Senin | 23 September 2019 |
pemkab lingga
×

Pencarian

LINGGA

Ribuan Masyarakat, Gantungkan Harapan di ‘Tangan’ Mangrove

Rabu | 20 Februari 2019 | 19:20
dapur arang

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – Sejak 50 tahun lebih lalu, panglong dapur arang merupakan bagian urat nadi perekonomian masyarakat pesisir yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan.

Tanaman mangrove yang lebih dikenal dengan sebutan bakau, telah mampu memberikan kontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat , khususnya daerah pesisir Pulau Lingga.

Selain tanaman yang memiliki nilai estetika, mangrove digunakan sejak turun temurun sebagai bahan baku pembuatan arang.

Ditengah kesulitan ekonomi, minimnya lapangan pekerjaan, dapur arang merupakan suatu solusi masyarakat agar dapat bertahan hidup demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ribuan masyarakat yang tersebar di Pulau Lingga menggantungkan harapan bersama dapur arang, diantaranya Kecamatan Lingga, Lingga Utara, Lingga Timur dan Lingga Utara, Senayang, dan Singkep.

Samsiah, satu diantara pekerja yang menggantungkan hidupnya di dapur arang mengatakan sudah puluhan tahun bekerja di tempat tersebut. Selain dapat untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya, katanya, di dapur arang tempat untuk bersosialisasi dengan pekerja lainnya.

disini pak, walau dibawah debu dan kepulan asap arang, lelah itu terbayarkan, kami dapat saling bercerita dan berbagi bersama dengan rekan , karna menurutnya, pekerjaan menjadi tukang packing arang sangat membantu mengurangi beban keluarga, satu diataranya biaya anak sekolah dan biaya kebutuhan sehari-hari.

” Untung Dapur arang ini buka, Karna dapat membantu masyarakat kecil bekerja, Kami perkerja dibayar sesuai dengan borongan,kalau ambil borongnya banyak, dapat hasilnya banyak, kalau capek berhenti dulu,” ucap Samsiah, wanita paruh baya ini kepada mediakepri.co.id Selasa 19 Februari 2019.

Dapur Arang

Sementara itu menyambangi pengurus kepercayaan usaha dapur arang di Desa Sungai Pinang Kecamatan Lingga Timur, Encik Adnan menyampaikan, perlu proses panjang dalam pembuatan arang. Mulai dari menebang, memotong, dan dibakar kan selama 40 hari didalam dapur kurang lebih memakan waktu empat bulan.

” Tidak lah pekerjaan ini secara instan. Melainkan proses dan ketekunan baru didapati hasil kualitas arang yang maksimal,” Ujarnya.

Dikatakan Encik Adnan Semua para pekerja di dahulukan masyarakat tempatan, tak luput dari sisi aturan.Selain memanfaatkan hutan mangrove, para pengusaha maupun pekerja tetap menjaga ekosistem, tidak meninggalkan perannya, untuk menjaga lingkungan, dengan melakukan penanaman kembali, alias riboisasi.

Diketahui tahun 2018 Panglong Arang yang dikelola encik Adnan melakukan penanaman sebanyak 40.000 batang tanaman mangrove.dibawah naungan koperasi manggrove lestari. (bran)

Editor :