ASUSILA

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bandung – Melati nama samaran wanita yang jadi korban dugaan pelecehan seksual oleh badut Smurf di Jalan Asia Afrika Bandung mengaku sudah mendapat permohonan maaf dari pria di balik badut Smurf. Namun Melati tak bisa memaafkan perbuatan badut tersebut.

“Saya belum bisa memaafkan perbuatan dia,” ucap Melati saat dihubungi detikcom via sambungan telepon, Kamis, 26 jULI 2018.

Insiden pahit itu dialami Melati saat mengantar kakak dan keponakannya ke Jalan Asia Afrika. Melati lantas didekati oleh badut yang menggunakan kostum berkarakter The Smurf.

Dua kali Melati dan badut itu melakukan sesi foto bareng. Sesi pertama tak terjadi keanehan. Namun pada sesi kedua, tangan badut Smurf justru memegang bagian intim tubuh Melati.

Insiden itu lantas diviralkan Melati di media sosial (Medsos). Usai beritanya viral, Melati mengaku dihubungi oleh seorang pria yang menyebut dirinya koordinator kelompok badut di Asia Afrika.

“Waktu itu suami saya yang jawab teleponnya. Ya terus yang pakai kostum Smurf itu meminta maaf ke suami saya,” kata Melati.

Namun Melati yang mendengar percakapan tersebut merasa kalau pria di balik badut Smurf itu tak ikhlas meminta maaf. “Masa minta maaf bilang ke suami saya ‘a cepetan dimaafin atau enggak’, kayak yang enggak ikhlas,” ujar Melati.

Melati pun meminta petugas Satpol PP Kota Bandung yang sudah menangkap pelaku untuk diproses. Bahkan Melati sudah meminta kepada Satpol PP agar pria dibalik kostum Smurf dikeluarkan dari kelompok badut di Asia Afrika.

“Saya sudah minta dikeluarkan saja dia. Tapi belum ada tanggapan. Saya minta itu supaya enggak ada korban lagi,” kata Melati. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Gunungputri – FN (16) yang merupakan siswi SMK di Bogor diduga mengalami depresi sebelum akhirnya meninggal dunia.

Ia dikabarkan tak mau beranjak dari tempat tidur dan tatapannya kosong sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Hal itu disinyalir akibat FN mengalami depresi usai diduga diperkosa oleh pacarnya sendiri.

Pada awalnya, orang tua FN merasa ada yang aneh terhadap sikap putrinya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat pendiam.

Bahkan saat diajak berkomunikasi pun FN tak nemberikan respon apapun.

FN hanya terbaring di kamar tidurnya sejak , Ahad 1 Juli 2018.

“Jadi ga kemana-mana sejak Minggu itu ada di kamarnya, makan pun tidak mau,” ucap Ayah FN, EC kepada TribunnewsBogor.com.

EC yang khawatir dengan kondisi putri pertamanya itu pun membawanya ke klinik setempat untuk diperiksa kesehatannya pada Senin, 2 Juli 2018 malam.

“Saat di klinik, dokter bilang anak saya depresi berat, tapi tidak menjelaskan lebih detail,” terangnya.

Mendengar ucapan dokter, EC kemudian berniat membawa putrinya berobat ke rumah sakit di Cibinong.

“Tapi ternyata Allah berkehendak lain, putri saya meninggal pada Selasa, 3 Juli 2018 kemarin,” ungkapnya.

Merasa ada yang janggal dengan kematian putrinya, EC pun mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dialami putrinya itu.

EC mencoba menghubungi sahabat FN, AZ (16) untuk mendapatkan informasi yang mendalam.

“Saat itu saya mendapat informasi dari teman anak saya bahwa anak saya telah disetubuhi,” tuturnya.

“Kemudian saya bawa anak saya ke RS Polri untuk dilakukan autopsi, karena penasaran dengan apa yang dialami anak saya, tapi sampai sekarang hasilnya belum keluar,” tambahnya.

Sementara itu, sahabat korban, AZ (16) saat dikonfirmasi TribunnewsBogor.com mengatakan, korban memang sempat bercerita tentang apa yang telah dialaminya pada Jumat, 29 Juni 2018 kemarin.

Saat itu korban bercerita telah disetubuhi oleh lelaki berinisial IB.

“Almarhum datang ke rumah saya, kelihatannya sehat-sehat saja, terus cerita katanya habis ‘diituin’ di tempat nongkrong pacarnya,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa, saat mendapatkan perlakuan tak senonoh, korban mengaku dalam keadaan tidak sadarkan diri.

“Saya tidak tahu apakah dicekoki minum atau apa, yang jelas almarhum bilang sempat sadar, posisinya sudah terlentang kakinya dipegangin, terus lihat cahaya dari kamera ponsel,” katanya.

“Tidak tahu apakah kejadian itu di foto atau divideokan almarhum tidak cerita,” tambahnya.

Dikatakannya bahwa saat kejadian, ada sekitar tujuh sampai delapan orang. Selepasnya, korban pun ditinggal dalam keadaan tidak sadarkan diri.

“Saya juga kurang begitu tahu apakah hanya IB saja yang setubuhi atau yang lainnya ikutan, tapi yang jelas katanya di lokasi itu bukan hanya ada IB saja,” paparnya.

Usai beberapa hari setelah diduga diperkosa, FN depresi dan kondisi kesehatannya terus menurun.

Hingga akhirnya pada Selasa, 3 Juli 2018 FN meninggal dunia.

Terpisah, Kapolsek Citeureup Kompol Darwan membenarkan kejadian tersebut. Sayangnya, Darwan enggan memberikan kererangan lebih dalam dengan alasan untuk kepentingan penyidikan.

“Nanti saja dirilis, sekarang sudah ada beberapa pelaku yang diamankan,” singkatnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Seorang anak yang masih di bawah umur mengalami pelecehan seksual dari sepupunya sendiri.

Korban, BG, yang masih berusia 15 tahun, melaporkan tindakan sepupunya, ML (25), ke Polresta Palembang bersama orangtuanya.

Keduanya merupakan warga Kelurahan Kemang Agung, Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan.

ML mengaku perbuatannya itu telah ia lakukan beruang kali.

Pelaku bahkan mengaku hanya bercanda melakukan hal tersebut.

“Cuma bercanda, memang sering saya begitu. Tapi dia tidak pernah marah, saya sudah minta maaf,” kata ML.

Tak tahan lagi dengan perlakuan ML, akhirnya korban menceritakan perbuatan sepupunya tersebut kepada orangtuanya.

“Dia tinggal di rumah kami, sudah dianggap seperti kakak saya sendiri. Tapi tingkah lakunya seperti itu. Sudah sering dia melecehkan saya, tapi tidak saya ceritakan karena takut, malu. Tapi kali ini saya sudah tidak tahan lagi,” kata korban saat di Polresta Palembang, Kamis, 5 Juli 2018.

Kasubag Humas Polresta Palembang AKP Andi Haryadi mengatakan jika pelaku saat ini telah diamankan untuk diproses hukum.

“Sekarang pelaku masih diperiksa, jika terbukti bisa dikenakan UU Perlindungan Anak karena korban masih di bawah umur,” ujar Andi. (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Polewali Mandar – Lantaran berusaha melawan pria mabuk yang hendak memperkosanya, Sabtu dini hari, seorang gadis tunawicara, MR (30) di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dianiaya oleh pelaku.

Korban berusaha mempertahankan kehormatannya hingga berkelahi dengan pelaku. Akibatnyak korban mengalami luka memar dan lebam di wajahnya serta giginya rontok akibat dihajar pelaku.

Meski Korban sempat berusaha minta pertolongan ke sanak tetangga, tetapi pelaku bisa kabur dengan melompat pagar sebelum warga berdatangan ke rumahnya.

Burhanuddin, salah satu keluarga korban menceritakan, awalnya, korban MR sedang tidur lelap di rumahnya. MR yang selama ini memang hidup mandiri di rumahnya sejak kedua orangtuanya meninggal dunia beberapa tahun lalu itu tiba-tiba didatangi seorang tamu tak diundang.

“Pelaku diduga masuk dengan cara membobol dinding anyaman bambu lewat belakang karena pintu pagar dan rumah korban terkunci dari dalam,” jelas Burhanuddin.

Pelaku menghampiri dan mencabuli korban saat sedang tertidur pulas. Korban pun melawan dan sempat bergulat dengan pelaku.

Pelaku diduga berusaha melumpukan korban dengan cara menghajar korban dengan bogem mentah di sekujur tubunya.

“Mungkin pelaku terdesak karena korban berusaha melawan hingga meninju mukanya sampai giginya copot,” jelas Burhanuddin saat mendampingi korban melakukan visum di rumah sakit.

Pelaku diduga bisa kabur lewat pintu depan dan melompati pagar halaman saat MR sudah jatuh tak berdaya akibat dianiaya.

Korban yang berlumuran darah sempat berusaha minta tolong ke tetangga yang rumahnya cukup jauh.

Korban MR mengaku sulit mengidentifikasi ciri-ciri pelaku. Namun ia mengaku bisa mengenali pelaku jika dihadirkan. Korban hanya bisa mencium bau alkohol dari mulut pelaku.

Nasir, kakak MR, yang mendampingi korban divisum dan melaporkan kasusnya ke Polres Polewali Mandar, Sabtu siang kemarin.

Ia berharap kasus asusila ini diselidiki dan pelakunya ditangkap agar peristiwa serupa tidak terulang.

Aparat Polres Polewali Mandar yang menerima laporan korban langsung mendatangi lokasi kejadian sebelum menerima laporan korban secara resmi.

