Kamis | 21 Januari 2021 |
×

Pencarian

OLAHRAGA

Waspada! Bersepeda Ekstrem Bisa Bahayakan Fisik dan Mental

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Tren bersepeda kini tengah naik daun. Sayangnya kegiatan ini tidak diimbangi dengan pengetahuan yang mumpuni.

Hal ini disorot oleh salah seorang pesepeda, Rivopamudji dalam akun Instagramnya. Ia melihat saat ini tren yang berkembang adalah adu cepat bersepeda dengan kecepatan setinggi mungkin hingga bersepeda dengan menyelesaikan jarak 500-600 kilometer dalam waktu tempuh kurang dari 24 jam.

Loading...

Tetapi apakah betul hal ini dapat menyehatkan tubuh ?

Dilansir dari sindonews.com, dr. Yohan Samudra, SpGK, AIFO-K mengatakan, pada dasarnya tubuh manusia tidak dirancang untuk lari marathon atau bersepeda hingga berpuluh-puluh kilometer bahkan ratusan kilometer.

“Apalagi jika ditambah tantangan adu kuat, seperti yang tercepat, terjauh, dan terlama, maka ini merupakan olahraga intensitas tinggi yang justru akan membahayakan tubuh,” tegas Ahli Ilmu Faal Olahraga ini dari Primaya Hospital Tangerang ketika dihubungi.

Sementara itu Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) telah mengingatkan masyarakat untuk tidak overtraining atau olahraga secara berlebihan dengan intensitas tinggi. Anjuran itu dijelaskan dengan gambaran sebuah kurva berbentuk “huruf J” yang menyatakan bahwa latihan fisik intensitas sedang dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Loading...

“Sedangkan latihan dengan intensitas tinggi justru akan menurunkan imunitas tubuh sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi ,” jelas dr. Michael Triangto, SpKO.

Tubuh akhirnya bereaksi negatif terhadap olahraga yang dilakukan dengan keras atau berlebihan, hal ini juga disebut dengan overtraining syndrome (OTS). Alhasil muncullah berbagai gejala kesehatan baik fisik maupun mental.

Sindrom ini bisa menyerang siapapun yang melakukan plahraga dengan durasi tinggi tanpa diimbangi istirahat cukup.

Manifestasi OTS seperti gejala flu tanpa adanya tanda infeksi. Bisa juga minat latihan atau berkompetisi menjadi berkurang. Termasuk meningkatnya waktu tidur siang, bangun tidur tidak segar, nafsu makan berkurang, konsentrasi berkurang, perubahan mood, nyeri, anemia, hingga gangguan makan.

Ciri lain olahraga berlebih adalah jika ada luka yang lama sembuh afau flu yang tidak kunjung hilang, itu artinya tubuh tengah berupaya lebih untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Dr. Yohan menuturkan, dalam ilmu nutrisi dan fisiologi olahraga, tidak disarankan untuk memulai olahraga intensitas tinggi jika sebelumnya tidak melalui persiapan terlebih dahulu. Apa saja persiapannya?, “misalnya menguji daya tahan paru, kekuatan otot, ketahanan otot, kelentukan dan komposisi tubuh,” terangnya.

Hal ini masih harus diimbangi dengan istirahat cukup, pengelolaan stres, dan pola makan gizi seimbang yang kaya antioksidan. Ia juga mengingatkan bahwa beberapa orang dengan variasi genetik tertentu sangat rentan terhadap oksidan atau radikal bebas yang tinggi pada olahraga intensitas tinggi, sehingga mudah cedera, serangan jantung bahkan kematian.

Bagi orang yang sudah terlatih melakukan sepeda jarak jauh, siapkan energi dengan karbo loading sekitar 4-5 jam sebelum kegiatan. Yaitu makan lengkap dengan protein dan lemak dan sekitar 50-70% karbohidrat dalam satu piring. Untuk 2-3 jam sebelum kegiatan dapat mengkonsumsi minuman elektrolit.

Adapun untuk olahraga endurance misalnya bersepeda lebih dari satu jam, dr. Yohan mengingatkan pentingnya penggantian cairan dan elektrolit saat istirahat.

“Natrium merupakan yang paling banyak hilang, diikuti dengan kalium, kalsium dan magnesium dalam jumlah yang lebih sedikit. Kehilangan elektrolit ini harus segera diganti karena dapat menyebabkan kram, mual muntah, kejang, gangguan irama jantung, bahkan pingsan,” ungkapnya

Kopi atau gorengan yang tinggi lemak jenuh, jelas bukan opsi yang baik. Dampaknya, peradangan di tubuh akan semakin meningkat dan bersifat merusak pembuluh darah dan saraf. Terlebih menyantap nasi padang atau sate kambing setelah bersepeda.

Dampaknya dalam jangka panjang tentu dapat menyebabkan tekanan darah dan meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, terutama pada pelaku olahraga intensitas tinggi.

Makan porsi besar segera setelah bersepeda jarak jauh juga dapat ‘memaksa’ oksigen yang tadinya berkumpul di otot, jantung dan paru, pindah ke saluran pencernaan sehingga mengganggu pemulihan. Sri noviarni. (*)

Loading...
Loading...