Selasa | 15 Oktober 2019 |
×

Pencarian

RAUN WAK

Perjalanan Religi Jelajah Negeri Sahabat Polri di Situs Bersejarah di Pulau Penyengat

Minggu | 15 September 2019 | 11:24

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kepri – Tim Jelajah Negeri Sahabat Polri (JNSP) mengunjungi beberapa lokasi di ibu kota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Rabu, 11 September 2019.

Salah satunya adalah Cagar Budaya Nasional di pulau Penyengat Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota. Kawasan Pulau Penyengat sendiri pada 2017 lalu telah disidangkan oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya tingkat Nasional.

Di pulau seluas sekitar 2000 m2 ini, tim JNSP menyambangi dua situs sejarah, Masjid Sultan Riau atau juga dikenal dengan masjid Penyengat dan kompleks makam Raja Hamidah yang merupakan istri dari pahlawan nasional asal Kabupaten Daik, Kepri Sultan Mahmud Riayat Syah.

Tim memulai perjalanan menuju pulau yang berjarak sekitar 10 menit dari kota Tanjungpinang menggunakan Pompong, kapal kayu berkapasitas sekitar 15 sampai 20 orang. Menyeberang dari pelabuhan rakyat (pelantar 1) yang persis berada di sebelah pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura, Tanjungpinang, tim JNSP sampai di penyengat pada pukul 09.40 WIB. Tim JNSP langsung disambut Brigadir Septian, Bhabinkamtibmas yang bertugas di wilayah tersebut dan Ketua Kelompok Sadar Wisata di Penyengat, Nurlatifa (24).

BERITA TERKAIT

19 Jam Arungi Lautan, JNSP Menuju Riau

Dalam Waktu Dekat, Tim JNSP Keliling Indonesia

Tim langsung bergerak menuju Masjid Raya Sultan Riau yang berada persis di dekat dermaga utama pulau ini. Dari Nurlatifa, tim mendapatkan penjelasan tentang sejarah berdirinya masjid peninggalan yang masih tersisa di masjid sampai saat ini dan cerita toleransi umat beragama di masa awal masjid ini berdiri.

Masjid Raya Sultan Riau ini dibangun pada 1803 dengan menggunakan bahan kayu. Masjid ini merupakan bagian dari kelengkapan yang dihadirkan Sultan Mahmud Riayat Syah 3 ketika menghadiahkan Pulau Penyengat ini untuk istrinya Raja Hamidah.

Masjid ini kemudian diubah menjadi bahan beton pada 1832 pada masa asjid beton masa pemerintahan yang Dipertuan Muda ke-7 Raja Abdul Rahman. Ketika itu, ia ingin membuat masjid megah sehingga diajaklah masyarakat penyengat  bergotong-royong membangun masjid ini.

“Sering kita dengar masjid ini terbuat dari putih telur. Konon ceritanya, saking banyaknya telur yang dibagikan masyarakat dalam pembangunan masjid ini, oleh pekerja India yang datang dari Singapura disarankan putih telur sebagai bahan bangunan untuk merekatkan pasir, karena di tempat mereka putih telur digunakan untuk itu,” kata Nurlatifa.

Sampai saat ini, ada empat buah peninggalan yang bersejarah yang berada di masjid hingga saat ini. Diantaranya adalah satu buah mimbar yang dipesan oleh Raja Abdul Rahman.

Peninggalan kedua lampu utama masjid yang dikenal dengan lampu Kraun yang merupakan hadiah dari kerajaan Prusia.

“Saat itu ada misonaris protestan yang tinggal di wilayah ini, merasa terkesan dengan perlakuan baik dan toleran dari pihak kerajaan, dia senang dan saat kembali ke Prusia dia menceritakan kepada raja Prusia, dia diperintahkan untuk memberikan hadiah lampu Kraun ini,” kata Nurlatifa lagi.

Peninggalan lainnya adalah Al-quran tulisan tangan yang buat oleh seorang putra asli Penyengat sendiri. Putra penyengat yang diketahui bernama Abdul Rahman ini menyelesaikan penulisan Al-quran ini pada tahun 1867. Gaya tulisannya dikenal dengan gaya penulisan turki, sehingga ia dijuluki Abdul Rahman Istanbul.

Di masjid ini juga ada dua buah lemari milik Yang Dipertuan Muda ke-10 Raja Muhammad Ahmadi. Saat itu ia mengirimkan beberapa guru ke Timur Tengah untuk mencari kitab pengetahuan. Kitab-kitab tersebut kemudian disimpan di dua buah lemari ini. Pada bagian pintu lemari berwarna hitam ini terdapat potongan ayat Al-quran, tepatnya surat Alkahfi ayat 46. Ayat ini memiliki arti jika anak-anak dan harta adalah perhiasan dunia.

Terakhir, di Masjid ini ada tanah yang diambil dari Mekah yang sampai saat ini menjadi kearifan lokal masyarakat Penyengat.

“Saat ada anak baru lahir, kakinya akan diinjakan ke tanah ini dengan harapan kelak mereka juga bisa sampai ke Mekah,” kata Nurlatifa lagi.

Situs masjid ini, kata Nurlatifa lagi, biasanya ramai dikunjungi oleh masyarakat pada akhir pekan. Tidak hanya mereka yang berasal dari Kepri dan daerah lain di Indonesia saja, tetapi juga didatangi oleh masyarakat dari negara tetangga Malaysia, Singapura, dan negara-negara lainnya.

Setelah puas mengitari Masjid Sultan Riau yang bersejarah dan menjadi ikon pariwisata di Kepri, tim JNSP bergeser ke kompleks Makam Raja Hamidah yang berjarak sekitar 5 menit dengan dari masjid. Tim bergerak menggunakan dua becak motor (bentor) dengan tetap didampingi oleh Brigadir Septian.

Dari sini, tim JNSP disambut oleh Adis, juru makam yang bersedia menemani dan menjelaskan tentang kompleks makam ini. Selain makam Raja Hamidah yang berada di bagian tengah, terdapat banyak makam lainnya di lokasi ini. Nisan semua makam di sini diikat dengan kain berwarna kuning yang merupakan warna khas masyarakat Melayu.

Di bagian dinding bangunan utama yang mengelilingi makam Raja Hamidah ini, terdapat tulisan gurindam 12. Gurindam 12 ini kata Adis, merupakan karya besar Raja Ali Haji sastrawan yang terkenal asal Kepri. Melalui karya-karya dan jasanya di bidang kebahasaan, Raja Ali Haji telah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional di bidang Bahasa pada 2004. (jnsp/eddy)

Editor :