mediakepri
Senin, 04 Maret 2024 |
×

Senin, 04 Maret 2024

OPINI

Bagaimana Esensi IKM

| Jumat | 26 Januari 2024 | 16:28 | Tidak ada komentar

Oleh : Jasimah, S.Pd.I

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bengkalis — Apa itu IKM ? Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang merupakan salah satu program prioritas lintas unit utama di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia yang melibatkan Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dikdasmen), Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) serta Direktorat Jenderal (Ditjen) Vokasi.

Secara konsep dan esensi, pendidikan di Indonesia sudah ideal, sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Selain berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, pendidikan harus berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan Indonesia serta menyesuaikan dengan tuntutan perubahan zaman.

Pemerintah terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan negara, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa yang pada gilirannya sangat mempengaruhi dalam peningkatan kesejahteraan sosial.

Pendidikan juga berperan penting dan strategis dalam pembangunan bangsa serta berkontribusi signifikan atas pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial.

Untuk mencapai tujuan tersebut, beberapa inovasi di dunia pendidikan digulirkan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk mengatasi segala persoalan setelah musibah Covid-19 yang mengubah tatanan dan pola kehidupan bangsa ini.

Salah satu langkah solutif dan inovatif tersebut ialah kebijakan Kemendikbudristek menerbitkan Kurikulum Merdeka Belajar pada Februari 2022 lalu.

Tujuan kurikulum ini ialah mengatasi ketertinggalan pembelajaran yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Lalu Bagaimana Menerapkan Kurikulum Merdeka di Satuan Pendidikan ?

Tahun 2023, setiap satuan pendidikan sudah sangat akrab dengan istilah Kurikulum Merdeka. Bagi satuan pendidikan yang akan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dapat memilih satu dari tiga tingkatan opsi dari level pemula hingga level lanjutan yaitu mandiri belajar, mandiri berubah dan mandiri berbagi dengan kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan.

Selain berdasarkan tingkatan level, sebagai upaya pemulihan pembelajaran, Kurikulum Merdeka dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang fleksibel, mengutamakan materi esensial dan menyesuaikan dengan kebutuhan belajar dan kemampuan dasar peserta didik.

Dalam upaya menyesuaikan kemampuan peserta didik, guru bisa menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan karakteristik belajar peserta didik seperti audio, visual dan kinestetik.

Pembelajaran berdiferensisasi ini dapat dikembangkan melalui pemilihan pada bagian proses pembelajaran, konten maupun produk atau guru bisa mengkombinasikan dari ketiganya berdasarkan tingkat pemahaman dan kesiapan peserta didik.

Pada tingkatan satuan pendidikan SMP, tingkat perkembangan peserta didik digolongkan pada perkembangan Fase D, yaitu peserta didik yang duduk dibangku kelas 7 sampai kelas 9, dengan usia kronoligis 13 – 15 tahun.

Di tingkat SMP, mata pelajaran informatika adalah mata pelajaran wajib yang masuk kedalam kelompok mata pelajaran umum.

Selain itu IKM mewajibkan satuan pendidikan menerapkan pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang terintegrasi dalam proses pembelajaran intrakurikuler.

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) mengembangkan pelajar yang berkarakter Pancasila yaitu pada dimensi beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif dan bernalar kritis. Dengan mengimplementasikan P5, pendidik berperan sebagai fasilisator yang menemani proses pembelajaran peserta didik untuk menumbuhkan dan membangun karakter luhur pelajar Pancasila sehingga dapat menunjukkan sikap dan perilaku sesuai jati diri Bangsa Indonesia.

Penulis merupakan lulusan STAIN Bengkalis Tahun 2007 dan bekerja sebagai guru di SMPN 1 Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.