BENCANA

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lombok – Bibi sprinter Lalu Muhammad Zohri, Selamah tewas dalam gempa yang terjadi di Lombok.

Jenazahnya ditemukan di bawah reruntuhan Masjid Jamiul Jamaah, Karang Pangsor, Pemenang Barat, Lombok Utara, Rabu, 8 Agustus 2018.

Berdasarkan siaran pers yang diterima Tribun-Video.com dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), sebenarnya Selamah sudah berlari keluar masjid ketika gempa mengguncang.

Namun, menantu Selamah, Hamzan mengatakan, Selamah sengaja masuk kembali ke masjid.

“Kakak tertua Inak (ibu, red) juga ada di masjid waktu gempa besar kemarin. Kata sang kakak, Inak Selamah waktu gempa masuk lagi ke dalam. Pas goyang besar, sudah keluar, tapi Ibu balik lagi. Ingin mengambil sesuatu sepertinya,” katanya.

Berselang beberapa detik usai Selamah masuk kembali, bangunan masjid ambruk dua lantai sekaligus hingga rata dengan tanah.

Satu titik di sudut kanan depan masjid diduga menjadi posisi terakhir Selamah.

Hingga pada Rabu, 8 Agustus 2018 jenazah Selamah ditemukan oleh Tim Emergency Response ACT, Basarnas, polisi dan TNI yang melakukan evakuasi.

Korban yang ditemukan kemudian dibawa ke RSUD Kabupaten Lombok Utara.

Saat ditemukan, Selamah berada di sebelah sajadah tempatnya bersujud.

Tak ada yang tahu pasti apa yang diambil Selamah hingga kembali masuk ke masjid.

Namun, keluarga meyakini, Selamah kembali untuk mengambil Alquran yang masih tertinggal di dalam.

“Keluarga Bibi Zohri, Insya Allah sudah ikhlas. Doakan Inak Selamah husnul khatimah. Kami ingin menyelesaikan pesan terakhir Inak, bahwa ingin dikafani sembari menggengam Alquran,” katanya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Lombok – Tsunami yang diawali gempa berkekuatan 7 skala Richter (SR) telah menyentuh daratan. Ketinggian tsunami disebut di bawah setengah meter.

“Berdasarkan laporan BMKG telah ada tsunami dengan ketinggian tsunami yang masuk ke daratan 10 cm dan 13 cm,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya, Ahad, 5 Agustus 2018.

“Diperkirakan maksimum ketinggian tsunami 0,5 meter,” imbuh Sutopo.

BACA: Setelah NTB, Gempa Bumi 6,4 SR juga Guncang Bali

Sebelumnya BMKG juga telah mencuitkan tentang tsunami tersebut. “#Pemutakhiran,Tsunami akibat Gmp Mag:7.0SR, telah terdeteksi di Carik(18:48WIB)0.135m, Badas(18:54WIB)0.100m#BMKG,” demikian cuitan BMKG.

Gempa 7 SR terjadi pada pukul 18.46 WIB. Sejam kemudian atau tepatnya pada 19.49 WIB, gempa susulan terjadi dengan kekuatan 5,6 SR. Kerusakan terjadi di sejumlah lokasi. Gempa juga terasa di sejumlah tempat termasuk Bali dan Jawa Timur.(***)

sumber: detik.com

BENCANA

Minggu | 29 Juli 2018 | 8:47

Setelah NTB, Gempa Bumi 6,4 SR juga Guncang Bali

MEDIAKEPRI.CO.ID, Bali – Gempa bumi berkekuatan 6,4 Skala Richter juga mengguncang Bali. Sebelumnya, gempa berkuatan serupa mengguncang Nusa Tenggara Barat. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,4 LS dan 116,5 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 47 kilometer arah timur laut Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada kedalaman 24 km.

M Taufik Gunawan selaku Kepala BMKG Wilayah III Denpasar menjelaskan, bahwa dengan memperhatikan lokasi episenter, kedalaman hiposenter, dan mekanisme sumbernya maka gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust).

