Minggu | 14 Agustus 2022 |
×

Pencarian

OPINI

Kisah Kecerdikan Abu Nawas Sebagai Kebenaran Palsu (Fake Thruth)

Oleh : Dr. Andry Wibowo, SIK, MH, M.Si.

“Suatu hari raja Harun Al Rasyid berjalan-jalan di pasar. Tiba-tiba ia memergoki Abu Nawas tengah memegang botol berisi anggur. Raja menegur sang penyair, “wahai Abu Nawas, apa yang kau pegang itu ?” Dengan gugup dia menjawab, “ini susu baginda.”

“Bagaimana mungkin air susu berwarna merah, bukankah susu berwarna putih bersih,“ kata sang raja keheranan sambil memegang botol susu milik Abu Nawas. “Betul baginda, awalnya air susu ini berwarna putih bersih, tetapi saat melihat baginda yang gagah rupawan datang, ia tersipu dan merah merona.” Mendengar jawaban Abu Nawas, baginda raja Harun Al Rasyid tersenyum dan meninggalkan Abu Nawas sambil menggelengkan kepala.”

Post thruth telah menjadi dalil baru sebagai pijakan asumsi atau pandangan terhadap fenomena kebohongan yang terjadi di ruang publik. Terjadi pada zaman dimana dunia terkoneksi secara global melalui kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Menjadikan setiap orang dapat berbicara dan menyebarluaskan informasi dengan cepat yang validitas dan akurasi kebenaran dari muatan yang disampaikannya patut dipertanyakan.

Peristiwa ini semakin masif dilakukan banyak orang dengan berbagai kepentingan. Mulai dari yang bersifat sensasional sampai dengan yang berhubungan dengan kapitalisasi informasi bohong sebagai instrumen agitasi dan propaganda maupun pengaburan atas informasi sesungguhnya.

Dunia informasi menjadi gaduh dibanjiri produk informasi baik yang valid dan faktual maupun produk informasi yang invalid dan menyesatkan (infodemik). Situasi yang melahirkan suatu masyarakat informasi yang paradoks.

Dalam satu sisi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi melahirkan sub kultur konstruktif dalam masyarakat. Kelompok yang mampu memproduksi dan mengkonsumsi informasi sebagai energi baru bagi dirinya untuk merancang kehidupan dan masa depan yang berkemajuan.

Namun pada sisi lainnya melahirkan kelompok masyarakat yang memiliki sub kultur destruktif, yang menjadikan kemajuan teknologi IT sebagai sarana memproduksi kebohongan. Perilaku jahat karena menganggap kebohongan sebagai cara untuk membenarkan kesalahan. Melakukan manipulasi sebuah peritiswa yang disusun dengan sadar dan sistematis, bahkan dramatik, namun kebenarannya diragukan. Konsepsi bertindak dengan cara demikian pada saat ini disebut dengan rasionalitas palsu / akal-akalan ( false rationality ).

Banyak pihak menganggap fenomena diatas sebagai tindakan rekayasa (engeenering ). Namun bagi saya upaya akal-akalan memiliki perbedaan pemaknaan dengan rekayasa sesungguhnya (engeenering). Dalam beberapa strategi pembangunan sosial masyarakat, pendekatan rekayasa sosial bermakna positif. Sebagai suatu upaya sadar dengan pendekatan yang logis berbasis rasionalitas. Sebagai contoh adalah traffic engeenering (rekayasa lalu lintas) yang sering digunakan sebagai strategi menyiapkan kondisi kelalulintasan untuk bisa digunakan publik dengan aman, selamat dan teratur.

Sebaliknya akal-akalan (fake mind) lahir dari pemikiran dengan niat manipulatif yang bertujuan membangun logika palsu (fake logical). Melakukan kebohongan melalui desain cerita atau informasi yang tidak faktual dan valid ( Fake News ).

Akal-akalan merupakan produk dari pemikiran atau kecerdasan manusia. Namun kecerdasannya atau akalnya dipaksa untuk mengkonstruksikan sesuatu peristiwa atau informasi yang lemah dari sisi validitas data. Sebuah upaya dengan tujuan kebenaran yang salah (false thruth) atau kebenaran palsu (fake thruth) diyakini sebagai kebenaran oleh orang lain.

Kisah akal-akalan Abu Nawas yang cerdik dalam membangun cerita merupakan contoh “fake thruth.” Dan sampai saat ini menjadi bayang-bayang peradaban disemua sendi kehidupan. Sehingga kewarasan dan sikap kritis kita menjadi satu-satunya jalan agar terhindar dari kesesatan. Sebagaimana logika ilmu pengetahuan yang menganjurkan keraguan, dan terbuka untuk menguji dan membuktikan kebenaran. Meragukan menjadi cara untuk terhindar menjadi korban dari dunia yang sedang dikuasai oleh kepalsuan disegala bidang.

Teringat pesan orang tua dulu, hiduplah dengan benar dan jujur, karena kebenaran dan kejujuran akan menyelamatkan dirimu dan menjaga kehormatanmu. Hidup memang sebuah pilihan (rational choice). Kalau tersedia jalan yang benar, mengapa kita memilih jalan yang salah ? Bukankah “ waktu “ adalah kuasa-Nya ? Masa lalu tidak akan kembali, masa kini pasti dilewati, sedangkan masa depan masih menjadi misteri.

Jadilah cahaya dimanapun kita berada. Warisan berharga yang memberi terang jalan menuju masa depan yang penuh misteri.

Yogyakarta, Agustus 2022

Penulis adalah Doktor di Bidang Manajemen Kerumunan dan Konflik Identitas, Pemerhati Soal Soal Kebangsaan dan Perilaku Sosial, Pengalaman Ops Dalam dan Luar Negeri, Alumni Sekolah Pasukan Khusus Italia, Pengalaman di Bidang Investigasi dan Telik Sandi, Key Note Speech Tentang Strategi Pengamanan Olimpiade Beijing.