Senin | 23 September 2019 |
×

Pencarian

AOK

Catatan Tiga Tahun Kepemimpinan Awe-Nizar di Lingga (bagian 2)

Selasa | 26 Februari 2019 | 13:55
catatn awe-nizar

Aktivitas ‘Tikus’ Birokrasi Obrak-abrik Jabatan di Pemerintahan

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Pesta perayaan tiga tahun kepemimpinan Awe-Nizar telah berlalu. Seluruh jajaran bekerja keras untuk mensukseskan perayaan yang tiap tahun diadakan tersebut. Lebih kurang seminggu berlangsung, dan pesta itu berjalan dengan sukses.

Layaknya sebuah pesta, tahapan akhirnya tentu ada bagian ‘cuci piring’. Kegiatan yang berlangsung lebih dan kurang satu minggu, dengan persiapan sekitar satu bulan, tentu ada pertanggungjawabannya. Kenapa? sederhana jawabannya, karena pesta itu berlangsung dan berjalan dengan menggunakan dana rakyat.

BERITA TERKAIT

Menengok Aktivitas ‘Tikus’ Birokrasi di Pemerintahan

Bayangkan, tiga tahun kepemimpinan Awe-Nizar memimpin Lingga. Begitu banyak dana rakyat melalui Anggaran Pengeluaran dan Belanja Daerah (APBD) yang dipergunakan. Setiap rupiah yang dipergunakan ini pun wajib untuk dipertanggungjawabkan. Dan legalitas penggunaan anggaran tersebut dilakukan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lingga. Urusan penganggaran dan pengesahan anggaran masalah legislatif dan eksekutif.

Yang menarik untuk dilirik tentang eksistensi oknum ASN dalam kepemimpinan Awe-Nizar. Gerakan mereka yang masif dan terstruktur ini patut dipelototi. Hanya karena merasa berdarah-darah saat berjuang, oknum ini membenarkan segala macam hal yang dilakukannya hingga menjadi sesuatu yang dianggapnya benar.

Sejumlah pejabat di Pemkab Lingga yang baru dilantik untuk ikut mensukseskan program kerja Awe-Nizar

Sebelumnya, Bupati Lingga, Alias Wello yang akrab disapa Awe melantik sejumlah pejabat di jajarannya. Ia menegaskan hal ini bagian penyegaran, seperti lazimnya mutasi yang laksanakan. Kepada pejabat yang baru dilantik, Awe meminta ASN agar cepat bekerja sehingga dalam 100 hari kedepan.

”Saya sudah melakukan hitungan sampai dengan awal Juni nanti, terhitung dari seratus hari kerja untuk semua dari jabatan yang diemban. Kami akan melakukan evaluasi dan penempatan kembali 
bagi ASN yang nyatanya tidak melaksanakan target yang direncanakan,” ucapnya

Dikatakan Awe, tiga tahun diusia pemerintahan yang dikomandoi Awe-Nizar, akan menyempurnakan pekerjaan yang belum terselesaikan, satu diantaranya pekerjaan yang masih berproses, serta pekerjaan yang diharapkan dengan hasil yang optimal,” katanya.

Ketegasan dan semangat yang dilakukan Awe-Nizar ini diganggu oleh oknum ASN yang tak bertanggung jawab. Setidaknya, kuat dugaan tindakan melakukan dan mempengaruhi posisi dan jabatan seseorang yang diduga dilakukan oleh oknum ASN, sebut saja Sya’ban. Meskipun dengan jabatan yang disandangnya belum mempuni untuk menempatkan posisi seseorang dalam sebuah jabatan, namun perjuangan ‘berdarah-darahnya’, sangat ampuh untuk jadi ‘hantu’ yang menakutkan.

Namun, jika ada yang mencoba dan berusaha untuk mempertanyakan prilakunya ‘mutasikan’ kedudukan seseorang dalam sebuah jabatan, dipastikan Sya’ban, oknum ASN ini bersikeras untuk melakukan pembantahan. Hingga, banyak dari ASN yang jadi ‘korban’, lebih baik berdiam diri dan menerima.

BERITA LAINNYA

Awe Lantik Pejabat ASN di Tanjung Napau

Siswa MA Suskes Jalankan Program Syi’ar Islam

Padahal, di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga, tindak tanduk dan sepak terjang oknum ASN yang turutcampur dalam urusan memutasikan jabatan seseorang ini bukan menjadi sebuah rahasia lagi.

Mutasi di lingkungan dalam sebuah organisasi, apalagi di pemerintahan sebuah yang normal. Karena ini bagian dari bentuk penyegaran dan menciptakan suasana baru dengan harapan adanya peningkatan kinerja. Soalnya, mutasi yang merupakan bagian dari sebuah sanksi dan ada juga yang merupakan bentuk penghargaan atas jasa dan karir seseorang.

Bagaimana jika mutasi itu dilakukan berdasarkan dan berlandaskan ketidaksukaan, bukan dari sisi prestasi? Yang pasti, jika ini terjadi, tentu tidak akan dapat untuk mencapai apa yang diinginkan. Bahkan, hal ini justru malah menimbulkan perlawanan yang lebih radikal. Dan ketika hal ini terjadi, siapa yang dirugikan? Tentu pimpinan, dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati Lingga, Awe-Nizar. (tim)

Editor :