Pihak kepolisan juga telah mengarahkan korban untuk divisum ulang secara menyeluruh untuk membuktikan adanya unsur kekerasan yang dialami korban saat kejadian dini hari tersebut. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Medan – Salomo Barus (53), warga Dusun I, Desa Pama, Kecamatan Silinda, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), ditembak kakinya oleh polisi karena melakukan perlawanan saat ditangkap.

Ia adalah tersangka kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap BB, bocah berusia 7 tahun. Team Scorpion Jatanras Polres Sergai bersama personel Polsek Kutarih meringkusnya.

“Setelah kita lakukan penyelidikan, akhirnya kita mengetahui identitas tersangka dan langsung mengejar pelaku,” ungkap Kapolres Sergai, AKBP Juliarman Eka Putra Pasaribu melalui Kasat Reskrim AKP Alexander Piliang, Jumat, 8 Juni 2018.

Petugas kepolisian harus melakukan tindakan tegas dikarenakan tersangka coba melakukan perlawanan saat diringkus petugas.

“Kedua kaki tersangka ini ditembak setelah coba melakukan perlawanan saat kita amankan,” terang Alexander.

Dikatakan Alex, aksi pemerkosaan itu sudah dua kali dilakukan oleh tersangka. Aksi pertama terjadi pada bulan Mei 2018.

“Ini yang kedua kalinya, saat beraksi tersangka memberikan uang kepada korban sebesar Rp 20 ribu,” lanjutnya.

Namun, korban melawan saat diperkosa untuk kali kedua. Pelaku emosi dan langsung mencekik leher korban hingga meninggal dunia.

Mengetahui korban tewas, Salomo Barus kemudian menyeret jenazah korban sejauh 500 meter dari lokasi pemerkosaan di perladangan Dusun 1, Desa Pamah, Kecamatan Silinda.

“Setelah itu mayatnya kuseret sejauh 500 meter dan kuletakkan di semak-semak. Kututup dengan daun keladi, kemudian aku pergi,” kata Salomo.

Diberitakan sebelumnya, seorang bocah perempuan berinisial RB (7) diduga menjadi korban permerkosaan kemudian dibunuh.

Mayatnya ditemukan di jurang sekitar 300 meter dari kediamannya di Desa Pamah, Kecamatan Silinda, Serdangbedagai, Jumat, 8 Juni 2018.

Jasad RB ditemukan dalam posisi miring dan ditutupi daun pisang. Pada bagian lehernya ada luka memar.

“Dia korban pembunuhan, karena ada bekas cekikan dan ada luka di kemaluannya,” kata Kasat Reskrim Polres Serdangbedagai, AKP Alexander Piliang.

RB merupakan siswa kelas 1 SD. Dia dikabarkan hilang dari rumahnya sejak Kamis, 7 Juni 2018 siang. Pencarian yang dilakukan keluarganya berakhir dengan duka mendalam.

Warga yang menemukan tumpukan daun pisang di dalam jurang. Begitu terkejut, saat dibuka, jasad RB ditemukan. Kejadian itu dilaporkan ke Polsek Kotarih.

Tim dari Satreskrim Polres Sergai kemudian turun ke tempat kejadian perkara (TKP). Mereka melakukan penyelidikan dan mengevakuasi korban ke RS Bhayangkara Medan.

Kasus pembunuhan ini masih diselidiki polisi. Mereka sudah mengidentifikasi terduga pelaku.

“Kita tengah mengejar pelaku. Masih warga Kotarih juga,” jelas Alexander.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bojonegoro – Seorang gadis menjadi korban kebejatan temannya sendiri. Korban yang masih berusia 18 tahun diperkosa Gilang (23), warga Kecamatan Bojonegoro Kota.

Saat itu korban, pelaku dan satu temannya nongkrong bertiga di salah satu warung kopi Jalan Veteran Bojonegoro. Korban sudah berkali-kali meminta pulang, namun pelaku menolak dengan beribu alasan.

Pelaku pun akhirnya menyerah dan mengantar korban pulang. Namun, korban hanya diajak putar-putar Kota Bojonegoro. Dan saat menemukan tempat sepi, korban diperkosa di semak-semak tepi Sungai Bengawan Solo Kelurahan Banjarejo.

Korban diancam dibunuh jika menolak ajakan pelaku dan tidak akan melaporkan kejadian ini kepada siapapun. Namun korban yang merasa kesakitan melaporkan kondisinya ke orangtuanya. Karena tidak terima, bapak korban melaporkan kejadian ini ke Polsek Bojonegoro Kota.

Petugas akhirnya berhasil menangkap pelaku dan melakukan penyidikan.

“Jadi korban ini sebelum diantar pulang, diajak naik motor muter kota, baru dipaksa dan diancam. TKP-nya di semak-semak di tepi Sungai Bengawan Solo Kelurahan Banjarejo,” KATA Kapolres Bojonegoro, AKBP Ary Fadli, Selasa, 5 Juni 2018.

Di hadapan penyidik, pelaku membenarkan memperkosa korban yang tak lain temannya sendiri.

“Saat itu korban bersikeras minta diantar pulang, namun pelaku GL selalu alasan tidak jelas,” tambah kapolres.

Atas perbuatannya, pelaku melanggar pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan. Barangsiapa dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan memaksa seorang wanita yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama 12 tahun. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tulungagung – Berbagai macam cara, ketika seseorang sudah menanamkan niat jahat terhadap orang lain. Begitulah ulah tiga preman yang dikenal tukang buat onar ini menebar benih kejahatannya.

Namun cara yang digunakan para preman ini masih sangat primitif. Ketiga pelaku pencabulan ini berinisial Gus, Sum Cep.

Dengan membuat siswi di SMP, sebut saja namanya Mawar, tidak berdaya karena pengaruh minuman beralkohol (mikol), penjahat kelamin ini merebut dengan paksa mahkota remaja putri naas tersebut.

Informasi di lapangan, seorang warga Kecamatan Pucanglaban bernisial TG menuturkan, ketiga pelaku cabul ini memainkan perannya masing-masing. Seorang pelaku bertugas menjemput korban dan dibawa ke sebuah café. Korban kemudian dicekoki dengan minuman keras.

Setelah korban tidak sadarkan diri, lalu ketiga pelaku membawanya ke rumah kos pelaku lainnya. Dan di kamar kosan ini, korban ‘digarap’ selama tiga hari.

“Kondisi korban sekarang masih trauma dan sangat tertekan lahir dan batin,” tutur TG, Minggu, 20 Mei 2018 lalu.

Secara fisik, katanya, korban hingga tidak bisa berjalan karena sakit di bagian vitalnya.

Masih menurut TG, seorang pelaku, Sum ditangkap polisi. Sedangkan dua pelaku lainnya kabur.

Seorang tokoh masyarakat di tempat korban tinggal, Usman mengatakan, kejadian perkosaan ini sebenarnya sudah lebih dari dua pekan.

Namun keluarga baru melaporkan, pada Jumat, 18 Mei 2018 lalu karena sebelumnya keluarga masih mengurusi korban.

“Yang melaporkan belakangan adalah kakak korban, karena selama ini keluarga seperti berduka dengan apa yang menimpa korban,” ujar Usman.

Usman pun mengakui, tiga pelaku adalah warganya di Kecamatan Pucanglaban.

Usman membenarkan, Sum sudah ditangkap polisi.

Namun Sum mengaku sebatas mengajak korban minum-minuman keras. Usman mengaku prihatin dengan kejadian yang menimpa korban.

Sebab korban masih sekolah dan mempunyai masa depan panjang. Korban selama ini diasuh oleh bibinya.

“Polisi harus segera mengungkap peran ketiga pelaku ini,” tegas Usman.

Ketiga pelaku diketahui berstatus duda. Mereka pernah menikah namun kemudian bercerai. Terutama Cep, selama ini dikenal sering mabuk dan membuat onar.

Selain menangkap Sum, polisi juga telah melakukan olah TKP di café tempat korban dicekoki minuman keras.

Termasuk ke rumah kos yang digunakan ketiga pelaku mencabuli korban.

Kanit Reskrim Polres Tulungagung, AKP Mustijat Priyambodo menolak memberikan penjelasan terkait kasus ini. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Warga Balikpapan dihebohkan dengan beredarnya video mesum berdurasi 4 menit 29 detik di saluran aplikasi Whatsapp. Video tak senonoh tersebut meluas di saluran Whatsapp awak media Balikpapan.

Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Fitra mengatakan pihaknya telah mendapat informasi terkait video mesum tersebut. Pelaku video tak senonoh tersebut diduga melibatkan salah seorang warga Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kasat Reskrim AKP Ruslaeni sudah memerintahkan anggotanya untuk melakukan penyelidikan terhadap video terkait.

“Saya perintahkan anggota untuk lakukan penyelidikan,” ungkap AKP Ruslaeni, Sabtu, 12 Mei 2018 seperti dikutip Tribun Kaltim.

Hingga kini, pihak kepolisian mengaku masih belum mengantongi identitas pemeran pada video yang beredar. Pihak kepolisian masih melakukan pengusutan, apakah benar video tersebut melibatkan warga Balikpapan. Termasuk informasi bahwa video tersebut direkam di salah satu hotel Balikpapan.

AKP Ruslaeni mengatakan jika pihaknya tidak bisa berandai-andai mengenai kasus ini.

“Masih kita selidiki dulu. Kami tak bisa berandai-andai,” tegasnya.

Sementara pada video mesum yang beredar, tampak seorang pria bertubuh kekar bersama seorang wanita.

Wanita tersebut diduga adalah seorang mahasiswi universitas setempat.

Pada video itu, sang wanita tampak tak melakukan perlawanan ketika adegan panasnya bersama pria bertato tersebut diabadikan dalam kamera ponsel.

Sang wanita tampak sedang berada dalam pengaruh minuman keras atau alkohol. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sumbar – Sl (24), wisatawan asal Denmark jadi korban pelampiasan seksual Permainan Sababalat (24) di lokasi kawasan Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Selasa, 24 April 2018 lalu.

