Selasa | 15 Oktober 2019 |
×

Pencarian

Kandidatku tuk Bupati dan Wakil Bupati Natuna

NATUNA

Natuna ‘Kaya’ Situs Arkeologi, Sayang ‘Miskin’ SDM

Jumat | 11 Oktober 2019 | 8:54

MEDIAKEPRI.CO.ID, Natuna – Kepulauan Natuna memang lebih dikenal akan kekayaan lautnya yakni berupa Migas dan juga potensi perikanan. Namun ternyata, Kepulauan di ujung utara NKRI ini juga menyimpan peninggalan budaya yang sangat tinggi nilai sejarahnya, baik yang terpendam di dalam tanah maupun yang berada di dalam laut.

Natuna merupakan salah satu gugus kepulauan di antara sekian banyak gugus kepulauan yang berada di Laut Cina Selatan. Sudah sejak berabad-abad lalu kawasan ini digunakan sebagai jalur pelayaran niaga yang menghubungkan negeri-negeri Asia Tenggara dengan Asia Timur terutama Cina.

Pulau Natuna pun tidak hanya berfungsi sebagai pulau transit, tetapi juga sebagai destinasi perdagangan karena komoditas lokal Pulau Natuna juga diminati oleh para pedagang.

Berlatar belakang sejarah tersebut, maka tak berlebihan jika Natuna dikatakan kaya benda-benda Arkeologi khususnya situs Barang Muatan Kapal Tenggelam(BMKT).

Istimewa

Pemerintah Kabupaten Natuna pun telah lama menyadari bahwa daerahnya memiliki potensi benda-benda bersejarah. Melalui Dinas Pariwisata Natuna, Arkeologi turut dimasukan ke dalam konsep kepariwisataannya yang dipadukan dengan kemaritiman dan Ekowisata. Hal ini selaras dengan ditetapkannya Natuna sebagai Geopark Nasional.

Namun sayangnya, karena faktor kewenangan dan Sumber Daya Manusia(SDM) yang sangat minim di bidang Arkeologi, potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan daerah.

“Pengawasan situs Arkeologi di laut kita ga punya kewenangan, paling kita koordinasi dulu ke provinsi atau pihak terkait. Selain itu kita pun tak ada tenaga ahli dan instansi khusus menangani arkeologi ini,” kata Kepala Dinas Pariwisata Natuna, Hardinansyah, kepada Mediakepri.co.id belum lama ini.

Lanjut Hardinansyah, Karena kendala tersebut, Dinas Pariwisata Natuna hanya melakukan inventarisasi, sementara untuk pelestarian situs peninggalan sejarah ini, Dispar Natuna berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemerintah Provinsi Kepri.

“Natuna ini sangat kaya, kita satu-satunya Daerah di Indonesia yang Geoparknya mencakup daratan dan lautan. Sebenarnya jika kita bisa kelola situs Arkeologi seperti BMKT, Natuna akan semakin unik,” tuturnya.

Pernyataan Kepala Dinas Pariwisata Natuna tersebut pun juga diamini Bupati Natuna, Abdul Hamid Rizal. Menurutnya, potensi Arkeologi di Natuna sangat bagus untuk menjadi daya tarik sektor pariwisata Natuna.

“Boleh kita kembangkan itu( wisata Arkeologi), cuma ahli kita ada gak?, SDM kita bisa dikatakan belum cukup mumpuni, padahal kalau digarap luar biasa, cuma kita terbatas ahlinya itu, tapi kita siap mendukung apapun hal yang mengangkat ekonomi dan potensi daerah,” terang Hamid.

Namun, gerak cepat Pemerintah Daerah hingga Pemerintah Pusat juga sangat diperlukan, hal ini menimbang Tinggalan arkeologi yang berada di bawah air selalu disamakan oleh masyarakat awam dengan istilah “harta karun” yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Masyarakat terkadang sudah terlanjur tergiur dengan bayangan pendapatan yang akan mereka terima jika berhasil menemukan “harta karun” di bawah air dan berhasil menjualnya.

Padahal realita di lapangan menunjukkan tidak semua tinggalan arkeologi bawah air dapat dijual dengan harga tinggi. Berbeda jika kita dapat melestarikannya dengan cara yang tepat, masyarakat akan mendapat manfaat secara berkelanjutan, baik secara ekonomi maupun akademis.

Editor :