Sabtu | 05 Desember 2020 |
×

Pencarian

HARI INI SEJARAH

Akhir Kerusuhan Rasial di Indonesia, Penjarahan dan Perkosaan Etnis Tionghoa Jadi Kenangan Pahit

MEDIAKEPRI.CO.ID – Tiga hari berturut-turut terjadi kerusuhan di Indonesia. Mulai dari 13 Mei 1998 hingga 15 Mei 1998, sejumlah daerah yang merupakan kota besar bergejolak gerakan massa.

Kerusuhan yang terjadi bernuansa rasial terhadap etnis Tionghoa yang ada. Massa yang ‘marah’ bergerak secara masif menyerang toko dan perusahaan milik warga keturunan.

Loading...

Data yang diperoleh dari wikipedia.org, konsentrasi kerusuhan massa ini terbesar terjadi di Jakarta, Medan dan Surakarta.

Tidak hanya melakukan penjarahan terhadap harta, massa semakin beringas. Dan, ratusan wanita keturunan menjadi sasaran. Wanita bermata sipit ini mengalami pelecehan seksual dan jadi korban perkosaan.

Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998. Hal inipun mengakibatkan penurunan jabatan Presiden Soeharto, serta pelantikan B. J. Habibie.

Banyak warga keturunan ini yang tidak tahan atas perlakuan ini. Hingga, banyak dari mereka meninggalkan Indonesia untuk menjaga dan tidak ingin melakukan perlawanan.

Loading...

Ada seorang perempuan keturunan yang menjadi aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya.

Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama yang dianggap kunci dari peristiwa kerusuhan Mei 1998.

Pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa bukti-bukti konkret tidak dapat ditemukan atas kasus-kasus pemerkosaan tersebut, tetapi pernyataan ini dibantah oleh banyak pihak. (***)

Loading...
Loading...