WAKIL RAKYAT

Khofifah-Emil Unggul di Jatim, 3 Hal Ini yang Menjadi Faktor Kemenangannya

Kamis | 28 Juni 2018 | 18:30

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Hasil quick count Pilgub Jatim yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei menunjukkan kemenangan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak atas Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dengan kisaran angka 53 persen vs 46 persen.

Pengamat menilai kemenangan tersebut terlihat dari tren dukungan suara terhadap pasangan Khofifah-Emil yang semakin naik selama 4-5 bulan terakhir, sedangkan suara Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno tertahan.

Pengamat Politik dari Universitas Airlangga (Unair) Airlangga Pribadi Kusman menyebutkan, ada tiga hal yang menjadi faktor kemenangan pasangan Khofifah-Emil atas Gus Ipul-Puti.

Pertama, strategi populisme elektoral yang dijalankan oleh Khofifah-Emil.

“Mereka langsung menyentuh lapisan terbawah dari pemilih menjadi strategi utama yang dilakukan oleh pasangan ini,” kata Pribadi Kusman, Kamis, 28 Juni 2018.

Hal ini membuat hubungan dan identifikasi politik antara Khofifah-Emil dan pemilih bersifat langsung.

“Hal ini yang juga terjadi dalam strategi kemenangan pasangan Gubernur Jakarta Jokowi-Ahok pada 2012 lalu,” ucapnya.

Kedua, pertarungan pilgub Jawa Timur di tengah popularitas yang optimal antara Khofifah dan Gus Ipul sangat ditentukan oleh perolehan dukungan yang didapat oleh wakilnya, Emil Dardak vs Puti Guntur Soekarno.

“Dalam beberapa debat yang berlangsung, Emil berhasil menunjukkan dirinya sebagai figur pemimpin muda, berkapasitas, berani dan cerdas. Ini menjadi rujukan dari para pemilih di Jawa Timur,” katanya.

Ketiga, satu faktor yang menentukan adalah langkah cantik dari Gubernur Jatim, Pakde Karwo, yang pada detik-detik terakhir melansir surat terbuka kepada masyarakat Jawa Timur untuk memilih pasangan Khofifah-Emil dengan pertimbangan kapasitas calon.

“Basis dukungan Pakde yang masih kuat baik dikalangan basis Mataraman maupun Kiai ikut memberikan kontribusi suara kepada pasangan Khofifah-Emil Dardak,” kata CEO Initiative Institute itu.

Sementara itu, peneliti senior Surabaya Survei Center (SSC), Surokim Abdusalam, Kamis, 28 Juni 2018 menyampaikan strategi mengikat massa bawah Khofifah menyentuh rasa hingga punya ikatan batin kuat dan tidak mudah berubah.

“Sehingga massa bawah mudah mengidentifikasi diri sebagai pendukung fanatis. Emil effect ada pergerakan suara rasional dan Khofifah memeroleh tambahan ceruk dari Emil, yang mengimpresi pemilih milenial rasional,” katanya.

Pemilih kultural Nahdlatul Ulama berbalik mendukung Khofifah karena melihat Khofifah sebagai kekuatan arus bawah.

Hal itu semakin meneguhkan pemilih Jawa Timur untuk bergerak rasional dan lebih banyak mempertimbangkan kompetensi, kualitas paslon, serta figur yang berkontestasi.

“Saya melihat tetap faktor undecided voters dan swing voters yang memberi pembeda, sebagian besar pemilih milenial dan pemilih rasional,” ucap Dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura itu.

Menurut dia, sebenarnya faktor Puti Guntur Soekarno harus diberi apresiasi karena bisa membuat solid suara internal kelompok nasionalis.

Tapi untuk suara eksternal di luar itu, tidak cukup bisa meyakinkan pemilih di luar kelompok nasionalis.

“Penentu kemenangan Khofifah-Emil karena sumbangan signifikan dari pemilih milenial-rasional,” katanya.

Surokim megatakan, pemilih pemula juga sebagian besar mendukung paslon 1 karena impresi Emil Dakdak yang memiliki kompetensi dan kapasitas yang menonjol.

“Ini semakin menegaskan bahwa pemilih Jawa Timur bergerak signifikan memilih atas pertimbangan rasional dan pertimbangan sosiologis, psikologis menjadi komplementer, tidak lagi jadi yang utama,” ucapnya. (***)

sumber: tribunnews.com

Editor :