Kamis | 09 Juli 2020 |
×

Pencarian

HEADLINE

Mobilisasi Nelayan Pantura ke Laut Natuna, Nasib Nelayan Tempatan Bagaimana?

MEDIAKEPRI.CO.ID, Natuna – Bak ‘drama’ berseri, klaim sepihak China terhadap Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna Utara memasuki episode lanjutan.

Masalah itu sebenarnya bukan kisah baru. Namun, kisah lama yang kembali menderu karena ulah kapal nelayan dan kapal penjaga pantai China, mengklaim negaranya punya hak di Laut Natuna Utara.

Loading...

Pemerintah RI sejauh ini telah mengambil tindakan, baik melalui jalur diplomasi maupun menambah kekuatan pertahanan di sekitar laut Natuna Utara. Namun kenyataannya, Tiongkok bersikukuh atas klaim teritorial berdasarkan nine dash line.

Nine dash line adalah sembilan titik imaginer yang menjadi dasar bagi China, dengan dasar historis, untuk mengklaim wilayah Laut China Selatan. Titik-titik ini dibuat secara sepihak oleh China tanpa melalui konvensi hukum laut internasional di bawah PBB atau UNCLOS 1982 di mana China tercatat sebagai negara yang ikut menandatanganinya.

Dampaknya, perairan Indonesia seluas lebih kurang 83.000 km2 atau 30 persen dari luas laut Indonesia di Natuna akan hilang.

Pemerintah Indonesia sejauh ini telah memikirkan langkah alternatif, diantaranya mendukung nelayan-nelayan asal Pantai Utara Jawa (Pantura) untuk mencari Ikan di Laut Natuna Utara atau ZEE Indonesia.

Loading...

Bahkan, Rencana Pemerintah RI ini diamini langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Tegal Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, Riswanto, seperti Dikutip dari cuplikan program tv Mata Najwa Trans TV, edisi Rabu 8 Januari 2020.

Dikatakan Riswanto, anggota nelayannya sangat siap jika di mobilisasi ke Natuna. Bahkan, jumlah yang mau berlayar ke Laut Natuna Utara mencapai 500 Kapal Ikan, dengan Tonase diatas 60 GT.

Jika dikalkulasikan, satu unit kapal bertonase diatas 60 GT bisa membawa hingga 25 orang nelayan, artinya 500 kapal sama dengan membawa 12.500 orang nelayan.

Angka yang fantastis untuk menyaingi kapal tiongkok di Laut Natuna Utara. Namun, bagaimana nasib nelayan tempatan Natuna?.

Kekhawatiran nelayan tempatan yang semula disebabkan oleh faktor Penjaga Pantai Cina, kini berubah menjadi kekhawatiran hasil tangkapan laut tak cukup membiayai kehidupan rumah tangga.

Wacana itu pun telah menjadi buah bibir dikalangan masyarakat khususnya nelayan Natuna, bahkan hingga merambah ke media sosial grup Facebook Berita Natuna.

Salah satunya cuitan akun Riyandi Pulautiga. Ia menyebut, Nelayan Kabupaten Natuna menolak wacana pengiriman nelayan dari Pantura.

” Nelayan NATUNA harus satu suara. Ikan akan habis, untuk bersaing kita baru mau belajar. Ketua Nelayan di setiap kecamatan harus kumpul anggota. Kalau tidak ada respon dari pemerintah daerah, kita adakan Demo terbesar yang belum pernah ada di tanah Ranai,” tulis Riyandi Pulautiga di grup beranggotakan 50 ribu warga Natuna itu.

Namun, timbulnya polemik wacana mendatangkan nelayan pantura sebenarnya sudah diprediksi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Edhy Prabowo.

Disela kunkernya ke Natuna, Edhy juga menyempatkan diri berdialog dengan nelayan untuk mendengar aspirasi mereka.

“Saya meminta agar nelayan lokal Natuna tidak resah, sebab pemerintah akan mengatur lokasi tangkapan untuk nelayan Pantura. Mereka ini kita panggil untuk mengisi ZEE, nanti wilayah operasinya disana di perbatasan bukan ditepi,” Terang Edhy Prabowo di RM Sisi Basisir Ranai, Rabu 8 Januari 2020.

Edhy Prabowo menilai, kehadiran nelayan Pantura juga akan membawa dampak positif bagi daerah, sebab akan ada pajak yang masuk sebagai sumber PAD Natuna.

“Kita minta juga tanggung jawab sosial mereka terhadap Natuna, nanti ikan hasil tangkapan akan disetor ke SKPT Selat Lampa, bukan dibawa pulang ke Pantura sehingga ada pemasukan pajak untuk daerah,” tuturnya.

Untuk nelayan lokal Natuna, Edhy Prabowo juga menegaskan, bahwa pemerintah melalui KKP akan memberi dukungan penuh baik sarana maupun teknologi bidang perikanan.

“Saya kira perintah pak Presiden sudah jelas, beliau minta kuatkan nelayan lokal, jadi nanti nelayan Natuna akan dilengkapi dengan kapal-kapal besar, dan dilatih cara mengoperasikanya untuk bersama-sama melakukan penangkapan di ZEE,” ujar Menteri KP Edhy Prabowo. (alfian)

Loading...
Loading...