Kejadian yang memalukan ini merupakan kejadian pertama kejahatan kelamin terjadi di kawasan wisata tersebut.

Informasi kejadian ini terjadi berawal saat korban berinisial Sl (24) berjalan menuju Mentawai Surf Camp di Pulau Nyang-nyang, Desa Pasakiat Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya.

“Menurut keterangan korban, kejadian itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB saat korban sedang berjalan di pinggir pantai,” ujar Kasat Reskrim Polres Mentawai, Iptu Herit Syah, kepada wartawan di Padang, Agus Embun.

Tersangka yang bernama Parmainan Sababalat (24) menghadang korban dan mengancam dengan sebilah kayu.

“Kemudian, pelaku langsung menarik tangan korban dan memaksanya untuk mengikutinya ke semak-semak,” lanjutnya.

Korban sempat melakukan perlawanan dengan memukul pelaku menggunakan sandal miliknya kemudian melarikan diri.

“Saat korban melarikan diri, dia bersembunyi di sebuah semak-semak yang berjarak cukup jauh dari lokasi tersebut,” sambungnya.

Namun pelaku pun mengejar korban dan mendapatinya di dalam semak tersebut.

Saat itulah pelaku langsung melancarkan aksinya.

Dalam keadaan tak berdaya, korban tetap berusaha berteriak meminta tolong.

Mendengar teriakan korban, masyarakat langsung menuju lokasi dan mengamankan pelaku.

Masyarakat kemudian melaporkan kejadian kepada anggota Polsek Muara Siberut.

Saat ini, jajaran Reskrim Polsek Muara Siberut masih melakukan pemeriksaan pada tersangka pelaku, korban dan saksi.

Tersangka pelaku, tambah Herit Syah, akan dijerat dengan pasal tindak pidana pemerkosaan Pasal 285 KUHPidana, dengan ancaman kurungan 12 tahun penjara. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Semarang – Petugas Direktorat Reserse Kriminal Khusus (DItreskrimsus) Polda Jateng menangkap lelaki berinisial MIA (32) karena menyebarkan foto mantan kekasihnya saat mengenakan bikini.

Ia ditangkap setelah mantan kekasihnya yang berinisial N (28) melaporkan tindakan MIA mantan kekasihnya tersebut pada tanggal 9 April 2018 lalu.

Setelah melakukan pendalaman akhirnya tersangka ditangkap di Gresik, awal pekan ini.

Direktur Reserse Kriminal Khusus, Kombes Pol Lukas Akbar Abriari memaparkan, N tercatat sebagai warga Pekanbaru yang menetap dan bekerja di Semarang.

“Kronologisnya saat Februari, keduanya sudah tidak lagi menjalani hubungan kekasih, MIA, yang lelaki mengancam akan menyebarkan foto-foto syur N,” beber Lukas ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis, 26 April 2018.

Kala itu N tidak menanggapi ancaman mantan kekasihnya. Namun ia terkejut saat pada bulan Maret ia mendapat laporan dari rekannya bahwa MIA telah mengirimkan foto-foto N yang sedang berbikini kepada beberapa relasi N.

Bahkan bukan hanya foto berbikini, namun foto saat MIA dan N sedang melakukan hubungan suami istri. Merasa tidak terima, N kemudian melaporkan tindakan sang mantan ke SPKT Polda Jateng.

“Setelah terbit Laporan Polisi (LP) dilakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil menangkap MIA di wilayah hukum Polres Gresik Polda Jatim.”

“Selanjutnya pelaku kami bawa ke Ditreskrimsus Polda Jateng guna penyidikan lebih lanjut. Dari hasil penyidikan dan adanya alat bukti kuat, MIA ditetapkan sebagai tersangka,” beber Lukas.

Sebagai barang bukti, Ditreskrimsus menyita sejumlah barang bukri mulai tiga buah handphone, satu bendel printout screen capture percakapan antara pelapor dengan terlapor melalui whatsapp dan email, dan satu bendel printout screen capture percakapan antara terlapor dengan saksi melalui whatsapp.

Saat ini, tersangka MIA masih ditahan. Dari pendalaman yang dilakukan terungkap bahwa keduanya sebenarnya akan menikah.

“Tapi dari keterangan korban, pelaku sendiri yang membatalkan dan malah mengunggah foto porno korban untuk memeras korban,” ungkapnya. (*)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Empat pemuda warga Surabaya secara bergiliran memperkosa seorang remaja perempuan berusia 17 tahun asal Madiun. Remaja itu diperkosa di kawasan makam Jl Pegirian, Semampir, Surabaya.

Saat ini, dua dari empat pelakunya telah ditangkap petugas Polsek Semampir, Surabaya. Sementara 2 orang lainnya masih buron.

Dua pelaku yang telah ditangkap masing-masing berinisial MK (26) dan MA (19). MK adalah warga Jl Sidotopo Kelurahan, Surabaya. Sedangkan MA berasal dari Jl Wonosari, Surabaya.

Sedangkan dua pelaku lain yang masih buron, masing-masing berinisial YF (19) dan UM (16).

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKBP Antonius Agus Rahmanto mengatakan, korban kejahatan 4 pelaku itu adalah NH.

Kronologinya, pada 11 April 2018, korban ke Surabaya menemui YF, seorang teman yang dikenalnya melalui Facebook.

“Setelah berkenalan dengan seserang di Facebook, korban juga berkenalan dan bertemu dengan empat pelaku,” sebut Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKBP Antonius Agus Rahmanto, Senin, 23 April 2018.

YF, satu dari 4 pemuda itu mengajak korban ke dekat pemakaman Jl Pegirian. Di sana, tak lama kemduian datanglah MK, MA, dan UM.

Saat bersantai, MK menyuruh MA dan UM membeli minuman keras (miras) jenis arak, minuman bersoda dan rokok.

“Sebagai alas duduk, para tersangka mengambil tikar penutup orang meninggal di karanda pemakaman. Mereka pesta miras bersama hingga mabuk,” jelas Agus.

Korban yang ikut pesta miras pun mabuk. Saat di bawah pengaruh miras itu lah, keempat pelaku secara bergiliran menyetubuhi korban.

Puas menyetubuhi korban, para pelaku kabur begitu saja.

Mereka meninggalkan korban dalam keadaan telanjang di makam Jl Pegirian.

“Kami masih melakukan pengejaran dua pelaku lainnya. Semoga bisa tertangkap secepatnya,” harap Agus.

MK, salah satu pelaku mengaku dirinya diajak oleh YF yang masih buron.

Dirinya diajak YF untuk ke makam dan pesta miras, ternyata ada korban juga.

“Saya hanya melakukan satu kali saja. Melakukan secara begantian, setelah itu pergi dari makam,” kata MK yang mengaku sudah punya anak satu ini.

Saat ditanya siapa yang paling banyak menyetubuhi korban, MK mengaku YF lah yang melakukan hingga dua kali.

Saat itu, korban memang mabuk dan ditelanjangi.

“Sama-sama mabuk. Saat itu suasana makam memang sepi,” cetus MK.

Dari pengungkapan ini, polisi mengamankan barang bukti tikar, sandal, tiga botol mineral bekak isi miras oplosan, kaos, dan celana dalam milik korban. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Depok – Evi (56) harus berurusan dengan petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Depok. Soalnya, wanita yang memasuki usia senja ini ketangkap mengeksploitasi anak di bawah umur di sebuah tempat hiburan malam, Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Penangkapan ini dilakukan polisi mendapat informasi mengenai aktivitas haram perempuan lebih setengah abad ini, Jumat, 20 April 2018 lalu sekitar pukul 23.00 WIB.

“Ada diamankan sembilan orang dari lokasi tersebut,” kata Kepala Unt Reserse Kriminal Khusus Polresta Depok Firdaus, Minggu 22 April 2018 malam.

Dalam pemeriksaan selama 1×24 jam terkuak, tersangka mempekerjakan empat anak di bawah umur.

Mereka masing-masing berinisial T (15), L (16), E (16), N (17).‎ Para korban bekerja dari pukul 20.00 WIB- 02.00 WIB dengan melayani tamu dan menawarkan minuman.

“Setiap melayani tamu korban akan mendapat bayaran Rp100 ribu dan fee penjualan minuman Rp5 ribu per botol,” ujar Firdaus.

Berdasarkan keterangan para korban, dua orang korban masih berstatus sebagai pelajar SMK. Dua korban lainnya tidak bersekolah.

“Mereka mau bekerja di tempat tersebut karena faktor ekonomi dan salah satu korban mengaku bekerja untuk membantu orang tuanya yang sakit kanker rahim,” ucapnya.

Tersangka diduga melanggar pasal 88 UU 35 Th 2014 tentang Perlindungan Anak. Tersangka dan korban pun dibawa ke Mapolresta Depo guna menjalani pemeriksaan. (***)

sumber: pikiranrakyat.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jember – Abdul Gofur (33), warga Jember telah melaporkan perzinaan dan penyebaran video porno yang dilakukan istrinya dengan pria lain.

Kuat dugaan perzinaan yang sengaja direkam dalam format video itu dilakukan di hotel.

“Lokasi pastinya kita belum tahu. Tapi kemungkinan besar itu di hotel,” kata pengacara Gofur, Muhammad Zainudin, Minggu, 22 April 2018.

Menurut Zainudin, ada dua video yang diketahui sudah menyebar. Namun belum diketahui apakah video tersebut direkam pada saat bersamaan atau berbeda-beda.

“Ada dua video dan sudah menyebar di masyarakat, khususnya di warga (kecamatan) Gumuk Mas,” kata Gofur.

Video tersebut, lanjut warga Desa Purwoasri, Kecamatan Gumuk Mas, ini menyebar lewat media sosial WhatsApp (WA) dan Share It.

