OPINI

Anak Muda dan Motor Cempreng

Senin | 13 Agustus 2018 | 11:36

Oleh: Nofriadi Putra

Secara biologis masa anak muda adalah rentan waktu setelah masa anak-anak sampai pada masa sebelum dewasa. Faktor yang membedakannya dalam sebuah keluarga terletak pada sebuah tanggung jawab. Dalam hal tanggung jawab inilah kondisi-kondisi tertentu membatasi antara anak muda dengan orang dewasa.

Diawali dari lingkungan sosial yang terkecil yaitu keluarga. Anak muda diberi tanggung jawab yang besar dari anak-anak. Sedangkan, orang dewasa sudah pasti memenuhi hampir seluruh tanggung jawab dalam hal apa saja menyangkut kebutuhan dalam keluarga. Anak muda di Indonesia rata-rata masih berstatus sebagai anak sekolahan. Dalam pandangan ini dapat diambil sebuah benang merah yang bisa menyatakan bahwa anak muda bisa disebut dengan remaja.

Remaja atau anak muda dengan gayanya sendiri belum memiliki karakteristik yang utuh. Kerap sekali berubah-ubah. Remaja (anak muda) tidak mau dikatakan sebagai anak kecil dan belum dikatakan sebagai orang dewasa yang sudah mempunyai tanggung jawab secara ekonomi, sosial serta moral dalam keluarga. Sibley menjelaskan (dalam Chris Barker, 2005:425), “Anak muda tetap merupakan klasifikasi ambivalen yang diperebutkan, klasifikasi yang terikat di antara batas-batas masa anak-anak dan masa dewasa”.

Dilihat lebih jelas, makna remaja memiliki makna yang berbeda-beda dalam tiap waktu dan ruang. Tergantung kepada kondisi dan lingkungan yang ada pada remaja berada. Pada intinya, remaja belum diberi sebuah ruang yang dapat dimasuki oleh orang dewasa. Salah satu dunia orang dewasa yang belum boleh dimasuki oleh remaja itu adalah dunia seksual.

Melihat perkembangan remaja pada saat ini, kita seolah dihadapkan pada sebuah gaya dan caranya sendiri dalam ruang publik. Kebanyakan dari remaja sekarang justru memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal gaya, musik, fesyen dan dengan motornya. Kalau bisa dibaca remaja sekarang tampil dengan gaya dan kulturnya sendiri sebagai bagian dari perkembangan sebuah teknologi dan media informasi yang terus berkembang.

Salah satu bentuk gaya remaja sekarang yang dapat dilihat adalah bagaimana gaya, penampilan dan cara berkendara dalam menggunakan motor. Kerap sekali, di jalanan sering terlihat tampilan-tampilan motor yang dipreteli dan dimodifikasi sehingga berbeda dari bentuk produk asli hasilan pabrik. Dapat dicermati dan didengar pada bunyi knalpot dengan modifikasi yang cempreng, keras dan kasar. Secara tidak langsung, kita yang menyaksikan dan mendengarkan seperti mendengarkan sebuah dentuman yang memekakkan telinga.

Selain itu, remaja dengan motor cemprengnya di jalan raya juga memberikan kecemasan terhadap para pengguna jalan raya yang lain. Penulis pikir remaja dengan motor cempreng di jalan raya bukan suatu jalan keluar bagi persoalan-persoalan yang dihadapinya di sekolah, seperti nilai buruk serta tingkah laku yang ugal-ugalan. Melainkan sebuah subkultur motor cempreng yang mengorganisasi aktif berbagai benda melalui cara-cara membawa motor, dengan ritme yang terkadang-kadang menghasilkan bunyi simbolis yang penuh gaya seolah menyampaikan pesan kelelakian, ketegarannya sebagai identitas remaja.

Remaja memiliki semangat yang sering kita anggap sebagai semangat yang berapi-api. Seringkali motor yang mereka gunakan berbeda dengan motor yang ada. Begitu juga dengan bunyi knalpot dan cara berkendara.

Remaja terlihat lebih berani dalam mengendara dengan kebutan serta dengan mengangkat ban depan sambil berdiri. Bahkan, seringkali berbeda dari mainstream berkendara yang ada atau bisa dikatakan sebagai sebuah subkultur yang akan memberi identitas pada remaja. Barker (2005: 427) menjelaskan tentang subkultur adalah “…Keragaman yang ada pada kolektivitas yang lebih luas yang secara gampang, tapi sebenarnya problematik, di tempatkan sebagai yang normal, rata-rata dan dominan. Dengan kata lain subkultur dikutuk dengan dan/atau menikmati suatu kesadaran “kelainan” atau perbedaan.”

