Minggu | 02 Oktober 2022 |
×

Pencarian

OPINI

Membaca Amsakar

Amsakar mulai dilirik Ansar Ahmad. Karena alasannya sama sama Ahmad. Sementara di nama depan juga sama dimulai dengan huruf A. Begitulah kira kira Ansar menggoda Amsakar di depan publik saat pidato resmi di acara MTQ di Anambas. Cuma jadi pertanyaan, apakah Amsakar mau?

Amsakar berasal dari Lingga. Sosok ketua KAHMI Batam itu sejak jadi pejabat eselon III sudah dekat dengan Muhammad Rudi yang saat ini adalah walikota Batam. Tentu melebihi kedekatan dengan Ansar Ahmad.

Ada informasi yang menyebutkan, Rudi lah yang mempromosikan Amsakar untuk menjadi kepala dinas Perdagangan dan Perindustrian Batam ketika itu.

Amsakar juga Ketua DPD Partai NasDem Kota Batam di mana Muhammad Rudi juga ketua DPW Nasdem Kepulauan Riau. Lalu kalau ditambahkan, Amsakar ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Batam. Rudi juga Ketua DMI Kepulauan Riau yang menggantikan Huzrin Hood.

Ketika ada tiga nama yang akan dipilih Rudi untuk menjadi wakilnya di pilkada 2015, ada nama Amsakar saat itu kadis Perdagangan. Kemudian ada Jefridin, dan Muslim Bidin yang tak lain anak watan Batam.

Dari sisi finansial di saat itu, bisa saja Amsakar kalah jauh dibandingkan dengan Jefridin. Akhirnya dengan pelbagai pertimbangan, Rudi memilih Amsakar.

Ia sosok yang istimewa di mata Rudi mengalahkan Jefridin dan Muslim. Amsakar terkenal loyal dengan orang yang “membesarkannya”.

Dan pasangan ini menang untuk pertama kalinya. Kemudian menang kedua di pilkada 2020, Rudi dan Amsakar kembali berpasangan. Artinya ada kecocokan antara walikota dan wakilnya.

Banyak kepala daerah hanya bertahan satu periode saja karena ketidakcocokan dengan wakil.

Bahkan dengan semua wakilnya tidak cocok. Selalu berkonflik dengan wakil kepala daerah banyak kita jumpai di Indonesia. Bukan hanya di Kepri kejadian tersebut.

Kemenangan Rudi dan Amsakar pada pilkada kedua mereka menembus 72 persen. Itupun informasinya Rudi tak banyak kampanye untuk dirinya. Dia lebih fokus membantu istrinya Marlin yang saat itu pilkada serentak berpasangan dengan Ansar Ahmad.

Ansar dan Marlin tak terlalu jauh kalah dengan Isdianto yang berpasangan dengan Suryani di Batam. Jika Ansar bukan berpasangan dengan Marlin, bisa saja kekalahan Ansar Ahmad bisa lebih besar di Batam.

Kekalahan tipis di Batam dan menang telak di Bintan dan Tanjungpinang membuat suara Ansar jauh meninggalkan Isdianto yang menang tipis di Karimun dan Batam. Dan pasangan ini kemudian dilantik menjadi kepala daerah Kepri sampai 2024. Tak dapat ditutupi, pasangan ini kelihatan tak cocok.

Kembali ke Amsakar, jika melihat track record politik, Amsakar bukanlah tipe yang mau “menikam” kawan dari belakang. Ia menjalani kaderisasi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Universitas Riau. Paham betul soal organisasi apalagi hormat dengan senior.

Jika berceramah Amsakar banyak mengutip teori teori sosial yang terkenal di dunia. Ia layaknya dosen mengajar mahasiswa. Bukan politisi yang bisa berkata A hari ini besok berkata B. Penulis meyakini Amsakar bukan pemuja Machiavelli. Atau pun Ken Arok yang mengorbankan segalanya demi mencapai kekuasaan.

Amsakar mengambil jurusan sosiologi di Fisipol UNRI. Ia tahu bagaimana bersikap dan menentukan langkah politik ke depan dengan berlapang dada. Karena dia juga satu perahu di NasDem bersama Rudi yang mengajak Amsakar menjadi orang nomor 2 di Batam.

Pilkada 2024 masih dua tahun lagi. Manuver politik silakan saja untuk menawarkan diri dan membaca peluang. Jika di NasDem mulai muncul spanduk Marlin Agustina akan dicalonkan ke pilkada Batam 2024, itu sah sah saja.

Karena Amsakar pun bisa menjadi wakil Rudi di Pilgub Kepri 2024. Sama halnya ketika Muhammad Sani mengajak Nurdin Basirun di Pilgub 2015.

Bahkan ada pilihan lain. Amsakar juga sangat mungkin dicalonkan menjadi anggota DPRD Kepulauan Riau.
Kemudian, Amsakar juga bisa dicalonkan ke DPR RI dari Nasdem bersama politisi Nyat Kadir atau ke DPD RI.

Penulis meyakini Amsakar tak tertarik menjadi wakil Ansar Ahmad dan secara terang terangan akan melawan Muhammad Rudi di Pilgub 2024. Ataupun melawan Marlin Agustina di pilkada Batam.

Tapi di politik terkadang semua bisa terjadi. Dan Muhammad Rudi pun juga harus siap jika ternyata Amsakar ternyata dilamar serius Ansar. Dan Amsakar bersedia. Ataupun melawan Marlin di pilkada Batam. Tentu kepastian ini akan dilihat ada 2024 saat menjelang pendaftaran.

Karena politik adalah seni untuk mendapatkan kekuasaan. Tak jarang, terkadang politisi harus memilih mana yang menurutnya langkah terbaik menentukan laju bidak agar terus menang. Dan *

Robby Patria, Direktur Perwakilan Public Trust Institute Kepulauan Riau