja Bethay lantai 2 My Mart, Batamcentre (sekarang sudah tidak ada lagi) dan Gereja Patekosta, Pelita.

Aksi pengeboman ini pun langsung dilakukan oleh gembong nomor satu teroris, dr. Azhari yang ditembak mati di Batu Malang, Jawatimur, Imam Samudra dan Amrozi yang kini sudah dieksekusi mati, lantas adalagi beberapa pelaku kunci seperti Maslamet, Hambali, Tarmizi, Abdul Zabir, Syahid Jabir dan masih banyak lagi.

Batam juga kerap dijadikan tempat merencanakan pengeboman ke sejumlah tempat bahkan negara tetangga. Kita pasti belum lupa dengan nama Gigih Rahmat dan Bahrum Naim, dua teroris yang ditangkap polisi di Batam karena ingin meluncurkan roket bom ke Marina, Singapura, Agustus 2016 silam.

Ya, sebagai warga Batam kita patut tingkatkan kewaspadaan, bukan hanya kewaspadaan dimana kita berada dan takut akan terkena bom, tapi juga kewaspadaan terhadap orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang tidak dikenal yang mungkin tinggal bertetangga dengan kita.

Kapolresta Barelang, Kombespol Hengki Senin, 14 Mei 2018 telah meningkatkan pengamanan di Batam, dimulai dari Mapolresta Barelang, terkait serangan di Mapolrestabes Surabaya.

Semua gerbang di markas polisi itu ditutup pintu besi. Setiap orang yang mau masuk pun digeledah dan wajib menunjukkan kartu identitas, tak peduli ia menggunakan mobil, motor maupun berjalan kaki.

Kapolsek Batam Kota, Kompol Firdaus mengimbau kepada seluruh masyarakat Batam Kota terlebih para Ketua RT dan RW serta tokoh masyarakat dan tokoh agama, untuk memberikan pemahaman-pemahaman positif bagi warganya, agar tidak mudah terpropokasi dengan isu-isu SARA yang mungkin sedang banyak dihembuskan melalui media sosial dan lain sebagainya.

Firdaus juga meminta agar perangkat RT RW kembali melakukan pemantauan terhadap warganya, terlebih anak-anak kos yang mungkin belum melapor, atau bahkan menimbulkan gerak-gerik yang mencurigakan.

“Kami mohon bantuan kepada RT, RW, dan tokoh masyarakat, agar ikut bersama-sama memrangi radikalisme dan terorisme ini. Bantu kami dengan memantau gerak-gerik warga yang baru, anak-anak kos yang kurang beradabtasi dan bergaul dengan warga, dan segera laporkan ke kami jika mencurigai, melihat hal-hal yang di luar batas-batas kewajaran,” harap perwira melati satu ini.(bosanto)

sumber: batampro.id

Editor :