Jadi subkultur motor cempreng dapat disimpulkan sebagai sebuah perlawanan terhadap kemapanan mengendarai motor. Subkultur di sini adalah remaja dengan motor cemprengnya, serta bentuk-bentuk motor yang banyak di modifikasi dan dipreteli dengan mengahsilkan bentuk yang baru. Terkesan remaja memberi perlawanan terhadap mainstream yang telah ada yaitu ruang dewasa yang penuh tanggung jawab.

Dengan demikian, gaya anak muda dan motor cempreng adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat tidak sebagai sebuah fenomena yang hadir di telinga dan mata kita. Suara keras, dan kebut-kebutan di jalanan yang dilakukan remaja secara tidak langsung telah menggambarkan identitasnya sebagai remaja itu sendiri. Akibatnya, menimbulkan kecemasan bagi para pengguna jalan yang lain. Kecemasan atas terjadinya kecelakaan-kecelakaan jalan raya. Willis lebih menjelaskan (dalam Barker 2005: 430), “Kesolidan, kecekatan, resiko, kekutan motor itu cocok dengan sifat dunia para bikeboys yang konkrit dan aman.”

Pada hal-hal konkrit, cara berkendara dengan kebutan dan mengangkat ban depan serta suara cempreng dan kekuatan ini adalah ciri dari interaksi sosial mereka terhadap lingkungan sosial. Suara kanalpot yang kasar cocok melambangkan kesetiakawanan yang kasar terhadap sosial mereka sesama pencinta motor cempreng. Ketika mereka berkendara di jalan raya, para motorbike dengan suara cempreng seperti menjinakkan suatu teknologi yang menakutkan menunjukkan kepada kita atas teror-teror teknologi mesin (motor).

Dalam hubungannya dengan teknologi dan industri, maka para anak muda dan motor cempreng merupakan kerja kreatif, ekspresif dan simbolis kultur yang bisa dibaca sebagai bentuk-bentuk perlawanan salah satunya dalam berkendara yang mapan. Dalam hal ini adalah perlawanan terhadap institusi sosial yang telah mapan, yaitunya masa dewasa yang penuh dengan tanggung jawab secara ekonomi. Merujuk kepada asumsi bahwa masa remaja menuju masa dewasa normalnya melibatkan pemberontakan, yang merupakan tradisi kultural yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Memasuki sebuah gerbang modern dengan berbagai hasil teknologi. Remaja dengan motor cemprengnya di masyarakat membutuhkan arahan-arahan dan pertolongan serta saran profesional. Di sebabkan telah banyaknya barang-barang teknologi yang menjadi objek kultur sebagai apresiasi terhadap benda tersebut. Saran-saran profesional itu bisa saja berupa penyaluran bakat dengan memberikan ruang bagi mereka seperti sirkuit yang memadai. Lebih lanjut bisa berupa arena penyaluran bakat mereka sesuai dengan kemampuan mereka dalam berkendara. Demi tercapainya sebuah kondisi kondusif di jalan raya.

Satu hal yang sangat mencemaskan yang telah disinggung sebelumnya, dan perlu diantisipasi terhadap remaja adalah bagaimana cara mereka memasuki dunia dewasa (seksual). Untuk hal inilah dibutuhkan arahan-arahan. Bagaimanapun anak muda dan motor cemprengnya adalah sebagai bentuk apresiasi kultur dari barang teknologi (motor) yang menghindarkan mereka dari dunia seksual yang belum saatnya.

Selama masih dalam ruang dan kultur yang wajar, remaja dengan motor cempreng musti diberi arahan-arahan terhadap perbuatan yang menunjang mereka untuk mapan sesuai dengan profesi yang mereka sukai seperti menjadi seorang pembalap motor dengan segudang prestasi. Tujuannya untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam proses menuju dunia dewasa oleh remaja. Contohnya, prilaku menyimpang seperti sek bebas dan kenakalan yang lain seperti memakai narkoba dan alkohol.

Sesuai dengan harapan orang tua. Khususnya, bagi kita yang telah mempunyai tradisi dan kultur yang telah ditanamkan sejak lama, di mana pemeo dari tradisi kita ada mengatakan “anak dipangku, kemenakan dibimbing”. Serta merta dalam pengarahan ini dilibatkan seluruh institusi dalam pengawasan lebih dekat terhadap perkembangan gejala remaja yang berusaha menjauhi masa anak-anak dan berusaha untuk mendekati dunia orang dewasa. Perihal yang penting sekali adalah pengontrolan remaja terhadap prilaku serta menghindarkan mereka (remaja) dari prilaku menyimpang dan pengaruh narkoba seta alkohol yang merusak. Sehingga remaja yang berprestasi bisa di harapkan nanti di masa depan sesuai yang diinginkan yaitu dewasa yang mapan.*

Penulis adalah pegiat dalam komunitas Ruang Sempit

Editor :