Sabtu | 19 September 2020 |
×

Pencarian

AOK

Ikhtiar Menjaga Energi Dalam Jeruji Pandemi

MEDIAKEPRI.CO.ID, NATUNA – Nesti berlari kencang, menghindari kejaran teman sebayanya yang menjadi “hantu”, setelah kalah dari pertaruhan hom pim mpa. Tawa di wajah manisnya tak terbendung, menikmati malam libur kemerdekaan RI, di taman bermain Pantai Piwang, Natuna.

Sejak taman bermain itu di bangun oleh SKK Migas, melalui CSR (Corporate Social Responsibility) Medco E&P dan Premier Oil Natuna. Senyum riang diwajah anak-anak Natuna tak pernah lagi sirna.

Loading...

Namun getir rasanya, melihat raut wajah Indusri migas di tanah air , yang tengah murung, tak semanis senyum anak-anak Natuna. Tentu saja, semenjak dunia dihantui makhluk tak kasat mata, bernama virus corona.

Virus bernama resmi Covid-19 yang awalnya “berdomisili” di Kota Wuhan,China. Kini telah menjelajah hampir ke seluruh belahan Dunia.

“Ibu Pertiwi“ menempati urutan ke-18, dari 193 Negara di Dunia, yang masih aktif melaporkan paparan Virus Corona. Menurut data Satgas Covid Indonesia, ratusan ribu orang telah terinfeksi dan ribuan nyawa pasien melayang, termasuk puluhan dokter dan tenaga medis yang merawatnya.

Virus ini, tak hanya berdampak pada sisi kesehatan. Ekonomi global dipastikan melambat, menyusul penetapan dari WHO, yang menyebutkan wabah Corona sebagai pandemi, sehingga mempengaruhi dunia usaha.

Loading...

Di Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat, hingga 31 Juli 2020, lebih dari 3,5 juta pekerja formal ataupun informal terdampak Covid-19. Dari data yang sudah diverifikasi, setidaknya ada 1.132.117 pekerja formal yang dirumahkan. Adapun pekerja formal yang di-PHK mencapai 383.645 orang. Belum lagi, pengurangan pendapatan karena terkena pemotongan penghasilan, penundaan pemberian honor, atau hilangnya tunjangan.

Pandemi membuat dunia usaha tak leluasa bergerak. Kebijakan pembatasan sosial dan aturan jaga jarak, membuat banyak perusahaan mengurangi aktivitas. Tak terkecuali industri migas di “Bumi Pertiwi”, yang diibaratkan “Sudah jatuh tertimpa tangga”.

Analogi itu dirasa tepat menggambarkan situasi terkini. Dimana harga minyak sejak awal tahun terus tertekan, puncaknya adalah pada awal Maret, harga melorot hingga dibawah US$30 per barel dan hingga kini belum juga naik signifikan. Pukulan telak berikutnya adalah pandemi virus Covid-19, yang membuat konsumsi energi termasuk migas, juga menurun secara drastis.

Penurunan harga minyak yang signifikan, juga diperkirakan berdampak terhadap investasi di sektor hulu migas, dan berpengaruh terhadap target produksi serta lifting migas 2020.

Plt Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas ,Susana Kurniasih, mengungkapkan pada semester 1 tahun 2020, migas nasional dapat terjaga diangka 1,7 juta barel per hari. Dengan rincian lifting minyak sebesar 713 ribu barel per hari atau 94,5 persen dari target APBN.

Sedangkan lifting gas sebesar 5,6 juta standar kubik perhari, atau setara 1 juta barel minyak perhari. Capaian lifting gas adalah 84 persen dari target APBN.

“Capaian ini bukan angka di atas kertas, banyak sekali hal yang harus diwujudkan untuk mencapai target tersebut, terlebih saat ini dimasa Pandemi Covid-19,” ujarnya dalam kegiatan Webinar “Kontribusi Industri Hulu Migas Mendukung Geopark Natuna” beberapa waktu lalu.

Di tengah kekangan pandemi, Susana mengatakan SKK bersama KKKS Migas juga terus melakukan pencarian sumber atau ladang migas baru, dengan malakukan kegiatan sesmik dan eksplorasi. Hal ini penting dilakukan, untuk menjaga hasil produksi minyak dimasa-masa mendatang.

“Pada tahun 2020 ini Medco sedang melakukan pengeboran Sumur Bronang 2, Kaci 2, dan melakukan persiapan pengeboran sumur west Belut 1. Sedangkan Premier Oil, pada tahun 2021 juga merencanakan pengeboran dua sumur yaitu, kuda laut 2 dan singa laut 2,” Ucap Susana, sembari meminta dukungan berbagai pihak.