“Yang kita ketahui (disebar) lewat WA dan Share It,” tandas Zainudin.

Sementara Kasatreskrim Polres Jember AKP Erick Pradana menyampaikan, selain dikenai pasal perzinaan, pelaku video porno itu bisa dikenai pasal tentang UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan UU tentang Pornografi.

Saat ini, polisi masih fokus ke pelanggaran UU ITE dan UU tentang Pornografi.

“Jadi nanti kita bisa jerat dua UU, yakni merekam adegan porno yang melanggar UU Pornografi, dan menyebarkan video porno yang melanggar UU ITE,” tegas Erick. (***)

sumber: detik.com

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG – Hatmaja (23), seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta kini hanya bisa pasrah meringkuk di sel tahanan Mapolsek Sako Palembang, Sabtu, 21 April 2018.

Bahkan sehari sebelumnya, pria ini nyaris dihakimi warga lantaran ulah bejatnya.

Ketika itu Hatmaja hendak melakukan aksi pencabulan terhadap seorang anak kecil di kediamannya Komplek Multi Wahana Kecamatan Sako Palembang, Jumat, 20 April 2018.

Informasi di lapangan, Hatmaja bermoduskan pura-pura mengajak jalan dan foto terhadap bocah perempuan, sebut saja bunga (7) hingga melangsungkan aksi pencabulannya.

Korban pada waktu itu merasa ketakutan dan langsung berteriak.

Mendengar ada terikan korban, kemudian didengar keluarga korban dan mendapati korban hendak dicabuli.

“Waktu itu pulang kuliah, dan saya lihat adik itu. memang saya suka sama adik itu. Saya cuma pegang-pegang saja,” ujar Hatmaja yang hanya tertunduk lesu.

Kapolsek Sako Palembang, Kompol Ahmad Firdaus didampingi Kanit Reskrim Iptu Yahya Roni mengatakan pelaku kini masih menjalani pemeriksaan petugas penyidik atas kasus dugaan melakukan tindak asusila terhadap anak di bawah umur.

Status pelaku memang tercatat sebagai mahasiswa pada perguruan tinggi swasta.

“Dari pemeriksaan petugas, pelaku ini memang sering menonton film porno. Melihat ada anak perempuan, jadi ingin melepaskan nafsunya,” kata kapolsek.

“Pelaku dijerat dengan undang-undang perlindungan anak. Pelaku sama sekali tidak mengalami gangguan jiwa dan kini masih menjalani pemeriksaan,” ujarnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Probolinggo – SK, janda muda berusia 22 tahun ini mendatangi Polres Probolinggo Kota. Kedatangan warga Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo itu untuk melaporkan penyebaran video pribadinya yang disebar ke media sosial oleh mantan kekasihnya.

Kadatangan perempuan cantik itu ke Polres Probolinggo Kota didampingi tetangganya, FK. Sementara mantan kekasih yang dilaporkannya adalah Saiful Anwar (30), warga Desa Dandang, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.

SK mengatakan dirinya sangat dirugikan atas penyebaran video pribadi berupa hubungan intim yang dilakukannya bersama mantan kekasihnya tersebut.

“Ini kan aib saya jadi saya sangat malu dan dirugikan atas pencemaran nama baik di medsos,” ujar SK kepada wartawan saat ditemui di SPKT Polres Probolinggo Kota, Selasa, 17 April 2018.

SK mengaku mengenal dan berpacaran dengan Saiful sekitar lima bulan lalu. Bahkan dia juga sempat bekerja bersama di Bali. “Selama lima bulan saya tidak diperbolehkan pulang ke rumah,” kata SK.

Namun, SK tak mengindahkan larangan itu dan tetap pulang ke Probolinggo karena orang tuanya sakit. Dari situ mereka pun bertengkar. Berawal dari pertengkaran itu akhirnya SK meminta putus.

“Namun dia mengancam kalau diputus maka akan menyebarkan semua video hubungan intim kami,” kata SK.

Ternyata ancaman itu dilakukkan juga oleh Saiful. Saiful mengunggah video itu ke media sosial. SK sendiri mengetahui kalau video intimnya disebar di medsos pada Jumat, 13 April 2018 lalu.

“Saya malu dengan tersebarnya video itu. Akhirnya saya putuskan melapor ke polisi,” lanjut SK.

Sementara itu, Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal membenarkan adanya laporan penyebaran video pribadi. “Kami sudah melakukan pemeriksaan dan memintai keterangan kepada korban untuk kasus ini,” terangnya.

Alfian mengatakan pelaku dinilai melanggar undang undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE ) pasal 45 dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. “Kami sudah memberitahukan kepada anggota kepolisian untuk melakukan pengeblokan atas konten video pribadi tersebut ,” jelasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jawa Timur mengungkap pesta seks komunitas, yaitu bertukar pasangan atau swinger yang melibatkan beberapa pasangan suami istri (pasutri) di Malang.

Pasutri-pasutri yang ambil bagian dalam pesta seks ini tergabung dalam sebuah WhatsApp grup. Polisi pun menetapkan satu tersangka bernama Tri Harso Djoko Sulistijono (53) atau Ion sebagai admin dari grup tersebut.

“Pengungkapan ini berasal dari informasi masyarakat tentang adanya perilaku seks menyimpang yaitu swinger yang melibatkan pasangan resmi,” ujar Kasubdit Renakta Polda Jawa Timur AKBP Yudhistira Widyawan saat rilis di Kantor Humas Polda Jatim Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Senin, 16 April 2018.

Dalam kasus ini, Ion membuat grup Whatsapp yang berjudul Sparkling, menyasar pada mereka yang memiliki fantasi hubungan seksual dengan bertukar pasangan. Untuk masuk ke grup, Ion menetapkan syarat, yakni setiap pasangan merupakan pasutri yang resmi menikah. Untuk membuktikannya, pasutri harus mencantumkan buku nikah agar bisa masuk ke dalam grup.

“Jadi syarat dari admin, pasangan wajib yang sudah resmi menikah karena harus menunjukkan buku nikah,” tambah Yudhistira.

Dalam kasus ini polisi mengamankan tiga pasangan yang tertangkap di salah satu hotel di Lawang, Malang. Namun yang bisa dihadirkan dalam rilis adalah RL (49), SS (47), WH (51), DS (29) dan AG (30).

Saat ditangkap, ketiga pasangan tersebut sedang melakukan hubungan seksual dengan bertukar pasangan dalam satu kamar hotel.

“Petugas menggerebek mereka di salah satu hotel di Malang. Saat digerebek kegiatan itu sedang berlangsung,” tutur Yudhistira.

Dalam pengungkapan itu, polisi juga mengamankan empat kondom yang belum terpakai, enam celana dalam, tiga buah BH, satu telepon genggam, satu handuk dan dua sprei.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat tindak pidana dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain sebagaimana pasal 296 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama satu tahun empat bulan.

Grup whatsapp Sparkling sendiri beranggotakan 28 orang yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, Tuban, Jember, Nganjuk, dan Kertosono. Selain WhatsApp, mereka juga berhubungan dengan pasangan swinger lainnya melalui media sosial Twitter. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tangerang – Polisi menangkap DH, 18, seorang muncikari perempuan di bawah umur. DH ditangkap saat menjual dua perempuan di sebuah hotel, di Kecamatan Mauk, Tangerang, Banten.

Kasatreskrim Polresta Tangerang Kompol Wiwin Setiawan mengatakan, pihaknya semula mendapat informasi masyarakat terkait dugaan praktik prostitusi di wilayah tersebut.

“Berbekal informasi tersebut polisi melakukan penyelidikan. Di lokasi hotel ternyata benar, petugas menemukan tersangka sedang memperdagangkan wanita,” ujar Wiwin, Minggu 15 April 2018.

Dia melanjutkan, saat ditangkap DH sedang bersama dua perempuan di bawa umur. Dua perempuan itu, dijual DH dengan harga sekitar Rp500 ribu sekali kencan.

“Saat ini, tersangka beserta kedua wanita dan barang bukti telah di bawa ke Polresta Tangerang untuk proses lebih lanjut,” tambahnya.

Wiwin mengungkap, dari keterangan tersangka mengaku telah tiga kali berbisnis haram di hotel tersebut. Setiap transaksi yang dilakukan, mendapat keuntungan yang berbeda-beda.

“Kami masih mendalami soal itu,” pungkasnya.

Dari penangkapan itu, polisi menyita duit Rp1,5 juta, alat kontrasepsi, bukti pembayaran, kunci kamar hotel, dan satu unit gawai.

Akibatnya, tersangka dijerat Pasal 10 UU RI No.21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan atau Pasal 88 jo Pasal 76i UU RI No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (***)

sumber: metrotvnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Salatiga – Sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Salatiga, diamankan warga Sraten, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Mereka diamankan warga dan diserahkan ke Polsek Tuntang. Keduanya merusak CCTV di Masjid At Taqwa.

Dari keterangan yang dihimpun, mereka merusak CCTV tersebut untuk menghilangkan jejak atas perbuatan yang dilakukan pada Senin, 9 April 2018 sekira pukul 10.30 WIB. Saat itu, mereka melakukan hubungan intim di masjid dan kembali lagi ke masjid pada Jumat, 13 April 2018 siang.

Perbuatan mesum pasangan mahasiswa itu diketahui setelah rekaman CCTV di masjid tersebut dibuka.

Kabag Humas Polres Semarang AKP Teguh Susilo saat dihubungi mengatakan, kasus tersebut ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

“Kasus ada di PPA. Untuk identitas pelaku dan kronologi, masih menunggu laporan dari PPA,” ucapnya seperti dilansirkan merdeka.com, Sabtu, 14 April 2018. (***)

MEDIAKEPRI.CO.ID, Tangerang – Udara malam saat itu cukup dingin, setelah hujan mengguyur sejak sore. Di sebuah meja kecil di pelataran sebuah minimarket terkenal, seorang gadis tampak asik memainkan ponsel. Beberapa kali dia mengarahkan layar ponsel ke depan wajahnya.

