RAGAM

Pilu, Seorang Ayah Setuju Pencarian Korban KM Sinar Bangun Dihentikan, Ini Alasannya

Senin | 02 Juli 2018 | 9:15

MEDIAKEPRI.CO.ID, Simalungun – Setelah menetapkan hari penutupan pencarian yakni Selasa, 3 Juli 2018 dan akan membangun monumen tragedi KM Sinar Bangun, beberapa keluarga korban memberikan tanggapannya.

Lasma (53), seorang ayah yang kehilangan putrinya bernama Siti Arbiah (23) mengaku telah ikhlas menerima penghentian pencarian 164 korban hilang.

Ia mengatakan tidak tega melihat tubuh anaknya dalam keadaan tidak utuh.

Ia hanya berharap anaknya dapat diterima di sisi Tuhan.

“Saya setuju ini dihentikan. Karena kalau dapat pun tubuh anak saya sudah hancur,” ujarnya sembari menangis sembari menunjukkan foto putrinya bersama pacarnya, Alfaro Siahaan pada acara pertemuan antara keluarga korban dengan tim pencarian di Balai Harungguan Djabanten Damanik, Pemtangraya, Kabupaten Simalungun, Ahad, 1 Juli 2018.

Ia mengungkapkan dari tiga anaknya, Siti Arbiah merupakan anak kesayangannya. Apalagi, rencananya Desember ini akan melangsungkan pernikahan.

“Saya terakhir ngobrol itu pas lebaran. Apapun dia minta saya kasih. Karena memang sayang sekali saya sama dia,” ujar warga Siantar ini.

Hal berbeda disampaikan Sri Santika (25), korban selamat yang masih dirundung kesedihan karena kehilangan suaminya, Muhamad Irfan (22).

Sri menilai jika ditambahkan waktu pencarian suaminya dapat ditemukan.

“Sebenarnya tidak setuju. Kalau ditambah harinya bisa saja mayat suami saya dan teman-teman suami saya dapat ditemukan,” ujarnya ketika hendak pulang dari pertemuan dengan tim Basarnas gabungan.

Warga Batubara ini merupakan satu dari 21 korban yang selamat.

Sri yang sedang mengandung dua bulan ini selamat atas pertolongan pelampung yang diberikan tiga orang laki-laki. (***)

sumber: tribunnews.com

Editor :