Kamis | 03 Desember 2020 |
×

Pencarian

HEADLINE

Slogan Berbau SARA di Medsos, Anggota DPRD Lingga Dikecam Nitizen

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lingga – “Selogan Melayu tahan lapa dah hilang dari peredaran. Yang ada Melayu sudah kelaparan“.

Status yang diposting anggota DPRD Lingga, Aziz Martindaz di akun Facebooknya, Jumat, 10 Juli 2020 sekitar pukul 14.00 ini membuat sejumlah nitizen gerah dan geram.

Loading...

Namun ada sebahagian nitizen, mencoba untuk memberikan peringatan. Dan untaian kata dengan bahasa Melayu pun, mengalir mengisi ruang komentar di bawa caption status tersebut.

Sejauh ini, belum diketahui latar belakang hingga kalimat yang kental bernuansa SARA. Namun, kata ‘Melayu’ dengan tambahan kata lainnya, dinilai sebuah pelecehan kebesaran Melayu itu sendiri.

Berikut komentar sejumlah nitizen terhadap posting anggota dewan dari Partai berlambang beringin ini.

“Jgn bcakap melayu.. Kelak lah jadi masalah..”makan boleh meranyah, bcakap jangan “wai…mudhorat banyak kelak dari pade manfaat..ngasi tau aje..🙏. Tulis Hendri Efrizal

Loading...

Tidak hanya Hendri Efrizal yang tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), Ketua LAM Lembaga adat Melayu Kecamatan Lingga Taufik, turut terusik atas postingan tersebut.

yang membuat slogan itu siapa way, jangan dipukul ratakan, seolah-olah melayu ni betol betol hine way dan dah macam pengemis, tangan diatas lebih mulie dari tangan dibawah,selame ini tidak karna bantu itu masyarakat macam itu juge hidupnya kite pade umumnye di lingge ini Melayu way, dengan caption meminta maaf,
1- orang jangan hine orang tue kite
2- orang jangan hine agame kite
3- orang jangan hine suku kite

Tulisnya dengan santun dalam kolom komentar.

Hal yang sama Anes ginay mengomentari dalam postingan itu. Bahkan dalam komen itu sendiri, ia mencoba untuk menjelaskan tingginya peradaban Melayu.

Berikut komentarnya

Saya orang Melayu. Tapi tidak sepakat dengan pernyataan Pak Aziz Martindaz mengenai Melayu yang kelaparan (boleh donk). Hehe.
Orang Melayu dengan segala problematikanya sejak era kesultanan hingga era milenial sampai dengan saat ini, tetaplah Melayu yang tak akan lapar walau dengan secupak beras. Sebab bangsa Melayu selalu bersandar pada Agama (Islam). Adagiumnya : Melayu-Islam. Islam-Melayu. Kebetulan penelitian saya bidang kesejahteraan sosial kajiannya tentang kehidupan (kesejahteraan) orang Melayu era Kesultanan – Pasca Orde Baru (reformasi). Bagaimana Pasca Orde Baru, orang Melayu mereposisi dirinya kembali sebagai Tuan di negerinya sendiri sebagaimana kehidupan orang Melayu sebelum Tarktat London 1824, dimana Imperalisme membelah dan mengacak-acak Kemaharajaan Johor Pahang-Riau-Lingga
.”

Hingga berita ini diterbitkan. Kolom komentar status anggota dewan Lingga ini masih terus berlanjut. (bran)

Loading...
Loading...