Rupanya, gadis itu sedang selfie. Kepada TribunJakarta.com, gadis tersebut memperkenalkan namanya. Cukup indah nama asli gadis bertubuh tinggi semampai itu. Namun, sebelum berbincang, gadis itu minta agar nama aslinya tidak dipublikasikan.

“Pakai nama samaran saja kak, biar keluarga saya tidak tahu soal ini,” katanya memulai obrolan. Akhirnya kami menamakan gadis itu dengan sebutan Amelia.

Amelia tidak sendiri malam itu, dia ditemani temannya satu sekolah. Gadis itu saat ini sekolah di sebuah SMA negeri di daerah Ciledug, Tangerang.

“Saya kelas 12, hari ini baru ujian nasional hari pertama,” ujarnya kepada TribunJakarta.com, Senin, 9 April 2018.

Dengan alasan privaci, Amelia menolak untuk melepaskan masker yang digunakannya. Sambil berbincang, gadis berwajah cantik itu mulai bercerita soal kehidupan pribadinya.

“Hari ini kehidupan pribadi saya hancur. Saya enggak punya pilihan lain kak,” ucapnya pelan.

Dengan suara tersendat, Amelia bercerita kalau dia terpaksa harus ‘menjual’ keperawanannya ke seorang pria yang baru dikenalnya lewat media sosial. Pria yang berstatus mahasiswa itu dikenalnya lewat fitur people nearby Line.

“Kenalan langsung tembak aja deh,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Amelia bercerita, dia menjual keperawanannya seharga Rp 1,5 juta kepada mahasiswa tersebut.

Ini dilakukan karena Amelia membutuhkan uang untuk mengganti uang kegiatan sekolahnya yang hilang.

“Saya dituduh mencuri uang itu, padahal saya sama sekali tidak melakukannnya. Saya bingung harus nyari uang kemana, terpaksa saya lakukan ini,” katanya.

Saat bertemu TribunJakarta, Amelia baru saja mengambil uang pelunasan pembayaran dari sang mahasiswa.

“Tadi sebelum kesini ambil uang pelunasan dulu,” kata gadis berusia 18 tahun itu.

Sepintas tidak tampak kalau Amelia masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Tubuhnya yang tinggi membuat Amelia seperti anak kuliahan.

Malam itu, Amelia memakai kaus tangan panjang warna kuning menenteng sebuah tas kecil.

Saat ditanya apakah perbuatan itu yang pertama dilakukan? Amelia tidak secara lugas menjawab.

“Ya gimana ya kaks, kalau soal itu aku gak mau cerita,” katanya.

Yang jelas katanya, dia terdesak untuk melakukan itu karena tidak ada pilihan lain.

Amelia melanjutkan, orangtuanya bekerja disebuah perusahaan swasta.

Dia anak pertama dari tiga bersaudara.

“Gak berani minta sama bapak, uang segitu kan besar kak,” ucapnya.

Dalam kebingungannya karena dituduh telah mencuri uang kegiatan sekolah, seorang temannya kemudian memberitahukan cara mendapatkan uang dengan cepat.

“Awalnya ragu sih, takut saja orangnya kabur setelah gituin saya,” kata gadis bertubuh bongsor itu.

Tapi karena tidak memiliki pilihan, Amelia terpaksa melakukan hal itu.

Berbekal komunikasi dengan pria tersebut, Amelia kemudian memberikan diri bertemu seusai UN.

Sebelum bertemu, Amelia lebih dulu berganti pakaian.

“Kalau pakai seragam bisa ketahuan sekolah saya,” katanya sambil sesekali memperbaiki masker.

Sesampaikan di hotel yang dimaksud, mahasiswa yang dikenalnya sudah menunggu di kamar hotel.

“Perasaan campur aduk, takut, sedih macam-macam lah kak,” ucapnya.

“Tapi saja janji, ini yang pertama, saya enggak akan mengulanginya lagi,” janji Amelia.

Setelah berbincang banyak, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 9 malam.

Amelia yang sejak bertemu asik bercerita, memilih untuk pulang duluan.

“Gitu aja ya ceritanya, nanti kalau masih penasaran kita bisa ngobrol lagi. Saya pulang duluan, besok masih UN soalnya,” kata Amelia sambil beranjak dari duduknya.(***)

sumber: tribunnwes.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banyumas – Berbagai cara dan upaya yang dilakukan pedagang agar barang dagangannya laku. Begitu juga dengan tukang cilok di Bayumas ini.

Polres Banyumas menangkap tukang cilok yang mempertontonkan film porno kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD) di Karanglewas, Banyumas. Pelaku melakukan perbuatan tersebut agar korban selalu membeli ciloknya.

“Dari pengakuan pelaku, perbuatan tersebut dilakukan agar korban selalu membeli ciloknya,” kata Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Jumat, 6 April 2018.

Menurut dia, kejadian tersebut sudah dilakukan sejak 22 Maret 2018 sekitar pukul 09.00 WIB. Pelaku mempertontonkan film porno tersebut kepada tiga siswa.

“Saat tiga orang korban itu membeli cilok, pelaku mempertontonkan film porno kepada para korban, dan perbuatan itu sudah dilakukan sebanyak dua kali,” ujarnya.

Pelaku penjual cilok bernama Husanudin (36) merupakan warga Jalan Bandulan Baru, Kecamatan Sukun Kabupaten Malang, dan selama ini pelaku berdomisili dengan mengontrak rumah di Kelurahan Rejasari. Pelaku dilaporkan oleh warga karena telah meresahkan.

Atas kejadian tersebut, Polisi mengamankan barang bukti berupa ponsel serta gerobak Cilog warna biru. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Sebuah video amatiran yang diunggah akun Facebook Brandon Greeven Tengor membuah heboh dunia maya. Dari video ini menggambarkan kisah cinta haram.

Dilansir Grid.ID video ini diposting pada 30 Maret 2018, Brandon mempostingh dua buah video. Video yang pertama terlihat seperti berada di jalan trans Amurang, Minahasa Selatan.

Dua orang wanita terlihat tengah menghadang sebuah mobil berwarna putih. Wanita berjaket biru terlihat dengan geram berdiri di depan mobil.

“Om ambil kunci, om ambil kunci!,” ujar wanita berjaket biru pada salah satu oknum TNI yang terlihat kebingungan. Petugas TNI itu lalu terlihat mencoba meminta pria dalam mobil untuk keluar.

“Kamu bilang supaya saya jaga martabat saya, tapi kamu sendiri enggak bisa menjaga martabatmu,” ujar wanita tersebut dalam bahasa daerah pada si pengendara mobil.

Dengan histeris, wanita berjaket biru mengumpat pengendara mobil. “Cabut kuncinya dulu, cabut kunci,” ujar wanita itu lagi.

Wanita yang terlihat masih ABG itu mengaku sebagai anak dari pria yang berada dalam mobil. Rupanya, sang ayah tengah bersama seorang wanita yang diduga pelakor.

Sementara itu, seorang wanita yang lebih dewasa berjaket pink, diduga adalah istri si pengendara mobil. Wanita yang lebih tua memakai jaket merah muda bertuliskan Bayangkari Cab Minsel.

“Suaminya yang lagi di dalam,” terdengar suara pria dalam video.

“Sudah kedua kali ayah seperti ini,” ujar sang anak.

“Keluar sama perempuan itu!” teriaknya.

Dua wanita itu tampak menghadang mobil itu. Diduga sang pria yang berselingkuh adalah anggota polisi. Anak dari pria tersebut tampak menghadang kendaraan dari depan. Sang istri sah mondar-mandir mencoba membuka pintu mobil yang terkunci rapat. Namun bukannya mengindahkan permintaan sang anak, si pengendara mobil justru lakukan hal tak terduga. Dengan masih berpegang pada whiper, sang anak berdiri di atas kap mobil. Tapi ayahnya nampak menginjak gas, sehingga mobil melaju beberapa meter ke depan. Anaknya yang coba menghadang pun terseret, dan sempat membuat marah warga sekitar.

Warga yang berkerumun lalu berteriak-teriak histeris atas apa yang mereka lihat. “Aduh anak sendiri, masa mau dibunuh,” ujar beberapa orang dalam video.

“Wei komdan anak sandiri itu, jangan cuma gara-gara hugel mo bunuh tu anak (hei komdan anak sendiri itu, jangan hanya karena selingkuhan anak mau dibunuh),” ujar seorang warga.

“Keluarin perempuan itu!,” lanjut sang anak sambil berteriak tak gentar dengan apa yang sudah ia alami.

Dalam video kedua tampak berada dalam lorong. Kaca depan dan spion kiri mobil tampak sudah pecah. Warga berkeruman di sekitar. Pada Video kedua suasana semakin panas. Meski begitu, sudah ada beberapa petugas di lokasi kejadian. Saat si pria berhasil dikeluarkan sang pelakor masih berada dalam mobil.

Istri pria tersebut lantas menghancurkan kaca mobil. Sang istri membuka pintu lalu menarik sang pelakor. Warga di sekitar tampak meminta agar tak ada yang melerai aksi itu. Meski begitu, sang pelakor tampak berhasil diamankan petugas. (***)

sumber: bangkapos.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Depok – Winarti bersiap melewati sebuah jembatan yang terkenal di kalangan mahasiswa dan warga sekitar Universtias Indonesia dengan mengucap bismilah.

Jembatan aborsi, begitulah julukan yang diberikan mahasiswa dan warga sekitar kawasan Universitas Indonesia.

