BATAM

Perairan Tanjungucang Tercemar Minyak Hitam, Diduga PT BMS Potong Kapal di Laut

Senin | 15 April 2019 | 12:24
pencemaran laut

MEDIAKEPRI.CO.ID BATAM – Peraiaran laut Tanjunguncang tercemar limbah minyak hitam. Diduga pencemaran wilayah mata pencaharian masyarakat ini akibat dari aktivitas pemotongan kapal di laut.

Kegiatan yang tidak sesuai dengan aturan ini dilakukan oleh PT
BataMitra Sejahtera (BMS). Aktivitas yang mengakibatkan pencemaran ini membuat ratusan nelayan dari tiga pulau resah. Ketiga pulau yang merasakan dampak langsung aktivitas ini yakni Pulau Lingke, Pulau Gare dan Pulau Bertam.

“Sebelum tercemar tumpahan minyak hitam, laut ini merupakan wilayah tangkapan kami. Biasanya dari hasil tangkapan ikan, kami bisa membawa pulang uang lebih kurang Rp2 juta setiap harinya. Sekarang, kami tak bisa lagi cari nafkah karena laut sudah tercemar,” ujar seorang perwakilan suku laut yang minta dirahasikan identitasnya.

Disebutkannya, sudah tiga hari ini, sebagian besar nelayan tidak bisa mencari ikan. Kalaupun ada yang pergi, terpaksa mereka harus keluar ke pulau yang berada lebih jauh dari tempat yang biasa untuk mencari ikan.

“Hampir setiap tahunnya PT BMS melakukan pencemaran laut dengan berbagai aktivitasnya. Lemahnya pengawasan dari pemerintah, membuat perusahaan tersebut semena-mena melakukan kegiatan tanpa memperdulikan dampak lingkungan.

Untuk itu, dia berharap kepada instansi terkait, terutama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam agar turun melakukan pengawasan kepada perusahaan-perusahaan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan.

Dari pantauan mediakepri.co.id di lapangan, Sabtu 13 April 2019, air laut sudah tercemar dengan tumpahan minyak hitam dari proses pemotongan kapal di PT BMS. Tidak adanya upaya dari pihak perusahaan untuk mencegah supaya minyak hitam tidak semakin melebar, dan berdasarkan pengamatan di lapangan ada unsur kesengajaan dari pihak perusahaan.

Hingga berita ini diturunkan, managemen perusahaan belum ada yang bisa dijumpai dan dikonfirmasi. (sal).

Editor :