Kamis | 21 Januari 2021 |
×

Pencarian

BATAM

Razaki Persada Resmi Pimpin Presidium JaDI Provinsi Kepri

pantau pemilu

MEDIAKEPRI.CO.ID BATAM – Presidium Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Provinsi Kepri periode 2019-2024 resmi dikukuhkan. Pelantikan dilakukan langsung oleh Presidium JaDI Nasional, Dr. Juri Ardianto di Gedung Lembaga Adat Melayu, Batam, Sabtu 6 April 2019.

Koordinator Presidium JaDI Kepri, Dr. Razaki Persada yang diamanahkan sebagai ketua mengatakan, JaDI ini merupakan suatu wadah lembaga pemantau pemilu, yang didalamnya berkumpul para alumni-alumni penyelengggara pemilu.

Loading...

“JaDI ini merupakan wadah tempat berkumpulnya para alumni-alumni penyelenggara pemilu, yang anggotanya merupakan mantan dari KPU dan Bawaslu,” katanya.

Razaki mengatakan, beragam pendapat yang beredar luas di masyarakat mengenai terbentuknya lembaga ini. Masyarakat menilai lembaga ini akan kehilangan momentum, karena sudah semakin dekatnya pelaksanaan pemilu.

“Peran JaDI disini untuk memberikan dukungan, advokasi dan sharing pengalaman kepada penyelenggara pemilu yang masih aktif, karena di setiap pelaksanaan pemilu akan selalu muncul masalah. Nah, peran JaDI disini dibutuhkan untuk sharing pengalaman,” tutur lelaki yang selama 16 tahun menjadi penyelenggara pemilu, baik di Batam maupun Kepri.

Senada, Presidium JaDI Nasional, Dr. Juri Ardianto mengatakan JaDi baru terbentuk pada 14 agustus 2018. Alasan dibentuknya lembaga tempat berhimpunnya para alumni penyelenggara pemilu, bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Tujuannya supaya penyelenggara pemilu yang masih aktif bisa belajar dari penyelenggara sebelumnya.

Loading...

“Peran JaDI sebagai supporting kepada penyelenggara pemilu sangat dibutuhkan. Terutama dalam memberikan masukan dan kebijakan, tetapi JaDI juga bisa memberikan kritik dan masukan kepada penyelenggara pemilu,” imbuhnya.

Menurut Juri, pemilu sekarang ini merupakan pemilu yang terpanjang dalam sejarah Indonesia. Karena dilakukan selama tujuh bulan, yang berpotensi memicu terjadinya konflik di tengah masyarakat antara pendukung capres 01 dengan capres 02.

“Akibat panjangnya masa kampanye, banyak terjadi konflik diantara pendukung kedua capres. Selain itu ongkos pemilu juga akan menjadi sangat besar,” ucapnya.

Kemudian menguatnya penggunaan sentimen primordial, seperti isu agama. Isu ini bergulir menjadi sangat kuat seiring dengan kemajuan perkembangan teknologi.

“Pasca kebenaran adalah orang yang mengambil keputusan dengan tidak lagi berdasarkan fakta dan data, melainkan berdasarkan dari kelompok yang sepahaman dengannya,” kata lelaki yang pernah menjabat Ketua KPU Pusat ini.

Maka dari itu, JaDI membuat sebuah program yang diberi nama Kawal Pemilu Jaga Suara, yakni dengan cara mengupload hasil pemilu dan langsung di publikasikan.

“Kita lagi menyempurnakan programnya, mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah selesai,” imbuhnya

Dalam kesempatan ini, Presidium JaDI Kepri juga menggelar Diskusi Publik dengan mengambil tema “Isu Strategis Upaya Kawal Pemilu dan Jaga Suara Pemilu 17 April 2019”,
dengan narasumber, Ketua Presidium JaDI Nasional, Dr. Juri Ardianto, Ketua Bawaslu Kepri, M Sahri Papene dan Sekretaris KPU Kepri, Ir. Ardiantoro. (sal)

Loading...
Loading...