“Bismillahirohim, kalau naik tangga ini bismillah dulu saya,” ujar Winarti sambil menaiki tangga jembatan aborsi di Stasiun Pondok Cina, Depok, Jumat, 30 Maret 2018

Entah dari mana dan mengapa jembatan penyeberangan orang (JPO) tersebut diberi nama ‘Jembatan Aborsi’.

Namun menurut satu di antara mahasiswa UI, Rohman julukan tersebut muncul karena celotehan beberapa ibu hamil yang melewati jembatan tersebut.

“Tidak tahu persis kenapa namanya itu. Tapi katanya ibu-ibu hamil sering mengumpat ‘bisa bikin gugur kandungan ini’ pas lewatin jembatan,” ujar Rohman sambil tertawa menceritakan jembatan aborsi yang ia tahu.

Amatan TribunJakarta.com yang menjajal jembatan aborsi, ada sebanyak 48 anak tangga yang harus dinaiki untuk bisa sampai ke atas dan turun.

Ketinggian masing-masing anak tangga terpantau tak sampai satu jengkal telapak tangan orang dewasa, dan lebarnya cukup besar.

Meski demikian, ternyata itu cukup menyita fisik untuk melewati jembatan aborsi tersebut.

Meski dianggap melelahkan, warga sekitar sangat bergantung dengan jembatan aborsi untuk menyeberang, karena area di sekitar rel sudah dipasangi pagar.

“Capek sih mas lewat sini (jembatan aborsi). Tapi jalan satu satunya ini, pinggir rel udah dipagar,” ujar Fauzi Siddiq, warga sekitar kawasan UI.

Bagi Anda yang ingin menjajal jembatan aborsi dapat mengguanakan KRL Commuter Line lalu turun di Stasiun Universitas Indonesia.

Letaknya hanya sekira 50 meter dari gerbang keluar Stasiun Universitas Indonesia. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Praktik layanan pijat plus dibongkar. Layanan pijat plus ini ditawarkan secara online melalui media sosial. Polisi mengamankan germo sekaligus driver ojek online yang mengantarkan korban ke pelanggannya.

Praktik itu dibongkar saat polisi menggerebek sebuah kamar hotel di Jalan Darmokali Surabaya. Polisi mendapati Win (38) tengah asyik melayani pria hidung belang. Sementara AT, warga Manukan Tama, yang berperan sebagai germo menunggu mereka berdua di sebuah mini market yang tak jauh dari hotel.

Dari pemeriksaan yang dilakukan petugas, Win yang merupakan warga Tuban mengaku ditawarkan oleh AT melalui akun facebook. Win ditawarkan AT dengan tarif Rp 600 ribu. Namun AT ditawarkan melayani pijat, bukan yang lain. Ketika ada yang tertarik, maka layanan plus itu ditawarkan.

“Win ditawarkan oleh AT melalui media sosial untuk melayani pijat plus dengan mencantumkan nomor WhatsApp,” kata Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya AKBP Lily DJafar kepada wartawan, Selasa, 27 Maret 2018.

Lily mengatakan, Win mengaku mengiyakan ajakan AT melakukan itu karena himpitan ekonomi. Ia berstatus janda dengan dua anak. Dari tarif Rp 600 ribu, ia mendapat Rp 450 ribu.

Sementara itu, AT yang berprofesi sebagai driver ojek online mengaku baru kenal dengan Win melalui grup facebook. Ia mendapatkan untung Rp 150 ribu transaksi Win.

“Saya baru melakukan ini. Saya terinspirasi dari film yang saya tonton tentang perdagangan perempuan,” kata pemuda asal Manukan Tama tersebut.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti yakni uang Rp 600 ribu, bukti pembayaran hotel, dan satu buah handphone.

Dari kejahatan yang dilakukan AT, polisi mengenakannya Pasal 2 UU No 21 Tahun 2007 dan atau pasal 506 KUHP tentang Perkara perdagangan orang dan atau mengambil Keuntungan dari Pelacuran Perempuan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Denpasar – AM (38), guru yang tidak pantas untuk ditiru. Dengan ancamannya, guru SMA ini merenggut mahkota Au (17) siswinya di salah satu sekolah di Denpasar.

Tidak butuh waktu lama, AM guru cabul ini harus berurusan dengan pihak berwajib. Ia ditangkap kepolisian, Jumat, 23 Maret 2018.

Informasi kejadia diketahui, guru sebuah sekolah di Denpasar ini sempat mengancam korban akan diberikan nilai jelek bahkan tidak dinaikkan kelas jika tidak melayani nafsu bejat pelaku.

Korban dicabuli setelah sebelumnya diancam gurunya. AM menggauli korban di salah hotel di kawasan Denpasar.

Modal ancaman itulah, yang membuat korban tak berdaya.

“Ada paksaan, jadi siswi ini mau menuruti,” ucap petugas kepolisian, Jumat, 23 Maret 2018.

Menurut dia, si guru ini mengancam akan memberikan nilai jelek.

Bahkan, mengancam tidak akan menaikkan kelas jika korban tak menuruti nafsu bejatnya. Kemudian juga akan digosipkan di sekolah.

Korban kemudian menceritakan kejadian ini ke orangtuanya, dari laporan inilah kemudian dilanjutkan ke kepolisian.

“Langsung diselidiki dan diamankan oleh anggota,” imbuh petugas tadi.

Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Wayan Artha Ariyawan menegaskan, atas kejadian itu pihaknya sudah melakukan penangkapan dan penahanan.

Ia bekoordinasi dengan pihak penggiat perempuan dan anak untuk memulihkan psikologi anak tersebut.

“Sudah kami tetapkan tersangka dan kami tahan,” bebernya.

Pelaku terancam dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Aceh – Tujuh terduga Pekerja Seks Komersial (PSK) online di Aceh bertarif masing-masing Rp 2 juta untuk sekali kencan. Mereka diduga nyambi melayani lelaki hidung belang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

“Mungkin mencukupi kebutuhan hidup mereka. Kan perlu gaya sekarang. Enam perempuan ini mahasiswi dan satu karyawan swasta,” kata Kapolresta Banda Aceh AKBP Trisno Riyanto dalam konferensi pers di Mapolresta, Jumat 23 maret 2018.

Ketujuh perempuan yang diciduk ini semuanya asal Aceh. Sementara germo berinisial MRS (28) asal Langkat, Sumatera Utara. Mereka ditangkap pada Rabu 22 Maret 2018 kemarin sekitar pukul 23.00 WIB. Penangkapan berawal dari informasi yang diperoleh polisi dan kemudian dilakukan penyelidikan.

Terduga PSK yang diamankan ini yaitu AYU (28), CA (24), RM (23), DS (24), RR (21), IZ (23) dan MU (23). MRS dan AYU diciduk di sebuah hotel di kawasan Aceh Besar sementara lainnya dibeberapa tempat di Banda Aceh. Mereka ditangkap satu tim yang menyamar.

Menurut Kapolresta, para perempuan ini nyambi menjadi PSK online atas kemauan sendiri. Bukan paksaan atau dijebak. “Mereka semua sadar (melakukan itu),” jelas Trisno.

Tarif para perempuan ini masing-masing Rp 2 juta. Mereka dipertemukan dengan calon pelanggan oleh germo MRS lewat aplikasi chatting WhatsApps. MRS sendiri sudah dua tahun menjalani bisnis tersebut.

“Perempuan yang kita amankan ini merupakan jaringan MRS. Modus operasinya MRS mengirim foto ke pelanggan yang memesan,” jelas Trisno. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Cirebon – Pelaku pencabulan berinisial M nekat melakukan pencabulan terhadap keponakannya sendiri, TN (6).

Pelaku melakukan aksi nekatnya tersebut di rumahnya sendiri di Blok 4 Rt 03/04 Desa Sasakkarangwangun, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon pada Selasa, 6 Maret 2018 sekitar pukul 10.00 WIB.

“Pelaku nekat melakukan tersebut karena merasa kesepian dan jarang berhubungan dengan istrinya,” ujar Penyidik PPA Polres Cirebon Aiptu Sri Muryanti saat ditemui di Mapolres Cirebon, Senin, 19 Maret 2018.

Awalnya korban dijemput oleh pelaku pada saat pulang sekolah kemudian korban diajak kerumah orang tuanya untu mengganti pakaiannya.

Setelah itu korban diajak kembali ke rumah pelaku dan kemudian pelaku melakukan aksi pencabulannya.

Ketika melakukan aksi tersebut, korban merasa kesakitan dan keluar dari kamar tempat pelaku melakukan pencabulan.

Saat itu pelaku mengantarkan korban pulang ke rumah orang tuanya.

Pada hari yang sama sekitar pukul 13.00 WIB, pelaku melihat korban sedang tertidur di kamarnya.

Situasi tersebut dimanfaatkan oleh pelaku untuk melakukan aksi pencabulannya lagi.

Korban merasakan kesakitan dan spontan lari ke luar rumahnya.

Sekitar pukul 15.00 WIB, ketika korban akan dimandikan oleh ibu kandungnya, TN merasakan kesakitan pada bagian kemaluannya.

Setelah itu TN mengaku bahwa dirinya telah dicabuli oleh pamannya sendiri.

Orang tua korban langsung melaporkan perbuatan M ke Polsek Babakan dan selajutnya dilakukan penyidikan.

Atas perbuatan tersebut pelaku mendapat ancaman hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Pelaku beserta barang bukti juga sudah diamankan di Mapolres Cirebon. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Mojokerto – Wakil Ketua DPC PPP Jombang Muhammad Syafii Has (58) diduga tewas akibat serangan jantung saat kencan dengan waria. Namun, beberapa pihak meragukan hasil penyelidikan tersebut. Begini respons polisi.