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” katanya, Ahad, 29 Juli 2018.

Menurut Taufik, guncangan ini dilaporkan telah dirasakan di daerah Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur, Mataram, Lombok Tengah, Sumbawa Barat dan Sumbawa Besar pada skala intensitas II SIG-BMKG (IV MMI), Denpasar, Kuta, Nusa Dua, Karangasem, Singaraja dan Gianyar II SIG-BMKG (III-IV MMI).

Sementara di Bima dan Tuban II SIG-BMKG (III MMI), Singaraja pada skala II SIG-BMKG atau III MMI dan Mataram pada skala II SIG-BMKG atau III MMI.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami,” imbuhnya.

“Selain itu, hingga pukul 06.25 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 11 gempa bumi susulan (aftershock) yang paling kuat M=5,7. Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujarnya.(***)

sumber: merdeka.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Cilacap – Akibat dihempas gelombang, sebuah kapal berukuran 26 gross ton terdampar di Pantai Kamulyan, Cilacap.

Perahu yang diketahui bernama KM Eka Sari II tersebut terbalik dan terdampar pada Rabu, 25 Juli 2018 sekitar pukul 06.00 WIB.

Peristiwa itu direkam oleh seseorang dan mengunggahnya ke akun media sosial Instagram oleh pemilik akun @Igerscilacap.

Dalam video itu terlihat kapal nelayan dihantam gelombang hingga terhempas dan terbalik.

Puluhan orang berusaha untuk mengambil hasil ikan tangkapan yang terlempar keluar kapal.

Seorang petugas melalui pengeras suara mengingatkan warga untuk menjauhi pantai karena berbahaya.

Namun peringatan itu tampaknya tidak dihiraukan. “Untuk masyarakat jangan menyabung nyawa, ombaknya besar, tolong, tolong, tidak usah (mengambil ikan),” teriaknya.

Ketua Kelompok Nelayan Tegal Kamulyan, Kamto menuturkan, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Sebanyak 10 awak kapal selamat setelah ditolong oleh nelayan lain yang berada di sekitar lokasi kejadian dan dievakuasi ke TPI Tegal Kamulyan.

Sepuluh nelayan KM Ekasari II yang selamat tersebut di antaranya Taufik (42) nakhoda kapal dan ABK Ahmad Sedar (35), Rosidi (30), Saeful Anam (45), Islahudin (35), Warjad (30), Waluyo Jati (30), Waridi (37), Muhroni (37), Caryani (34).(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Gelombang laut yang tinggi porak porandakan sejumlah villa, rumah, warung hingga jakung nelayan di sejumlah pantai di wilayah Bali Selatan pada Rabu, 25 Juli 2018.

Sejumlah Villa di sekitar Amed, Desa Purwakerti, Kecamaatan Abang, Karangasem, Bali juga diterjang ombak setinggi lima meter.

Belasan wisatawan yang menginap dan warga setempat berlarian menyelamatkan diri menuju ke tempat yang aman.

Perbekel Purwakerti Nengah Karyawan menuturkan ada lima villa yang diterjang ombak.

Villa tersebut yakni Villa Damai, Asling, Villa Agung, serta Villa Sinar Cinta dengan kerusakan paling parah menimpa Villa Damai dan Asling.

Saat para tamu yang menginap di villa belum sempat sarapan, tiba-tiba gelombang datang menerjang.

Tembok villa tersebut sampai retak dan kacanya pecah, di bagian bale peristirahatan sampai rusak parah dan kolam renangnya tertutup pasir.

Sementara tiga villa lainnya kemasukan air laut.

Para tamu dievakuasi ke villa sebelah oleh warga, beruntung tak ada korban jiwa atau terluka parah.

Sementara itu tembok warung retak dan rata akibat diterjang ombak terjadi di sekitar Pantai Bugbug, Kecamatan Karangasem.

Barang dagangan hanyut, jukung dan tempat menyimpanan barang nelayan juga rusak.

