Rabu | 27 Januari 2021 |
×

Pencarian

HARI INI SEJARAH

Raden Trunajaya Tewas Ditangan Pengawal Amangkurat II saat Ditahan VOC

MEDIAKEPRI.CO.ID – Bangsawan Madura, Raden Trunajaya tewas ditangan seorang pengawal Amangkurat II saat menjalani masa penahanan oleh VOC.

Penahanan Raden Trunajaya ini setelah ia melakukan pemberontakan yang sebut dengan Pemberontakan Trunajaya. Dalam melakukan pemberotakan, Trunajaya dibantu sekutunya pasukan dari Makassar.

Loading...

Pemberontakan Trunajaya (atau Perang Trunajaya, juga dieja Pemberontakan Trunojoyo) adalah pemberontakan yang dilakukan Trunajaya terhadap Kesultanan Mataram.

Namun karena Kesultanan Mataram dibantu oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) di Jawa pada dekade 1670-an. Hingga akhirnya, pemberontakan ini berakhir dengan kemenangan Mataram dan VOC.

Dikutip dari wikipedia, perang ini berawal dengan kemenangan pihak pemberontak. Pasukan Trunajaya mengalahkan pasukan kerajaan di Gegodog (1676). Lalu ia juga menduduki hampir seluruh pantai utara Jawa dan merebut keraton Mataram di Keraton Plered (1677).

Raja Amangkurat I meninggal ketika melarikan diri dari keraton. Ia digantikan oleh anaknya, Amangkurat II.

Loading...

Agar mendapat kekuatan, ia meminta bantuan kepada VOC. Untuk bantuan ini, ia menjanjikan pembayaran dalam bentuk uang dan wilayah.

Keterlibatan VOC membalikkan situasi. Pasukan VOC dan Mataram merebut kembali daerah Mataram yang diduduki, dan merebut ibu kota Trunajaya di Kediri (1678).

Pemberontakan terus berlangsung hingga Trunajaya ditangkap VOC pada akhir 1679, dan juga kekalahan, kematian atau menyerahnya pemimpin pemberontakan lain (1679–1680).

Trunajaya menjadi tawanan VOC, tetapi dibunuh oleh Amangkurat II saat kunjungan raja pada 1680.

Selain Trunajaya dan sekutunya, Amangkurat II juga menghadapi upaya-upaya lain untuk merebut takhta Mataram pasca kematian ayahnya. Rival paling serius adalah adiknya, Pangeran Puger (kelak Pakubuwana I) yang merebut Keraton Plered setelah ditinggalkan pasukan Trunajaya pada 1677 dan baru menyerah pada 1681.

Kemenangan loyalis dan kematian Trunajaya

Pasukan VOC menyerbu ibu kota Trunajaya di Kediri pada 1678. Digambarkan dalam sebuah buku cerita anak-anak Belanda pada 1890.

Pasukan VOC dan Mataram bergerak ke pedalaman melawan Kediri pada September 1678. Sesuai saran raja, pasukan tersebut dipecah menjadi tiga barisan, tanpa rute langsung, dengan tujuan untuk mencakup lebih banyak lokasi dan menimbulkan rasa kagum pada orang-orang yang merasa ragu untuk berpihak.

Ide raja berhasil, dan saat kampanye militer berlanjut, kelompok-kelompok lokal bergabung dengan pasukan, yang sangat menginginkan barang rampasan. Kediri direbut pada 25 November oleh pasukan penyerangan yang dipimpin oleh Kapten François Tack.

Pasukan yang menang tersebut melanjutkan ke Surabaya, kota terbesar di Jawa Timur, tempat Amangkurat mendirikan keratonnya.

Di tempat lain, para pemberontak juga dikalahkan. Pada September 1679, gabungan pasukan VOC, Jawa, dan Bugis di bawah Sindu Reja dan Jan Albert Sloot mengalahkan Raden Kajoran dalam pertempuran di Mlambang, dekat Pajang.

Kajoran menyerah tetapi dieksekusi atas perintah Sloot. Pada November, VOC dan pasukan Bugis bersekutu di bawah Arung Palakka menghancurkan benteng para pemberontak Makassar di Keper, Jawa Timur.

Pada April 1680, setelah apa yang oleh VOC anggap sebagai pertempuran sengit dalam perang, penguasa Giri yang memberontak dikalahkan dan sebagian besar keluarganya dieksekusi. Karena VOC dan Amangkurat meraih lebih banyak kemenangan, semakin banyak orang Jawa menyatakan kesetiaan mereka kepada raja.

Setelah bentengnya jatuh di Kediri, Trunajaya berhasil melarikan diri ke pegunungan di Jawa timur. Pasukan VOC dan raja mengejar Trunajaya, yang terkucil dan kekurangan makanan, menyerah kepada VOC pada akhir 1679.
Awalnya, dia diperlakukan dengan hormat sebagai tawanan komandan VOC. Namun, saat melakukan kunjungan seremonial ke kediaman bangsawan di Payak, Jawa Timur, pada 2 Januari 1680, dia ditikam oleh Amangkurat sendiri, dan orang istana raja menghabisinya.

Raja membela pembunuhan seorang tahanan VOC ini dengan mengatakan bahwa Trunajaya telah mencoba membunuhnya. VOC tidak yakin dengan penjelasan ini, tetapi memilih untuk tidak menghukum raja.

Sebuah cerita romantis mengenai kematian Trunajaya muncul dalam babad Jawa Tengah abad ke-18. (***)

Loading...
Loading...