Senin | 18 Januari 2021 |
×

Pencarian

PERISTIWA

Mengapa Kita Ikut Menguap saat Melihat Orang Lain Menguap?

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Pernahkah kamu menguap saat melihat orang lain menguap?

Sebagian besar dari kamu mungkin bertanya-tanya, kenapa melihat orang lain menguap bisa membuat kamu menguap juga?

Loading...

Ada sebuah penelitian yang dilakukan pada 2007.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa alasan menguap adalah untuk mendinginkan otak, sehingga bisa bekerja lebih efisien dan menjaga agar tetap bangun.

Namun, beberapa teori ini masih menyisakan banyak pertanyaan tentang menguap, salah satunya adalah alasan kenapa orang cenderung ikut menguap saat melihat orang lain menguap.

Seorang Ilmuwan dari Universitu of Albany di New York, Dr. Gordon Gallup, yang melakukan penelitian tentang menguap ini menjelaskan jika ikut-ikutan menguap bukan berarti kamu ‘tertular’ rasa kantuk orang lain.

Loading...

Menularnya menguap ini dipicu oleh mekanisme empati pada manusia, yang memiliki fungsi untuk menjaga kewaspadaan otak.

Dalam penelitian lainnya dilaporkan, menguap merupakan salah satu kebiasaan yang memiliki kemampuan ‘menggiring’ secara tidak sadar, sama seperti ketika burung terbang dan mengepakkan sayapnya secara bersama-sama.

Teori lain berhipotesis, jika seseorang menguap karena ‘tertular’ orang lain, ini bisa membantu seseorang mengomunikasikan tingkat kewaspadaan mereka sekaligus mengoordinasikan waktu tidur.

Pada dasarnya, jika salah seorang memutuskan untuk tidur, mereka akan mengatakannya kepada orang lain dengan menguap, dan akan dibalas dengan menguap juga sebagai sinyal bahwa mereka setuju.

Seorang peneliti dari Psikologi Klinis di University of Connecticut, Storrs, yaitu Molly Helt mengatakan menguap dapat membantu dokter mendiagnosis perkembangan gangguan kesehatan pada seseorang.

Menguap juga bisa membantu dokter untuk lebih memahami bagaimana seseorang berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain.

Penularan emosional adalah insting alami yang dimiliki semua manusia, dan salah satunya dengan menguap.

Inspirasi dari penelitian ini datang ketika ia mencoba untuk membersihkan telinga anaknya yang mengidap autisme.

Ia berulang kali menguap di depan si anak, berharap anaknya juga menguap.

Tapi anaknya tidak pernah menguap balik.

Selain itu, seorang Ahli Saraf dari University of Maryland, Baltimore County, yang bernama Robert Provine mengatakan, sebenarnya janin juga sudah bisa menguap.

Janin menguap di dalam rahim kira-kira sejak 11 minggu setelah terbentuk.

Sayangnya, alasan ilmiah yang pasti tentang mengapa menguap bisa menular belum bisa dijelaskan oleh para peneliti.

Sama seperti menularnya tawa dan tangis, para peneliti dan ilmuwan memiliki teori, menguap yang menular merupakan pengalaman bersama yang meningkatkan hubungan sosial.

Secara spesifik Helt mengatakan, menguap bisa mengurangi stress dan menebarkan rasa tenang dalam sebuah kelompok.

Pada 2014 lalu, sejumlah peneliti dari Duke University melakukan penelitian terhadap 328 orang sehat dengan meminta mereka menonton sebuah video berdurasi tiga menit tentang orang yang menguap.

Beberapa peserta mulai tertular menguap dibandingkan peserta lainnya, dengan rentang dari nol sampai 15 kali menguap, berdasarkan studi yang dirilis 14 Maret pada jurnal PLOS ONE.

Usia adalah faktor utama yang secara signifikan mempengaruhi orang untuk tertular dan ikut menguap.

Pada orang yang lebih tua, mereka tidak mudah tertular untuk menguap saat menonton video orang lain yang sedang menguap.

Namun, usia hanya menjelaskan 8 persen perbedaan dari seluruh peserta yang merespon video tersebut.

Seorang asisten profesor kedokteran di Center for Human Genome Variation di Duke University School of Medicine, mengatakan jika penelitian yang dilakukan belum cukup bukti untuk menunjukkan adanya hubungan antara menguap yang menular, dengan sugesti empati. (***)

sumber: tribunnews.com

Loading...
Loading...