Ni Luh Dasih (40) menuturkan bahwa rumahnya ambruk diterjang gelombang di Pesisir Pantai Ulakan, Kodok, Desa Ulakan, Kecamatan Manggis.

Salah seorang penjaga parkir di Pantai Padang Galak, Gede Santika mengaku, gelombang tinggi ini sudah terjadi sejak hampir dua minggu yang lalu, akan tetapi baru hari ini yang paling parah.

“Tumben ini, kemarin-kemarin tidak sampai naik ke jalan airnya. Apalagi kan di sana ada penahan di pesisir,” kata Santika.

Warga lain, Ketut Yarka menambahkan, hampir 10 tahun terakhir baru kali ini Padang Galak dilanda gelombang sebesar ini.

“Biasanya besar ombaknya tidak separah ini,” tuturnya.

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem, IB Ketut Arimbawa, belum memastikan nilai kerugian akibat bencana ini.

Pihaknya meminta warga sekitar pesisir pantai untuk tetap hati-hati dan waspada. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Padang – Pemutakhiran data oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok menyebutkan, sebanyak 70 rumah rusak akibat gempa bumi dengan magnitudo 5,4 Skala Richter (SR) pada Sabtu, 21 Juli 2018 sore.

Selain itu, tercatat satu orang korban meninggal dunia dan delapan orang korban luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno (IP) merinci, terdapat 25 unit rumah rusak di Nagari Simpang Nan Ampek, Kecamatan Danau Kembar, Kabupaten Solok akibat gempa kemarin.

Sebanyak enam unit rumah di antaranya mengalami rusak berat dan 19 rumah lainnya rusak ringan. Sementara itu, di Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok terdapat satu unit rumah yang dindingnya ambruk menimpa pemiliknya, Bustami Buyuang (63 tahun) hingga meninggal dunia.

BPBD Kabupaten Solok, lanjut IP, juga mendata ada 44 unit rumah yang mengalami kerusakan di Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.

Dari angka tersebut, sebanyak empat rumah di antaranya rusak berat, dua rusak sedang, dan 38 rumah lainnya rusak ringan.

“Ini data sementara dan akan terus bergerak karena petugas masih melakukan pendataan,” jelas IP usai mengunjungi korban gempa bumi di Kabupaten Solok, Ahad 22 Juli 2018.

Sementara untuk korban luka-luka, IP menyebutkan terdapat tiga warga yang mengalami luka ringan di Kecamatan Gunung Talang.

Tiga korban luka lainnya beralamat di Kecamatan Danau Kembar, yakni Diah 16 (tahun), Bobi (7), dan Risa Amelia (25). Sedangkan di Kecamatan Lembah Gumanti, tercatat ada dua orang korban luka, yakni Yulniarti yang mengalami patah kaki dan Desrial dengan luka ringan.

“Para korban sudah mendapatkan perawatan medis dan semuanya sudah kembali ke rumah,” kata Irwan.

IP juga menyerahkan bantuan dari Pemprov Sumbar kepada korban gempa sebesar Rp 28,8 juta. Bantuan yang diberikan terdiri dari paket pakaian dan makanan serta sejumlah kebutuhan sehari-hari bagi korban gempa.

IP juga mengutip penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Minangkabau bahwa dalam sepekan terakhir ada tiga gempa kuat yang dirasakan warga Sumbar. Ketiganya mengguncang dengan magnitudo antara 3 Skala Richter (SR) hingga 5 SR, dengan pusat gempa di Kepulauan Mentawai, Bukittinggi, dan terakhir Solok yang menimbulkan seorang korban jiwa.

“Ketiganya beda sebab dan lokasi. Tapi, gempa yang di Kabupaten Solok ini terjadi beruntun. Bahkan ada gempa susulan. Kita mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap gempa susulan,” jelas IP. (***)

sumber: republika.co.id

BENCANA

Minggu | 01 Juli 2018 | 8:24

Gempa Bumi Guncang Pacitan Jawa Timur

MEDIAKEPRI.CO.ID, Pacitan – Gempa bumi berkekuatan 2,8 Skala Richter (SR) terjadi di Pacitan, Jawa Timur. Tidak ada peringatan tsunami dari kejadian ini.

