Kamis | 21 Januari 2021 |
×

Pencarian

BINTAN

Hewan yang Tidak Sehat Jangan Dijadikan Hewan Kurban, Ini Ciri Hewan Kurban yang Sehat

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bintan – Tim kesehatan hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bintan terus meningkatkan upaya pengawasan kesehatan hewan kurban di seluruh wilayah Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri.

Pengawasan tersebut dilakukan menjelang pelaksanaan hari raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 11 Agustus 2019.

Loading...

Namun, mengingat keterbatasan petugas, upaya pengawasan diintensifkan terutama di delapan kecamatan yang ada di kabupaten Bintan, yakni Kecamatan Bintan pesisir, Bintan timur, Bintan utara, Toapaya, Gunung Kijang, Seri Kuala Lobam, Teluk bintan dan Teluk Sebong.

“Jadi untuk pengawasan kita intensifkan dan utamakan hanya di delapan kecamatan ini,” terang Kepala Seksi Kesehatan Hewan Bintan,
Iwan Berri Prima, Ahad, 28 Agustus 2019.

Adapun pengawasan kesehatan hewan kurban dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan gejala klinis setiap hewan yang menjadi stok hewan kurban.

Apabila ditemukan ada hewan sakit akan diobati dan jika ada kasus hewan kecacingan yang tidak parah (prognosanya fausta) hewan kurban masih bisa sembuh dan bisa dijadikan stok hewan kurban.

Loading...

Akan tetapi jika prognosanya dubius hingga infausta, maka hewan itu harus diobati dengan obat antibiotik.

Hewan ini tidak disarankan untuk dijadikan sebagai hewan kurban.

“Terlebih hewan yang sedang diobati dengan antibiotik, tidak diperbolehkan dikonsumsi masyarakat,” terang Berri.

Dia juga menjelaskan, hewan kurban yang sedang diobati dengan antibiotik, efeknya cukup berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Misalnya, kejadian resisten antibiotik. Oleh sebab itu, pilihlah hewan kurban yang telah diperiksa oleh dokter hewan,” ujar Berri.

Berri juga menjelaskan, adapun tanda-tanda hewan kurban yang sehat dapat dilihat pada mata hewan kurban yang cerah dan tidak belekan.

Di samping itu, bulunya bersih dan tidak kusam, cermin hidung basah dan bersih, tidak kurus, kotoran normal dan tidak diare, nafsu makan baik dan gerakan hewan kurban pun lincah.

Sedangkan kriteria hewan kurban dikatakan tidak cacat adalah testisnya utuh dan ada sepasang, daun telinga utuh, tanduk tidak patah, tidak buta dan kaki hewan kurban tidak pincang.

“Satu lagi, hewan kurban harus cukup umur, contohnya sapi dan kerbau minimal 2 tahun, domba atau kambing minimal 1 tahun,” ungkap Berri.

Berri juga mengimbau pedagang hewan kurban untuk senantiasa menjaga kesehatan lingkungan.

Jangan gara-gara jualan hewan kurban justru menimbulkan masalah bagi kesehatan masyarakat.

“Sebaiknya pedagang hewan kurban menyediakan kandang permanen untuk hewannya.

Hal ini terkait dengan kesejahteraan hewan yang diatur dalam undang-undang, terlebih untuk hewan kurban,” tegas Berri. (***)

Loading...
Loading...