“Kami bicara fakta di lapangan dan berdasarkan keterangan saksi. Kasus ini kami tangani sesuai prosedur, profesional dan transparan,” kata Kapolresta Mojokerto AKBP Puji Hendro Wibowo saat dihubungi detikcom, Senin 19 Maret 2018.

BACA: Kondom Berserakan Di Sekitar Mayat, Sebelum Tewas,Wakil Ketua DPC PPP Jombang Diduga Kencani Waria

Meski hasil autopsi secara resmi belum diterima, lanjut Puji, pihaknya sudah mendapatkan keterangan lisan dari dokter forensik yang mengautopsi jenazah Syafii. Menurut dokter, politisi PPP asal Desa Jombok, Kesamben, Jombang, ini tewas akibat serangan jantung.

“Untuk sementara berdasarkan keterangan dokter yang melakukan autopsi, korban meninggal akibat terjadi pembengkakan pembuluh darah jantung sehingga jantungnya tidak berfungsi, mengakibatkan korban meninggal dunia,” ujarnya.

Hal itu selaras dengan rekam medis dan keterangan istri Syafii. Menurut Puji, korban mengidap sakit jantung akut. Bapak satu anak ini pernah dirawat selama 11 hari di rumah sakit. Hanya sekitar 25% bagian jantung korban yang berfungsi normal.

“Jantung korban terpacu kencang saat berhubungan dengan waria inisial V, sementara jantung korban tak berfungsi maksimal. Pengakuan dari waria V korban langsung kejang-kejang dan lemas setelah korban mencapai klimaks,” ungkapnya.

Kendati begitu, kata Puji, pihaknya tetap menunggu hasil resmi autopsi dari dokter forensik RS Bhayangkara Polda Jatim. “Kami sudah bersurat ke labfor, kami tunggu untuk memastikan penyebab kematian. Karena sejauh ini hasil visum luar maupun autopsi, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan,” terangnya.

Sementara terkait syafii tewas saat kencan dengan waria, Puji mendapat informasi tersebut dari saksi waria berinisial F alias V. Waria asal Jombang ini mengaku berkencan dengan korban di kebun tebu Dusun Kenongo, Desa Mlirip, Jetis, Kamis 15 Maret 2018 sekitar pukul 23.00 WIB. Dengan begitu, V adalah orang terkahir yang bersama korban.

“Korban baru pertama kali datang ke lokasi (prostitusi waria) dan pertama kali bertemu dengan V pada Kamis malam. Kemudian mereka sempat hubungan oral seks. Setelah oral seks, korban ejakulasi kemudian kejang-kejang dan lemas,” tandasnya.

Istri Syafii Ismiati (51) tak percaya suaminya tewas saat berkencan dengan waria. Menurut dia, korban tak pernah keluar malam lantaran mengidap sakit jantung. Bapak satu anak ini juga religius dan baik dengan tetangga.

Hal senada dikatakan Sekjen PPP Arsul Sani. Menurut dia, PPP tidak percaya pada kabar yang menyebut Syafii berkencan dengan waria sebelum tewas. Tak ada tanda-tanda perilaku yang menyimpang dari keseharian Syafii.

“Dari penjelasan yang disampaikan oleh teman-temannya, kami percaya bahwa korban bukan orang yang berperilaku seksual menyimpang,” tegasnya.

Syafii ditemukan tewas dengan posisi terlentang dan telanjang di kebun tebu tanggul Sungai Brantas, Desa Mlirip, Jetis, Jumat 16 Maret 2018 sekitar pukul 09.00 WIB. Hanya celana dalam hitam yang melekat di tubuh korban. Celana dalam ini pun dalam kondisi tak menutupi kemaluan korban.

Pakaian milik korban tertindih tubuhnya. Dompet dan ponsel korban masih ada di celana. Sepeda motor korban Honda Vario nopol S 5869 OD ditemukan di seberang jalan dari lokasi penemuan mayat. Berdasarkan keterangan saksi dan hasil reka ulang, korban tewas saat berkencan dengan waria berinisial F alias V. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Garut – Brigadir Popy Puspasari dan Bripda Fitria Oktavia adalah dua polwan anggota Satreskrim Polres Garut yang berhasil mengungkap jaringan sindikat perdagangan orang untuk dipekerjakan menjadi pekerja seks komersial ( PSK) di salah satu tempat hiburan di Bali.

Mereka berani masuk tempat hiburan tersebut dengan menyamar menjadi PSK.

Dua penyidik di unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Garut tersebut menggunakan nama samaran Dewi untuk Brigadir Popy dan Bella untuk Bripda Fitria.

Berkat keduanya, praktik prostitusi dan perdagangan orang di tempat hiburan tersebut terungkap.

“Awalnya masuk ke sana diwawancara dulu sama karyawan di sana,” kata Popy saat ditemui di Mapolres Garut, Jawa Barat, Minggu 18 Maret 2018

Selama proses wawancara, Popi ditanya mengenai kesiapannya menjadi PSK di tempat hiburan tersebut.

“Setelah diwawancara dan saya menyatakan siap, kemudian disuruh istirahat di kamar,” katanya.

Dia mengaku tidak terlalu lama berada di dalam tempat hiburan tersebut.

Setelah itu, dia langsung menghubungi tim Satreskrim Polres Garut pimpinan Kasatreskrim AKP Aulia Djabar yang telah berada di dekat tempat hiburan tersebut.

“Jadi enggak lama, enggak sampai disuruh melayani tamu,”ujar Popy.

Ia mengaku sempat ketakutan ketika akan menyamar menjadi PSK.

Namun, karena ada tim Satreskrim Polres Garut yang mendampingi, dirinya merasa lebih tenang.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna mengatakan, pihaknya menugaskan dua anggotanya untuk melakukan penyamaran.

Begitu dipastikan ada praktik perdagangan orang dan prostitusi, petugas langsung masuk melakukan penyergapan.

“Jadi enggak lama menyamarnya, paling satu jam lebih,” kata Budi. (***)

sumber: kompas.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Mojokerto – akil Ketua DPC PPP Jombang Muhammad Syafii Has (58), ditemukan tewas telanjang di kebun tebu Desa Mlirip, Jetis, Mojokerto. Korban berada di lokasi diduga berkencan dengan seorang waria.

Kapolresta Mojokerto AKBP Puji Hendro Wibowo mengatakan, pihaknya telah mengamankan seorang waria berinisial V, asal Jombang. V merupakan waria yang diketahui kencan dengan Syafii sebelum ditemukan tewas.

“Informasi sejumlah saksi, saat terakhir waria berinisial V bersama dia (korban), sekarang diperiksa di polres,” kata Puji kepada wartawan di kantornya, Jalan Bhayangkara, Sabtu 17 Maret 2018.

Kebun tebu di tepi Sungai Brantas, tepatnya di depan pabrik penyedap rasa Desa Mlirip, memang menjadi tempat para waria melayani tamunya. Para waria biasa mangkal di sepanjang tanggul Sungai Brantas di atas jam 12 malam.

“V sempat kabur ke rumahnya di Jombang, tim Buser sudah mengamankan dia,” ujarnya.

Selain V, lanjut Puji, saat ini pihaknya memeriksa 2 waria lainnya yang merupakan teman V. Pihaknya juga memintai keterangan 2 orang pemilik warung di depan lokasi penemuan mayat korban.

Disinggung penyebab kematian korban, Puji belum bisa memberi kepastian. Menurut dia, hasil resmi autopsi jenazah korban hingga saat ini belum dia terima.

“Kami tangani kalau memang ada bukti tindak kekerasan, akan kami tindak secara hukum,” tandasnya.

Syafii ditemukan dalam kondisi terlentang dan telanjang di tengah kebun tebu tepi Sungai Brantas, Desa Mlirip, Jetis, Jumat 16 Maret 2018 sekitar pukul 09.00 WIB. Hanya celana dalam hitam yang melekat di tubuh korban. Celana dalam ini pun dalam kondisi tak menutupi kemaluannya.

Pakaian milik korban tertindih tubuhnya. Dompet dan ponsel korban masih ada di celana. Selain itu, terdapat sejumlah kondom bekas pakai di sekitar mayat. Sepeda motor korban Honda Vario nopol S 5869 OD ditemukan di seberang jalan dari lokasi penemuan mayat.

Dari hasil pemeriksaan luar terhadap jasad korban, ditemukan luka bekas pukulan benda tumpul di kepala belakang korban. Keluar darah dari kedua telinga korban. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi akan menyelidiki video viral yang memperlihatkan balita menonton video porno diduga saat berada di sebelah orang tuanya. Polisi akan mengkroscek asal video porno tersebut.

“Itu kita akan lakukan penyelidikan dulu, siapa dia, anak siapa. Kita lakukan penyelidikan. Baru kita tanyakan dari mana itu,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro, Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis 15 Maret 2018.

Argo lantas mengimbau kepada masyarakat untuk terus mengawasi anak agar tak menonton hal-hal yang tidak layak di gadget. Pengawasan, menurutnya, harus dilakukan sejak kecil sampai dewasa.

“Dan kita edukasi kepada masyarakat, jangan sampai anak kita dengan memegang gadget tapi kita harus melakukan pengawasan terutama anak di bawah remaja. Harus awasi,” ujar Argo.

“Jangan sampai anak-anak kita umur 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun sudah melihat film yang tidak seharusnya ditonton,” sambung dia.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto sebelumnya menyesalkan adanya kejadian tersebut. Dia mengatakan tak sepatutnya anak di bawah umur dapat mengakses konten porno. Pihaknya kini tengah mendalami kasus itu.

