Rabu | 16 Oktober 2019 |
×

Pencarian

AOK

Di SKPT Selat Lampa, Asa Warga Natuna Ditambatkan

Selasa | 08 Oktober 2019 | 1:02

MEDIAKEPRI.CO.ID, Natuna – Hujan gerimis yang mengguyur sejak malam di Kota Ranai, Kabupaten Natuna, nampak mereda di pagi hari Senin 7 Oktober 2019.

Waktu masih menunjukkan pukul 06:30, namun Mediakepri.co.id bersama beberapa awak media di Natuna, bergegas menembus dinginnya pagi menuju ke Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di Selat Lampa.

Dengan kecepatan mobil dikisaran 70 hingga 100 kilometer per jam, jarak 72 kilometer (Ranai-Selat Lampa) tertempuh dengan waktu satu jam.

Menginjakan kaki di SKPT Selat Lampa, yang terlihat pertama di mata adalah tenda megah dan hilir mudik orang-orang tengah sibuk mengurusi persiapan acara. Maklum, hari ini Menteri Kelautan dan Perikanan RI akan meresmikan SKPT Natuna.

Saat melihat-lihat sekitar Sentra perikanan, mata ini pun tertuju pada sosok tua yang tengah duduk di kursi dalam tenda acara. Menggenakan baju biru bertuliskan ‘Ikan Lestari Nelayan Berseri’, Idris nama sosok tua itu mengenalkan diri ke Mediakepri.co.id.

Obrolan kami dimulai, Idris pun bercerita bahwa dirinya bekerja sebagai buruh angkut di sekitar Pelabuhan Selat Lampa. Katanya kerjaan kasar itu sudah dilakoni sejak natuna masih berstatus Kecamatan, artinya sudah sekitar 20 tahun ia bekerja jadi kuli panggul di sana.

Idris tak lagi muda, kini usianya sudah 65 tahun, kulit keriput bibir mengkerut, tak jadi halangan baginya mencari rezeki tuk mengisi perut.

Kehadiran SKPT Selat Lampa pun sangat disyukurinya, sejak kawasan perikanan “karya” Susi Pudjiastuti ini dioperasikan PT. Perikanan Indonesia, penghasilan Idris dan puluhan buruh angkut di Selat Lampa pun bertambah.

Memang sejak PT. Perindo beroperasi di SKPT Natuna, banyak nelayan dari luar pulau Bunguran besar, seperti Subi, Serasan, Midai dan Pulau Laut menjual ikannya ke perusahaan BUMN itu.

“Kami bersyukur karna Bu Menteri bangunkan SKPT ini, buruh dapat imbas juga tambah penghasilan. Harapan saya semoga semakin ramai lah disini, dan kalau bisa upah kami juga ditingkatkan,” harap Lelaki asal Dusun Balai, Kecamatan Pulau Tiga ini.

Masih satu kampung dengan Idris, Kadir pria berusia 43 tahun mengaku juga merasakan dampak dari dibangunnya SKPT Natuna. Kepada Media ini, Kadir mengaku bekerja sebagai nelayan gurita atau duyek sebutan masyarakat tempatan Natuna.

Diceritakannya, dahulu sebelum SKPT dan PT.Perindo ada, harga gurita besar di Natuna tak ada artinya. Apalagi , cara penangkapan gurita yang masih menggunakan cara selam tradisional ini sangat besar resikonya.

“Sekarang alhamdulillah harganya sudah lumayan dan tiap hari bisa antar, harga sekarang 35 ribu sekilo bahkan waktu tertentu bisa lebih,” kata Kadir.

kadir nelayan gurita natuna saat diwawancarai mediakepri.co.id

Asa Idris dan Kadir hanya segelintir saja dari banyaknya harapan lain warga Natuna. Geografis Natuna yang dikelilingi 99,75 persen laut, menjadikan sektor kelautan dan perikanan menjadi primadona daerah untuk dikembangkan dengan tujuan kesejahteraan masyarakat Natuna.

Seperti halnya yang disampaikan Bupati Natuna, Abdul Hamid Rizal. Ia mengklaim sejak beroperasinya SKPT di Selat Lampa, pertumbuhan ekonomi Natuna kian melejit naik.

“Kami dari Pemkab merasakan sekali adanya peningkatan perekonomian di natuna, jauh meningkat, yang awal Tahun 2016 pertumbuhan ekonomi baru 3,5 persen pertahun, dengan adanya SKPT kini 5,8 persen pertahun. kami harap meningkat lagi setelah diresmikan,” harap Bupati.

Bukan hanya itu, Pemda bersama DPRD Natuna pun telah menggesahkan Ranperda tentang Tempat Pelelangan Ikan di SKPT Selat Lampa. Tujuannya, agar daerah tak menjadi penonton di rumahnya sendiri.

Hal ini pun diamini oleh Menteri Susi Pudjiastuti. Dirinyapun sangat mendukung jika Pemda Natuna memanfaatkan fasilitas yang telah dibangun Pemerintah Pusat.

“Saya minta Bupati segera realisasi, kita punya kapal ijin pusat 600 kapal, apabila mereka bisa mendarat disini, melakukan pendaratan dan pelelangan ikan disini, daerah bisa memungut retribusi untuk tingkatkan PAD,” ujar Menteri Susi.

Baik Idris maupun Kadir, menjadi gambaran secara umum dan acak bagaimana sikap masyarakat saat ini. Pemerintah tentu harus bisa mengambil momen sekarang dengan memberikan pelayanan terbaik dan memberi manfaat banyak untuk masyarakat Natuna. (alfian)

Editor :