Selasa | 19 Januari 2021 |
×

Pencarian

KEPRI

Gasing: Permainan Rakyat yang Masih Berputar

GASING merupakan permainan rakyat yang masih berputar di wilayah di Provinsi Kepulauan Riau. Namun, seiring kemajuan zaman, putaran gasing ini dari waktu ke waktu kian berkurang, bahkan dikhawatirkan berhenti. Tidak ada lagi yang berminat memainkan permainan rakyat ini lagi.

Peminat gasing saat ini tinggal dari kalangan orang tua-tua saja. Sedangkan dari kalangan generasi muda, sangat minim sekali. Itupun hanya sebatas memainkan saja. Mereka tidak mengetahui sama sekali cara membuat gasing ataupun nilai-nilai yang terkandung dalam permainan gasing

Loading...

Masyarakat Melayu di Kepulauan Riau hanya mengenal tiga musim, yaitu musim utara, selatan dan musim barat. Pada waktu musim utara dan barat, yang berlangsung dari bulan September hingga Februari, mereka biasanya tidak turun ke laut karena ombak yang terlalu besar. Untuk mengisi waktu senggang, nelayan di Kepulauan Riau memperbaiki jaring dan peralatan menangkap ikan lainnya.

Pada saat musim utara dan barat inilah biasanya permainan gasing mereka lakukan. Permainan yang dimainkan oleh semua lapisan masyarakat ini sangat digemari karena mempunyai sifat ketangkasan dan kecermatan para pemainnya. Umumnya, gasing dimainkan oleh laki-laki dewasa dan anak-anak. Gasing dapat dimainkan di sembarang waktu, pagi, siang atau sore hari.

Proses membuat gasing tidaklah terlau rumit. Yang penting kayu sebagai bahan pembuat gasing mestilah berasal dari kayu yang keras dan kuat, seperti kayu mentigi atau kayu rokan. Bahan gasing harus dari kayu yang keras karena bila dimainkan tidak mudah patah atau retak. Adapun peralatan yang digunakan untuk membuat gasing adalah parang, ketam, dan kertas pasir

Setelah kayu yang bagus tersedia, kayu tersebut dipotong sesuai ukuran yang dikehendaki, misalnya satu jengkal orang dewasa, atau sekitar dua puluh sentimeter dan lebar lima belas sentimeter. Kayu yang telah dipotong itu dihaluskan dengan menggunakan ketam. Setelah kayu itu bersih, digunakan parang untyuk membulatkannya.

Loading...

Bila gasing sudah terbentuk, gunakanlah kertas pasir untuk melicinkannya. Setelah gasing selesai dibuat, di bagian bawahnya, dipantakkan paku, yang sering disebut paksi, sesuai dengan ukuran gasing. Memantakkan paku ke badan gasing tidak boleh terlampau panjang. Karena bila terlalu panjang paku yang keluar dari badan gasing, maka paku tersebut akan mengorek tanah, membuat gasing tidak dapat berputar dengan baik dan cepat.

Adapun alat untuk memutar atau melempar gasing digunakan tali yang kuat, disebut dengan tali alit. Panjang tali alit biasanya satu setengah meter. Tali ini berbentuk bulat kecil, namun di tengah-tengah tali bentuknya agak besar, sehingga bila disentakkan, tali tersebut dapat menahan gasing sehingga berputar (linyak) dengan cepat dan lama. Pada bagian ujung tali alit dibuat rambu-rambu. Sedang di ujung lainnya disimpulkan untuk tempat memasukkan jari sewaktu memuat atau melempar gasing.

Sesuai bentuknya, gasing memiiki empat bagian penting, yaitu, kepala gasing yang terdapat di bagian atas gasing berbentuk bulat kecil dan biasanya diberi tempelan tembaga. Kemudian badan gasing, yang berada di bagian tengah, berbentuk bulat besar, ceper atau pipih. Kemudian bagian yang menonjol bawah gasing yang disebut patak. Sedangkan paku yang menempel pada patak disebut dengan paksi.

