Selasa | 09 Agustus 2022 |
×

Pencarian

KARIMUN

Kasus HIV AIDS di Kabupaten Karimun Kepri Turun Sejak Pandemi Covid-19

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karimun – Sejak Covid-19 melanda di awal-awal tahun 2020, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karimun justeru mencatat temuan kasus HIV/AIDS mengalami tren penurunan.

Praktis sejak ditemukannya Covid-19 di awal tahun 2020, jumlah kasus HIV/AIDS ini terus menurun. Pada 2020 dengan penemuan kasus 66 Kasus HIV dan 19 AIDS dan pada 2021 ‘hanya’ sebanyak 50 kasus HIV dan 5 Kasus Aids.

Menurunnya kasus HIV/AIDS ini berhubungan erat dengan adanya pandemi Covid-19. Pasalnya, beberapa media penyebarannya, seperti lokalisasi dan prostitusi nyaris berkurang karena adanya pembatasan-pembatasan dan tutupnya dunia hiburan malam.

Para penjaja seks juga banyak yang tidak lagi beroperasi karena pelanggannya sudah tidak lagi dapat tempat atau fasilitas, seperti lokalisasi yang semakin sepi. “Terutama, pendapatan masyarakat pelanggan juga rendah saat Covid,” ujar Sam seorang warga Karimun kepada MEDIAKEPRI.

Satu faktor lainnya yang tak kalah besar pengaruhnya terhadap turunnya angka kasus penyebaran HIV/AIDS adalah ditutupnya pintu masuk dari Malaysia dan Singapura. Diketahui, kehidupan prostitusi di daerah ini disebabkan adanya pelanggan dari luar negeri tersebut.

“Praktis mereka yang menjadi simpanan atau cewek-cewek yang dibooking wisatawan Malaysia dan Singapura itu, tak ada pendapatan lagi. Akhirnya banyak yang pulang kampung,” jelas Iman seorang warga lainnya menimpali.

Pada 2021 sebanyak 55 kasus, lalu jika dibandingkan pada 2020 dengan penemuan kasus sebanyak 66. Terhitung sejak 2018, angka kasus HIV/ AIDS di Kabupaten Karimun terus menunjukkan tren penurunan.

Pada 2018 tercatat sebanyak 116 Kasus HIV dan 60 kasus AIDS. Seiring berjalannya waktu, angka penemuan kasus alami penurunan, pada 2019 sebanyak 77 kasus HIV dan 38 kasus Aids.

Rachmadi yang dikonfirmasi terkait penyebab turunnya angka kasus penyebaran HIV/AIDS, belum memberikan jawabannya.

Perlu diketahui, Ada perbedaan antara HIV dengan AIDS itu. Perbedaan yang mendasar adalah penanganannya.

HIV adalah sebutan untuk virus yang termasuk dalam kelompok retrovirus. HIV menyerang sel darah putih di dalam sistem kekebalan tubuh manusia.

Sel-sel ini akan tetap terinfeksi selama sisa hidup mereka.

Saat seseorang yang terinfeksi HIV tak mendapat pengobatan dan perawatan yang tepat, maka ia akan mengembangkan kondisi yang kemudian disebut AIDS.

Sementara AIDS disebut tahap akhir atau penyakit HIV lanjut dan merupakan istilah umum untuk penyakit yang terjadi karena infeksi HIV yang tidak diobati selama beberapa tahun.

Kondisi AIDS ini menyebabkan sistem imun tubuh mengalami kerusakan parah dan tak bisa lagi melawan infeksi yang menyerang tubuh.

Kepala Dinas Kesehatan Karimun Rachmadi mengatakan, dalam kurun waktu empat tahun belakangan pihaknya menemukan 431 kasus dengan angka kematian sebanyak 18 orang.

“Selama 4 tahun ini sudah kami temukan 309 kasus HIV 122 kasus AIDS. Dari jumlah itu angka kematian ada 18 orang,” kata Rachmadi.

Rachmadi mengatakan, kasus- kasus HIV/ AIDS ini ditemukan dari hasil screening yang dilakukan oleh pihaknya selama tahun 2018 dengan metode kegiatan pelayanan dari Dinkes Karimun berupa program- program di Masyarakat.

“Ada beberapa kategori pelayanan yang kami berikan di kelompok- kelompok masyarakat yang rentan terkena HIV dan AIDS. Ada 13 kategori, termasuk PSK, Pekerja Tempat Hiburan malam dan juga Teraphist Massage,” katanya.

Ia mengatakan, terhadap penderita HIV Aids cenderung jarang dilaporkan langsung oleh penderitanya, melainkan didapatkan dari hasil pencarian tim medis di lapangan.

“Penderita HIV ini biasanya enggan untuk melakukan pemeriksaan karena malu. Sehingga kalau kita diam, tidak ditemukan,”katanya.

Dalam penanganannya, menurut Rachmadi saat ini hampir seluruh Puskesmas di Kabupaten Karimun sudah dapat melayani pemeriksaan HIV. Berbeda dari sebelumnya yang hanya dapat dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit.

“Di Puskesmas itu ada program pencegahan penulan ibu HIv Aids kepada anaknya. Jadi program itu apabila ada kita ada temukan kasus HIV kepada ibu hamil langsung dilakukan penanganan berdasarkam ketentuan yang seharusnya,” katanya. (Sarih)