Senin | 25 Januari 2021 |
×

Pencarian

PERISTIWA

Gempar di Media Sosial, Ini Fakta Sebenarnya Bocah 6 Tahun yang Tewas Tersedak Bakso

MEDIAKEPRI.CO.ID, Manado – Kabar bocah usia 6 tahun meninggal dunia gara-gara tersedak bakso menjadi gempar di media sosial.

NAMUN, polisi mengungkap kejadian yang sebenarnya, termasuk identitas bocah tersebut yang meninggal dunia pada Selasa, 14 Mei 2019 malam.

Loading...

Kapolres Minahasa Danny Situmorang melalui Paur Humas Aipda Reynold Wowor mengakui adanya peristiwa bocah meninggal dunia karena tersedak saat makan bakso.

“Menurut pengakuan orangtua korban bahwa korban sebelumnya memesan bakso dan saat korban memakan ia tersedak bakso di tenggorokan dan tidak sampai tertelan,” katanya kepada Tribunmanado.co.id, pada Kamis, 16 Mei 2019.

Ia menerangkan bocah tersebut bernama Gavriel Noldi Langi, anak pasangan Hutri Kumayas dan Yunu Langi . Anak tersebut mengalami gangguan perkembangan yang bisa disebut autisme.

“Jadi untuk kasus kematian bocah enam tahun ini sudah tidak kami lanjutkan penyidikannya karena pihak keluarga sudah menganggap kejadian yang menimpa anaknya berupa kecelakaan,” katanya.

Loading...

Dia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya atas postingan yang ada di media sosial.

“Jadi saat korban dibawa di rumah sakit, ada orang Langowan yang memposting di Facebook atas peristiwa tersebut yang hanya mendengar cerita yang belum tentu benar,” tandas Paur Humas.

Diketahui, Gavriel merupakan warga Desa Tondegesan, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

Kematian Gavrie cepat menyebar dan menjadi heboh karena dikabarkan tersedak bakso.

Pengakuan Pedagang Bakso

Hani Sumolang (44) penjual bakso mengakui bocah tersebut bersama orangtuanya memang sering makan bakso di tempat tersebut.

Dia memng suka makan bakso.

“Seringkali makan di rumah makan dan sering juga memesan nantinya dibawa dan dimakan di rumah mereka. Kemudian untuk terakhir sudah tidak ingat jam berapa. Namun sudah malam,” kata Hani.

Ia menambahkan tidak tahu soal kabar kematian bocah tersebut sebelum didatangi polisi.

Hani tidak mengetahui penyebab kematian anak tersebut yang merupakan bakso jualannya.

“Kalau keracunan makanan bakso mungkin hari ini siapa saja yang makan menu yang sama dengan yang dipesan akan keracunan semuanya,” ujarnya.

Dia menambahkan sebelumnya keluarga tersebut memesan bakso tiga porsi lewat telepon dan diantar langsung olehnya.

Selanjutnya ia mendapat informasi bocah tersebut telah meninggal beberapa jam kemudian.

Kurang Pengawasan Orangtua

Kadis Kesehatan Minahasa Juliana Kaunang mengatakan kasus tersedaknya anak tersebut yaitu kurangnya pengawasan oran tua mengenai pola makan dan tata cara makan yang benar

“Jika betul kalau penyebabnya akibat tersedak. Harusnya kan kalau makan itu apalagi untuk anak usia enam tahun harus sesuai aturan yaitu mengunyah makanan sebanyak 30 kali,” katanya

Dia menerangkan tidak masalah anak usia 6 tahun mengonsumsi bakso karena anak usia d iatas satu tahun sudah bisa mengonsumsi makanan berat.

“Memang benar di usia di atas satu tahun sudah bisa makan makanan berat, tapi harus tetap dalam bimbingan orangtua. Mungkin saat anak tersebut sedang makan bakso sambil sedang melakukan sesuatu atau tidak diam,” katanya.

Coba Manuver Heimlich

Menurut dr. Wahju Aniwidyaningsih, MD, PhD, Head – Division of Interventional Pulmonology and Respiratory Critical Care di RS Persahabatan, dalam dunia medis, benda asing yang tersedak di saluran pernapasan dapat membahayakan setiap orang.