Untuk penamaan, terdapat bermacam-macam nama gasing, diantaranya gasing berembang, gasing botol, gasing jantung, gasing leper dan gasing cina. Di Provinsi Kepulauan Riau dikenal dua jenis permainan gasing yaitu, gasing pangkah dan gasing uri.

Selama ini tidak ada ukuran tertentu sebagai arena bermain gasing. Masyarakat biasanya menggunakan lapangan yang dirasa cukup keras tanahnya sebagai gelanggang permainan. Gasing dimainkan secara perorangan, bukan kelompok.

Mula-mula kepala gasing dililit dengan tali alit. Kemudian kita masukkan jari ke ujung yang lain. Setelah itu gasing yang telah dililit dilemparkan ke tanah hingga berputar. Pemain yang putarannya paling lama, itulah yang menang. Sedangkan gasing lawan yang kalah, harus menahan pangkahan, atau lemparan dari gasing yang menang tersebut.

Dari sinilah permainan gasing pangkah dimulai. Gasing yang kalah dilempar terlebih dahulu hingga berputar atau linyak. Kemudian, gasing yang menang akan memangkah gasing yang telah linyak lebih dahulu. Apabila, gasing yang dipangkah terlempar jauh, maka gasing tersebut dinyatakan kalah.

Dan bila gasing yang kalah tadi sudah terlempar, tapi bila pemain yang menang masih ingin memangkahnya, maka gasing tersebut dapat dipangkah lagi di tempatnya. Akan tetapi bila gasing pemangkah tidak dapat melemparkan gasing penahan (gasing yang kalah), maka gasing pemangkah tersebut yang dinyatakan kalah. Ia harus berganti posisi menjadi gasing penahan pangkahan gasing lawan. Begitu seterusnya hingga permainan ini berakhir.

Dalam permainan gasing terdapat sejumlah istilah, seperti raja, menteri, dan kuli. Gasing yang paling lama berputar menjadi gasing raja, yang kedua menjadi menteri, sedangkan yang terakir adalah gasing kuli.

Gasing kuli harus menahan pangkahan dari gasing raja dan gasing menteri. Apabila gasing kuli terlempar terkena pangkahan gasing raja atau gasing menteri, maka selamanya ia akan tetap menjadi gasing kuli. Namun apabila gasing raja tidak dapat memangkah gasing kuli, maka ia akan turun derajatnya menjadi gasing menteri.

Bila sudah menjadi menteri, gasing raja inipun tidak dapat memangkah gasing lawan hingga akhirnya menjadi gasing kuli. Begitu juga dengan gasing menteri, bila tidak dapat memangkah gasing lawan, ia akan turun menjadi gasing kuli. Sebaliknya, bila gasing kuli tidak dapat dipangkah, oleh gasing menteri maka ia naik menjadi gasing menteri.

Begitu pula kalau gasing kuli yang sudah menjadi menteri tersebut menang dalam memangkah, maka ia akan naik lagi menjadi gasing raja. Seperti diketahui, gasing kuli dipangkah oleh gasing menteri dan gasing raja secara berturut-turut.

Keberadaan permainan gasing di Provinsi Kepulauan Riau dewasa ini, tidak lebih sebagai permainan rakyat. Selain berfungsi sebagai alat hiburan, gasing juga berfungsi untuk mengembangkan keterampilan, kecepatan dan ketepatan dalam melemparkan gasing.

Tanpa adanya keterampilan memutar gasing, maka gasing tidak akan dapat berputar dengan baik. Begitu pula dalam hal kecepatan dan ketepatan. Apabila sudah dirasa gasing cukup kuat untuk dilemparkan, maka pemain harus dengan cepat melemparkan gasing tersebut dengan ketepatan gasing menyentuhkan paksinya ke tanah sehingga gasing yang dilemparkan dapat berputar (linyak) dengan baik dan lama. (eddy supriatna)

Loading...
Loading...