“Ini tidak bisa ditoleransi. Kami sedang mendalami video tersebut. Lokasi pastinya di mana, siapa saja yang berperan, sehingga anak tersebut mengakses konten porno. Kami juga koordinasi dengan Polda terkait upaya pendalaman video yang dimaksud,” ujar Susanto melalui pesan kepada detikcom, Kamis 15 Maret 2018

Video balita menonton video porno tersebut viral dan banyak beredar di grup percakapan. Di dalam video, balita itu tampak memegang sebuah ponsel sambil duduk. Dia memperhatikan video yang berada di ponsel itu.

Setelah diperbesar beberapa kali, ternyata konten yang tengah ditonton adalah video porno dan tak sepatutnya disaksikan balita. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Madiun – Seorang perempuan berinisial NS (36) warga Sempu, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo meninggal secara tidak wajar.
Korban dinyatakan dokter sudah meninggal ketika dibawa ke RS Griya Husada, Senin 5Maret 2018 malam.

Kasubbag Humas Polres Madiun AKP Sumantri menuturkan, pada Senin 5 Maret 2018 sekitar pukul 05.00 WIB, korban pamit kepada suaminya berinisial RN akan pergi ke Madiun untuk menservis ponselnya.

“Korban pamit suaminya mau pergi servis ponsel ke Madiun. Lalu, oleh suaminya di antar hingga Jalan Raya Dolopo,” katanya, Selasa 6 Maret 2018.

RN kemudian mengantar istrinya hingga Jalan Raya Dolopo, Kabupaten Madiun, Korban lalu meminta suaminya segera pulang usai mengantarnya ke Jalan Raya Dolopo.

Karena ia beralasan akan pergi ke Madiun menggunakan bus.

Namun, bukannya naik bus ke Madiun untuk servis ponsel, NS ternyata sudah membuat janji dengan pria lain.

Hal itu tanpa sepengetahuan suaminya.

Korban dijemput oleh pria berinisial RS warga Desa Suluk, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, sekitar pukul 10.00 WIB.

Selanjutnya, RS dan NS pergi ke Hotel Surya Indah di Jalan Raya Ponorogo KM 5, tepatnya di Kaibon, Kabupaten Madiun.

Pasangan bukan suami istri ini kemudian menyewa kamar bernomor 121.

Kemudian, sekitar pukul 13.00 WIB, RS keluar kamar.

Dia meminta tolong kepada pegawai hotel bernama Yudiono dan Narno karena NS tidak sadarkan diri.

Oleh pegawai hotel, kata Sumantri, disarankan agar membawa NS ke RS Griya Husada Madiun.

Dalam keadaan tak sadarkan diri, korban diantar oleh RS menggunakan taksi ke RS Griya Husada, Kota Madiun.

Korban diterima oleh dokter bernama Dewi dan perawat Tri Wahyu Handoko.

Saat dibawa ke RS Griya Husada, korban dinyatakan sudah meninggal.

“Dokter RS Griya Husada curiga karena saat dibawa sudah meninggal, lalu melaporkannya ke Polsek Taman,” kata Sumantri.

Dari hasil pemeriksaan lokasi meninggalnya korban diduga ketika berada di Hotel Surya Indah di Jalan Raya Ponorogo KM 5, tepatnya di Kaibon, Kabupaten Madiun.

Kasus tersebut dilimpahkan ke Polres Madiun.

Sumantri mengatakan, pihak kepolisian belum mengetahui secara pasti penyebab kematian korban.

Apakah karena dibunuh atau karena overdosis.

Dari hasil pemeriksaan luar, tidak ditemukan bekas luka pada fisik korban.

Namun, dari barang bukti yang diamankan, yakni celana dalam warna ungu terdapat bercak darah dan bercak kekuningan.

Berdasarkan hasil olah TKP dan pemeriksaan terhadap jenazah korban, diduga meninggal dunia tidak wajar.

Namun, belum dapat memastikan penyebab kematian korban.

Karena masih melakukan pemeriksaan terhadap para saksi-saksi dan menunggu hasil otopsi dari dokter.

“Dugaannya belum bisa disimpulkan, karena masih mencari bukti-bukti yang cukup. Tapi kalau hasil pemeriksaan sementara, bersih tidak ada luka-luka,” jelasnya.

Sementara itu, seorang karyawan Hotel Surya Indah, Sarodi saat ditemui di lokasi kejadian mengatakan saat masuk ke dalam hotel, korban dalam kondisi sehat.

“Waktu masuk ya waras (sehat). Tapi tiba-tiba terus sakit, kemudian dibawa ke rumah sakit pakai taksi” katanya.

Dia menuturkan, pasangan itu memang kerap menginap di hotel tersebut.

“Udah langganan kok,” tegas Sarodi yang kemudian dijemput anggota kepolisian Polres Madiun untuk diperiksa.

Sementara itu, rekannya, Galih menolak diwawancara.

Ia mengaku tidak tahu dengan kejadian tersebut.

Ia hanya menyebutkan, harga sewa kamar nomor 121 yang dipakai korban dan pasangannya Rp 50 ribu per hari.

Pantauan di lokasi, kamar nomor 121 di Hotel Surya Indah masih dipasangi police line.

Meski demikian, masih banyak tamu yang keluar masuk hotel. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Penumpang Malindo Air rute Kuala Lumpur-Dhaka, Mahmud Didar, diamankan petugas karena berbuat onar di dalam pesawat. Didar juga sempat telanjang.

Perihal aksi Didar ini terungkap dalam berita acara yang dituliskan petugas penerbangan pada Sabtu 3 Maret 2018 mengenai kejadian ini. Disebutkan, Didar menelanjangi diri sendiri tak lama setelah pesawat mengudara. Dia juga menonton video porno.

Petugas sempat memperingatkannya dan Didar menuruti. Dia memakai baju lagi. Namun keonaran belum berhenti.

Didar juga dilaporkan membuat keonaran lain yang benar-benar mengganggu orang lain. Saat pergi ke toilet, dia mendadak memeluk seorang pramugari. Mendapat laporan hal ini, kopilot langsung turun tangan mengamankan penumpang tersebut.

Kronologi kejadian ini juga diungkap media Malaysia, The Malaysian Insight, dalam laporan berjudul ‘Malindo ties up man mid-flight over indecent exposure’. The Malaysian Insight mengutip pernyataan penumpang yang melihat langsung kejadian ini.

Didar diketahui sebagai warga negara Bangladesh yang menempuh pendidikan di Malaysia. Didar ditangkap petugas keamanan bandara Dhaka sesaat setelah mendarat.

Malindo Air merupakan maskapai yang berafiliasi dengan Lion Air. Pihak Lion Air pun sudah meminta konfirmasi tentang kejadian tersebut kepada Malindo Air. Manajemen Lion sudah mendapatkan laporan kejadian itu tapi belum bisa berbicara detail.

“Kami mengkonfirmasi bahwa kami telah menerima laporan tersebut. Awak di kapal telah mengikuti prosedur operasi standar untuk menahan gangguan lebih lanjut ke penumpang.

Penumpang yang mengganggu tersebut langsung diamankan oleh tim keamanan bandara Dhaka pada saat kedatangan,” kata laporan pihak Malindo Air seperti disampaikan pejabat Humas Lion Air Ramaditya Handoko saat dimintai konfirmasi detikcom. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Polisi mengamankan anak laki-laki berinisial M (8) di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat. Korban diduga dieksploitasi oleh perempuan berinisial CW yang merupakan tamu hotel tersebut.

“Jadi tadi pagi telah diamankan seorang anak yang diduga menjadi korban eksploitasi di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat diminta konfirmasi detikcom, Rabu 28 Februari 2018.

Argo mengatakan korban diamankan setelah polisi menerima laporan dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) terkait adanya informasi dugaan kekerasan terhadap korban. Polisi kemudian menindaklanjuti informasi tersebut dan berhasil mengamankan korban.

“Selain korban, ada tiga anak lainnya,” imbuhnya.

Saat ini korban bersama tiga bocah lainnya dalam pengamanan polisi. Sementara itu, polisi belum bisa menggali informasi lain terkait dugaan kekerasan terhadap bocah M.

“Karena terduga pelaku CW belum diperiksa,” lanjutnya.

Polisi telah menggali keterangan dari beberapa saksi. Selain tiga anak, polisi memeriksa seorang pengasuh anak-anak tersebut.

“Masih didalami oleh penyidik,” ujar Argo. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Banjarbaru – Aksi bejat dilakukan seorang oknum PNS Guru salahsatu madrasah di Desa Rumpiang, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar.

Siswa yang masih umur 14 tahun disetubuhi sebanyak 20 kali. Parahnya lagi, aksi tak terpuji itu bahkan dilakukan di sekolah.

“Kalau menurut pengakuan pelaku karena dia sayang sama korban,” ucap Kapolsek Beruntung Baru Iptu Khamdari, Jumat 23 Februari 2018 kepada BPost Online.

Masih menurut Iptu Khamdari, pelaku sudah punya anak dan istri.

Oknum guru madrasah

Oknum PNS guru bernama Turidi, warga Gambut. Lelaki paruh baya umur 41 tahun ini ternyata memiliki wajah lumayan ganteng. Bahkan untuk ukuran seorang guru Madrasah, Turidi memiliki penampilan yang lumayan oke juga

Namun, sayangnya sejak 2017 pria ini sudah berbuat tak senonoh dengan menyetubuhi murid sendiri yang masih belia berinisial RD itu sebanyak 20 kali.

Ya jelas, orangtua RD tak terima, lalu melapor guru cabul ini ke polisi. Tercatat laporan polisi kasus ini 21 Februari 2018.

Kapolres Banjarbaru AKBP Kelana Jaya melalui Kasubbag Humas Polres Banjarbaru AKP Siti R membenarkan terkait kasus itu.

“Iya benar pelaku merupakan oknum guru. Dan korban ini adalah muridnya,” ucap Siti. (***)

sumber: tribunnews.com