Dalam kegiatan yang sama, giliran Pjs Kepala SKK Migas perwakilan Sumbagut, Haryanto Syafri ,sebagai Narasumber Webinar menjelaskan kegiatan industri hulu migas di wilayah kerjanya khususnya Kepri.

Haryanto menceritakan, Karena Wabah Covid-19 mengharuskan orang melakukan physical distancing, dan dalam hal tertentu, mesti menjalani karantina, sungguh menjadi kendala bagi kegiatan operasional. Khususnya, kegiatan yang benar-benar mengharuskan kehadiran fisik dan kerja kelompok, misalnya kegiatan konstruksi dan crew change.

Kendala yang dihadapi oleh KKKS di tempat operasi tak sebatas itu, saat ini sudah tidak ada lagi outsider dalam penerbangan reguler crew Change. Schedule pesawat crew Change pun dikurangi dari 5x seminggu menjadi 3x seminggu. Belum lagi, mobilisasi pekerja ke lokasi lebih sulit karena perijinan dan waktu karantina, serta potensi overstay yang berisiko pada keselamatan kerja.

Taman bermain yang dibangun SKK Migas melalui dana CSR Medco Energi dan Premier Oil

“Hampir semua industri mengurangi kegiatan industri, pabrik bahkan ada yang tutup, penerbangan tidak terbang hari, penggunaan BBM menurun. Atas turunya penggunaan bahan bakar itu berimbas sampai ke kilang, jika tangki penyimpanan kilang mengalami full kapasitas, kilang mengurangi permintaan bahan mentah ke SKK. Ini berefek ke usaha, sehingga kami harus memperlambat produksi,” ungkap Haryanto.

Namun, bak peribahasa “berpantang mati sebelum ajal”, SKK dan KKKS Migas tak putus asa, menjaga Produksi dan Lifting di tengah kurungan pandemi.

“ Ini cobaan besar bagi kita, kami menurunkan produksi sehingga tak ada stok terbuang, di satu sisi kami harus menjaga agar kebutuhan Energi terpenuhi, dengan tetap menghidupkan sumur dan mencari sumber cadangan kedepan. Tetapi, komitmen dengan pemerintah jelas tak terpenuhi, karena komitmen dibuat 2 tahun lalu, sebelum ada pandemi covid ini,” terang lulusan fakultas Teknik perminyakan ITB itu.

Sebagaimana diketahui, Industri Hulu Migas merupakan salah satu lokomotif penggerak pembangunan nasional dan daerah, keberadaan Industri Hulu Migas menciptakan multiplier effect bagi pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Selain memberikan dampak ekonomi, sektor hulu migas juga berupaya meningkatkan kemandirian masyarakat, serta menjaga lingkungan di sekitar daerah operasi, lewat kegiatan tanggung jawab sosial (TJS) dan program pemberdayaan masyarakat (PPM).

Seperti halnya yang di lakukan SKK Migas Sumbagut dengan KKKS, Medco E&P Natuna Ltd dan Premier Oil Sea B.V di Natuna. Meski keadaan tengah terpuruk, lantas tak menghilangkan kepekaannya, terhadap pembangunan daerah di wilayah operasi.

Sejalan dengan upaya konservasi lingkungan, Natuna yang tengah bersolek diri, untuk menarik perhatian dunia lewat Geopark Natuna, diprasaranai oleh SKK dan KKKS Migas. Bahkan, di Tahun 2021 mendatang, kontribusi industri hulu migas mendukung geopark Natuna tetap berlanjut, hingga asa terwujud, menjadikan Natuna bagian dari Unesco Global Geopark.

Efek ganda yang ditimbulkan sektor hulu migas, tidak terbatas hanya pada hal-hal berkaitan dengan kemampuan teknis. Di bidang pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas), sektor hulu migas juga turut memberikan kontribusi.

Keberadaan wilayah kerja di kawasan perbatasan negara, secara tidak langsung turut mengamankan dan menjaga kedaulatan negara. Adanya kegiatan usaha hulu migas di wilayah perbatasan, yang dioperasikan Indonesia bersama perusahaan mitra kerja, meminimalisir peluang negara lain mencaplok wilayah NKRI.

Jadi, Industri Hulu Migas Nasional, tak hanya sekedar bertugas menemukan kotak pandora berisi minyak dan gas, kemudian mengeksploitasinya. Ada tantangan pembangunan energi nasional yang harus dapat dipenuhi, yakni Ketahanan energi dari aspek ketersediaan (availability), terjangkau (affordability), mudah diakses (accessibility), dapat diserap oleh pasar/pengguna (acceptability), dan berkelanjutan (continuity).

Tulisan: Alfiana

Loading...
Loading...