Pernyataan dr. Wahju Aniwidyaningsih, MD, PhDdi dikutip dari intisarionline.

Benda dengan ukuran besar dapat menyumbat daerah pita suara (laring) yang mengakibatkan kita kesulitan untuk bernapas.

Tidak menutup kemungkinan, kondisi ini juga bisa terjadi pada benda asing yang berukuran kecil.

Contohnya, bila tersedak jarum pentul yang biasanya terjadi pada wanita berhijab.

Jika orang yang tersedak jarum pentul itu kesulitan untuk bernapas, kita dapat menolongnya dengan menggunakan manuver heimlich.

Caranya, dengan memosisikan korban secara berdiri atau duduk, lalu berdirilah di belakangnya.

Setelah itu beri dorongan (pukul) pada bagian punggung korban dengan dasar telapak tangan kita.

Hal ini kita lakukan untuk memberikan suatu tekanan, dan diharapkan bisa mengeluarkan kembali jarum pentul yang tersangkut di tenggorokkan.

Pada jarum pentul yang tersedak dan turun ke saluran napas bawah, mungkin tidak akan menyebabkan sumbatan.

Namun, bila dibiarkan dalam jangka waktu lama akan berakibat buruk bagi kesehatan korban.

Biasanya dokter akan memulai dengan rontgen atau CT-scan untuk mengetahui letak jarum pentul tersebut.

Selanjutnya dokter akan melakukan tindakan untuk mengelurkan jarum pentul dengan menggunakan alat yang bernama bronkoskop fleksibel.

Alat ini merupakan slang fleksibel yang dilengkapi dengan kamera mikro dan alat khusus untuk menarik benda asing.

Selain bronkoskop fleksibel, kita juga bisa menggunakan bronkoskop rigid untuk mengeluarkan benda asing yang relatif lebih besar. Seperti tutup pulpen, gigi, atau gigi palsu.

Bagi mereka yang tertelan duri ikan, biasanya ditangani oleh dokter THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan).

Duri ikan ini umumnya tersangkut di tenggorokan bagian belakang (dinding faring).

Bila Anak Tersedak

Dokter anak di Mayo Clinic Child’s Center, dr Grace Arteaga, mengatakan bahwa ketika anak tersedak atau menelan sesuatu yang berbahaya, orangtua atau pengasuh sering kali memberi minum atau makan untuk mendorong benda asing tersebut masuk ke dalam lambung. Padahal sebenarnya itu tidak dianjurkan.

“Selain itu, tindakan memaksa anak untuk muntah juga kurang tepat. Sebaliknya, anak perlu dibawa ke dokter atau unit gawat darurat,” imbuhnya.

Jika anak terbatuk-batuk setelah menelan sesuatu, suruh dia untuk melanjutkan batuknya dan jangan menyuruhnya untuk berhenti.

Namun apabila anak tidak bisa batuk lagi dan semakin sulit untuk bernapas, sebaiknya segera gunakan prosedur “five and five” sebagai pertolongan pertama dalam kasus tersedak:

1.Pertama, berikan lima tepukan antara tulang belikat anak dengan tumit telapak tangan Anda.

2.Selanjutnya, berikan lima tekanan pada perut (juga dikenal sebagai manuver Hemlich). Untuk bayi, lakukan penekanan pada dada karena menekan perut dapat menyebabkan cedera.

3.Lakukan bergantian antara tepukan pada punggung dan tekanan pada perut atau dada sampai tenggorokan tak lagi tersumbat. Pada saat yang sama, seseorang sebaiknya memanggil bantuan medis.

Pada bayi, orangtua bisa meletakkan bayi dengan posisi telungkup dan kepala lebih rendah.

Kemudian tepuk lembut punggung bayi menggunakan tumit telapak tangan. Kombinasi antara gravitasi dan kekuatan dari tepukan tangan akan mengeluarkan obyek yang menghalangi saluran pernapasan bayi.

Selain itu sebaiknya orangtua tidak memasukkan jari ke rongga mulut anak karena dapat membuat benda tersebut semakin masuk ke dalam saluran pernapasan. (***)

sumber: tribunnews.com

Loading...
Loading...