Senin | 01 Juni 2020 |
×

Pencarian

KORUPSI

KPK OTT Rektor UNJ, MAKI: Tak Profesional dan Mempermalukan Diri Sendiri

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menilai operasi tangkap tangan (OTT) Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) aneh.

Adapun MAKI menganggap OTT Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini di luar kebiasaan sebelumnya.

Loading...

Menurut Koordinator MAKI Boyamin Saiman, OTT KPK ini mempertontonkan ketidakprofesionalan dan mempermalukan KPK sendiri.

“Dari hasil operasi ini tidak kelasnya KPK,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya disadur dari sindonews.com, Jumat, 22 Mei 2020.

Boyamin melihat OTT ini tidak dalam sebuah rencana dan informasi yag baik. Sehingga, hasilnya jelek.

KPK, kata dia, biasanya mendalami setiap informasi sampai detail. Keputusan melakukan OTT itu sudah matang sehingga tidak ada istilah tak menemukan penyelenggara negara.

Loading...

“Penindakan OTT ini hanya sekedar mencari sensasi untuk dianggap bekerja. Kami akan segera membuat pengaduan ke Dewan Pengawas KPK atas amburadulnya OTT ini,” katanya.

Dia menilai alasan pelimpahan dan menyebut tidak ada pejabat negara sangat janggal.

Rektor itu, menurutnya, merupakan jabatan tinggi di Kemendikbud. Rektor adalah penyelenggara negara karena ada kewajiban melaporkan hartanya ke Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

KPK seharusnya tetap melanjutkan penanganan perkara ini dan tidak menyerahkan ke Korps Bhayangkara.

Untuk diketahui, Kamis, 20 Mei 2020 KPK menangkap Rektor UNJ Komaruddin, Bagian Kepegawaian UNJ Dwi Achmad Noor, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Sofia Hartati, Analisi Kepegawaian Biro SDM Kemendikbud Tatik Supariah, Karo SDM Kemendikbud Diah Ismayanti, serta dua staf SDM, Suliya dan Paryono.

Dalam operasi ini UNJ diduga akan memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada pejabat di lingkungan Kemendikbud.

Dwi Achmad Noor sudah mengumpulkan uang sebesar Rp55 juta. Diapun telah menyerahkan sekitar Rp8,5 juta ke lingkungan SDM Kemendikbud. (***)

Loading...
Loading...