Selasa | 20 Februari 2024 |
×

Pencarian

KEPRI

Pulau Penyengat : Jejak Sejarah, Budaya Melayu, dan Wisata Religi di Kepri

“Belum ke Tanjungpinang, bila belum berkunjung ke Pulau Penyengat.” Ungkapan itulah yang membuat Gubernur Kepri Ansar Ahmad meminta pengurus PWI Kepri berkunjung ke Penyengat sebelum kembali pulang ke Batam, Rabu 1 Februari 2024 sore.

MEDIAKEPRI.CO.ID – Waktu itu pengurus PWI Kepri yang baru dijamu Gubernur Ansar di The Manabu Tepi Laut Tanjungpinang. Dari PWI Kepri hadir Ketua Andi, Sekretaris Amril, Ketua DK Ramon Damora, Ketua Dewan Penasehat Richard Nainggolan dan pengurus harian lainnya.

Sementara Gubernur Ansar didampingi Kadis Kominfo Hasan yang juga Pj Wali Kota Tanjungpinang.

Usai pertemuan, sebagian pengurus yang tinggal di Batam mohon pamit ke Gubernur untuk kembali ke Batam mengejar kapal ferry terakhir. Namun seperti ungkapan di atas, Gubernur meminta pengurus PWI Kepri mampir dulu ke Pulau Penyengat. Ansar pun menyiapkan kapal Kepri 7, kapal operasional Pemprov Kepri untuk membawa pengurus ke Penyengat dan pulang ke Batam.

Rejeki pun tidak ditolak. Pengurus PWI Kepri pun berlayar ke Pulau Penyengat ingin melihat pulau yang baru saja selesai direvitalisasi dengan anggaran Rp 50 miliar tersebut.

Ikut dalam rombongan itu, Ketua PWI Kepri Andi, Ketua Dewan Kehormatan (DK) PWI Kepri Ramon Damora, Ketua Dewan Penasehat (DP) PWI Kepri Richard Nainggolan, Wakil Ketua Bidang Kesra Denni Risman dan anggota DK PWI Kepri Alfian Zainal.

Cerita Tentang Pulau Penyengat

Pulau Penyengat, dengan julukan Pulau Mas Kawin. Disebut Pulau Mas Kawin, karena Pulau Penyengat merupakan hadiah perkawinan dari Sultan Mahmud Syah kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah pada tahun 1805.

Pulau ini tidak hanya menawarkan wajah alamnya yang memesona, tetapi juga merangkum keindahan alam dan kaya akan warisan sejarah Melayu di Provinsi Kepulauan Riau.

Terletak hanya 1,8 km dari Kota Tanjungpinang, pulau ini menjadi tempat kelahiran Bahasa Indonesia, yang berasal dari bahasa Melayu yang digunakan oleh para ulama dan sastrawan di Pulau Penyengat.

Dengan 46 situs cagar budaya, Pulau Penyengat telah ditetapkan sebagai destinasi daya tarik pariwisata, oleh Gubernur Kepri, Ansar Ahmad.

Situs-situs seperti Masjid Raya Sultan Riau, Istana Engku Bilik, dan Benteng Bukit Kursi menjadi saksi bisu masa keemasan Kerajaan Melayu Riau-Lingga.

Gubernur Ansar Ahmad menegaskan pentingnya Pulau Penyengat sebagai pewaris budaya Melayu dan tempat lahirnya Bahasa Indonesia. Dengan harapan agar pulau ini diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, Pemerintah Provinsi Kepri terus melakukan revitalisasi, mencakup pembangunan fisik dan pelestarian nilai-nilai budaya serta sejarah Melayu.

Pusat Studi Budaya Melayu Islam Sedunia

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno turut berupaya menjadikan Pulau Penyengat sebagai Pusat Studi Budaya Melayu Islam Sedunia.

Dengan pilot project sepeda listrik, penambahan lampu gemerlap, dan berbagai inisiatif lainnya, Pemerintah Provinsi Kepri berharap Pulau Penyengat tidak hanya menjadi destinasi wisata unggulan, tetapi juga kawasan multifungsi yang memadukan keindahan alam, warisan budaya, dan ekonomi lokal.

Bukan hanya melibatkan aspek fisik, Pemerintah Provinsi Kepri juga menggandeng Kemendikbud Ristek untuk berbagai intervensi kebijakan guna menjadikan Pulau Penyengat sebagai Pusat Studi Budaya Melayu Islam sedunia.

Harapan besar agar Pulau Penyengat tidak hanya memikat pengunjung siang hari, tetapi juga menawarkan pesona malam yang memukau.

Tawaran Kuliner Khas Pulau Penyengat

Pulau Penyengat bukan hanya destinasi wisata bagi pecinta sejarah, tetapi juga penikmat kuliner khas Melayu dan kerajinan tangan lokal.
Dengan beragam kuliner seperti deram-deram dan otak-otak, serta kerajinan tangan dari hasil laut, pengunjung dapat merasakan keanekaragaman budaya yang hidup di pulau ini.

Dengan komitmen Pemerintah Provinsi Kepri, Pulau Penyengat semakin bersinar sebagai destinasi wisata yang menggabungkan keindahan alam, kekayaan sejarah, dan kehangatan budaya Melayu.

Sebuah perjalanan yang mengajak wisatawan untuk merenung di antara jejak sejarah dan kecantikan alam Pulau Penyengat.

“Suatu saat PWI Kepri akan membuat ivent diskusi tentang Pulau Penyengat sebagai Pusat Bahasa Melayu di sini,” kata Ketua PWI Kepri Andi usai berkeliling di Pulau Penyengat.***

adsads