BATAM

Keluarga Dorkas Siap Hadirkan Hartono, Bila Polisi Tak Sanggup

Kamis | 06 September 2018 | 19:47

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batam- Keluarga  Dorkas Lominori, SH mendesak pihak kepolisian untuk menghadirkan Hartono selaku pelapor di Polresta Barelang agar kasus yang tengah menjeratnya itu, menjadi terang benderang lantaran kasus tersebut merupakan delik aduan.

Dorkas yang saat ini sedang ditahan di sel Mapolresta Barelang itu menyatakan keluarganya sanggup mengembalikan uang Hartono, asalkan yang bersangkutan selaku pelapor dihadirkan di kantor Polresta Barelang.

“Uang yang diminta Hartono, keluarga saya menyanggupinya, walaupun anak kami tidak pernah menjual warisan suaminya ke Anda (Hartono). Asalkan dia (Hartono) hadir di Polresta. Jangan bersembunyi,” tegas keluarga Dorkas yang ditemui mediakepri.co.id, Kamis, 6 September 2018.

Dikatakan Dorkas, berdasarkan hasil rekaman yang diperolehnya, Hartono selaku pelapor meminta untuk menyiapkan uang Rp250 juta tanpa kehadiran Hartono yang kemudian naik menjadi Rp600 juta.

“Ini rekaman dari orang dekatnya Hartono. Banyak saksi yang mendengar rekanan ini,” beber Dorkas.

Dorkas menegaskan, penahanan terhadap dirinya saat ini dinilainya ilegal. Karena sejak pelaporan Hartono  pada  2012 hingga saat ini,  dirinya belum pernah di BAP. Selain itu, pihaknya juga menolak menandatangani surat, dikarenakan keterangan yang disampaikan tidak sesuai  yang diprint.

Dorkas mengakui bahwa uang Rp250 juta itu ditransfer oleh Hartono ke rekeningnya sebanyak 5-6 kali. Dirinya terima karena hubungan kerja saat itu masih harmonis yakni ia sebagai kepala cabang kantor hukum.

“Jadi uang yang ditransfer itu bukan untuk beli lahan warisan dari suami saya. Tapi dia transfer uang itu, karena hubungan kerja. Tapi sekali lagi, keluarga saya siap memenuhi permintaan Hartono itu, tapi bukan menjual warisan suami saya ke dia,” pungkas Dorkas.

Dorkas juga menyayangkan atas tindakan aparat kepolisian saat menjemput dirinya dari kantor hukum tanpa diketahui oleh keluarganya. Bahkan anaknya mengetahui, setelah dirinya sudah ditahan di dalam sel Polresta Barelang.

Parahnya lagi, penangkapan tersebut tanpa ada surat perintah penangkapan, tapi saat itu pihak kepolisian hanya membawa surat pemanggilan sebagai saksi. Selain itu, penangkapan itu tidak diketahui oleh Ketua RT RW setempat.

“Bayangkan! Saya ini seorang perempuan. Masa dijemput dengan tujuh orang polisi, lengkap dengan senjata. Memang saya ini seorang teroris atau apa. Ini yang saya menilai tindakan aparat kepolisian sangat kelewatan,” tegasnya.

Dikatakan Dorkas, pihaknya tidak pernah menerima surat panggilan dari pihak kepolisian sebelumnya.

“Saya tidak pernah menerima surat panggilan sebelumnya. Tapi kata polisi waktu sidang praperadilan, mereka (Polisi) bilang surat panggilan itu disampaikan ke RT RW. Pertanyaannya, kenapa saat sidang praperadilan, kenapa RT RW tidak dihadirkan oleh Polisi?,” ungkap Dorkas.

Dorkas mengatakan, kasus tersebut sebelumnya pernah masuk di Kejaksaan Negeri Batam pada 2016 lalu, tapi ditolak karena dinilai tidak cukup bukti (novum).

“Menjadi pertanyaannya, kenapa sekarang diangkat lagi? Memang ada motif apa dibalik kasus ini?,” tanyanya.

Dorkas juga membantah keras bahwa saat dirinya dijemput hingga berusaha telanjang. Itu menurutnya, sebuah fitnah yang sangat keji dan tidak betul.

“Sekali lagi pihak keluarga minta Hartono dihadirkan biar jelas kasus ini. Apalagi tidak ada bukti jual beli lahan seperti yang dituduhkan,” tutupnya.(*)

Editor :