INSPIRASI

Beratnya Pengisi ‘Tjorat-Tjaret Hari Saptoe’ di Kolom Pewarta Soerabaia Jalani Hidup Sebagai Seorang Jurnalis

Senin | 28 Mei 2018 | 5:16

MEDIAKEPRI.CO.ID – Tidak banyak orang yang akan mengenalnya. Apalagi bagi orang yang kurang suka dan jarang untuk membuka peristiwa lama dalam bentuk tulisan. Tapi memang dimaklum, agak sulit mengenal penulis. Tetapi seorang penulis akan dikenal melalui hasil karya tulisannya.

Ia adalah Kwee Thiam Tjing. lelaki keturunan ini adalah seorang jurnalis yang lahir di Pasuruan Jawa Timur. Dalam perjalanan karirnya, ia tercatat mempunyai kolom khusus di kolom Pewarta Soerabaia yang bernama “Tjorat-Tjaret Hari Saptoe” yang diisinya dari 12 Juli 1924 – 7 Maret 1925. Lalu, ia juga mempunyai kolom khusus dalam kolom Soeara Poeblik yang diberi nama “Pridato Hari Saptoe”.

Ia pertama kali menulis mulai 8 April 1925 hingga 11 Juni 1929, selain itu ia juga memiliki kolom khusus di kolom Matahari yang bernama “Ngelamoen Malem Minggoe”, “Oering-oeringan” dan “Gandjelan” dari tanggal 1 Oktober 1934.

Kwee Thiam Tjing meninggal di Jakarta, 28 Mei 1974 pada umur 74 tahun) adalah seorang jurnalis Indonesia. Ia menempuh pendidikannya di ELS (Europeesch Lagere School) di kota Malang dan kemudian terjun ke dunia jurnalisme.

Ia menguasai bahasa Belanda, Jawa, Madura, dan Hokkian. Bahan-bahan tulisannya mencakup segala lapisan masyarakat: kawan-lawan, lelaki-perempuan, tua-muda dan lain-lain.

Pada 1926, ia dikenai sembilan delik pers, sehingga terpaksa mendekam selama sepuluh bulan di penjara Kalisosok, Surabaya dan penjara Cipinang, Jakarta. Kejadian ini dicatat dalam artikel “Tanggal Paling Tjilaka” di Soeara Publiek, Surabaya 5 Januari 1926.

Tulisan-tulisannya banyak dimuat di berbagai penerbitan saat itu, seperti Pewarta Soerabaia, Soeara Poeblik (menjadi Hoofredactuer antra 20 Juni – 12 Juli 1929 baca Satoe peladjaran dalem pengidoepan), Sin Tit Po, Matahari Semarang[1] hingga Indonesia Raja. Kwee sendiri mengelola langsung Pembrita Djember. Ia juga menulis karya dengan nama samaran Tjamboek Berdoeri.

Pada pertengahan 1947 kota Malang berubah menjadi lautan api. Kwee melaporkan kejadian-kejadian itu dengan cermat hingga tragedi Mergosono yang mungkin telah banyak dilupakan orang.

Berbagai kejadian yang diamatinya itu, termasuk masa-masa sebelumnya yang terjadi pada masa paling kacau di Indonesia (1939-1947) ditulisnya dalam sebuah buku setebal 200 halaman dengan menggunakan kertas merang, tanpa penerbit (ternyata Perfectas Di Petjinan Malang sebagai penerbitnya) dan nama pengarang (namun Kwee Thiam Tjing sendiri memberikan pengantar di buku tersebut menggunakan nama aslinya). Isinya adalah sebuah catatan peringatan untuk anak-cucu, sebuah kenangan yang diberinya judul “Indonesia dalem Api dan Bara”.

Setelah terbitnya buku kenangan itu, Kwee lama menghilang dari dunia jurnalisme Indonesia. Baru 24 tahun kemudian ia mendadak muncul kembali dalam sebuah tulisan semacam obituari di harian “Indonesia Raya” yang dikelola Mochtar Lubis. Tulisannya muncul dalam 34 judul dengan 91 edisi penerbitan selama 1971-1973.

Pada akhir Mei 1974, Kwee meninggal dunia dan dimakamkan di pemakaman Tanah Abang I (kini Taman Prasasti) di Jakarta. Ketika pemakaman Tanah Abang I digusur, makam Kwee digali kembali dan tulang-belulangnya dikremasikan dan abunya ditabur ke Laut Jawa. (***)

sumber: www.wikipedia.org

Editor :