“86 km Tenggara PACITAN-JATIM,” cuit BMKG Daerah Istimewa Yogyakarta melalui akun Twitter resminya @bmkgjogja, Ahad, 1 Juli 2018.

Gempa terjadi pada pukul 01.14 WIB. Lokasi gempa ada di koordinat 8,93 Lintang Selatan (LS) dan 111,30 Bujur Timur (BT).

Sumber gempa berada di kedalaman 10 km dari permukaan laut. Belum ada laporan lebih lanjut terkait gempa. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Karangasem – Gunung Agung di Karangasem, Bali menghembuskan abu vulkanik sejak tadi malam. Kolom abu Gunung Agung mencapai 2.500 meter.

Hujan abu terjadi sejak tadi malam. Akibatnya Bandara Ngurah Rai ditutup sementara.

Pagi ini Gunung Agung masih mengeluarkan abu vulkanik dan kawah menyala api berwarna kemerahan dengan intensitas stabil dengan tinggi kolom abu mencapai 2.500 meter. Status masih tetap Siaga (Level 3).

Sebanyak 309 warga mengungsi ke 3 titik pengungsian. BNPB belum mengubah radius berbahaya Gunung Agung.

Kapusdatin BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut aktivitas Gunung Agung ini bukanlah erupsi. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Budayawan muda Batak, Rismon Raja Mangatur Sirait meyakini badai besar dan tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun terkait penangkapan ikan mas raksasa oleh masyarakat sekitar Danau Toba sehari sebelumnya.

Tulisan Sirait tentang kaitan ikan mas raksasa dan kecelakaan kapal di akun Facebook-nya itu viral dan dibagikan ribuan kali sejak dimuat Rabu, 20 Juni 2018

Menurut Sirait, Sabtu, 17 Juni 2018 sekitar pukul 16.30, seorang pemancing di Desa Paropo, Tao Silalahi, mendapatkan ikan mas seberat 14 Kg.

Hasil pancingan ini cukup menghebohkan warga sekitar karena ukurannya yang luar biasa.

Sirait bahkan menyatakan bahwa ikan itu adalah ikan mas terbesar yang pernah didapat di Danau Toba dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

“Bicara hal mistis, percaya atau tidak percaya, semua kembali ke pribadi masing-masing,” tulisnya.

“Menurut cerita di sana, para pemancing tidak mengindahkan larangan dan saran orangtua agar ikan mas ini dilepas kembali ke Danau Toba,” tegas Sirait.

Sirait mengatakan, dengan bangganya para pemancing tidak mengindahkan saran orang tua disana dan langsung membawa ikan mas ini ke rumah untuk di masak dan dimakan.

Sehari kemudian, sambung Sirait, terjadilah angin puting beliung di atas Danau Toba tepat di Tao Silalahi Paropo, hingga menimbulkan ombak besar.

Menurut warga di pinggiran Danau Toba, sebelumnya belum pernah melihat ombak setinggi 3-4 meter dan ketebalan ombak 2 meter seperti yang terjadi pada sore itu.

Lepas dari pembahasan masalah mistis, Sirait juga menambahkan bawa zona lintasan kapal KM Sinar Bangun yang kecelakaan di Danau Toba Senin lalu merupakan zona berbahaya yang dilintasi bila besar ombak tidak seperti lazimnya.

Saat dihubungi Tribun Medan, Sirait menyadari bahwa tulisannya yang menghubungkan kejadian tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun terkait dengan penangkapan ikan mas raksasa menuai kontroversi.

“Itu hak orang tidak setuju dengan saya. Saya tidak paksakan percaya. Tapi saya bicara dari kearifan lokal dan spiritual,” katanya.

Sirait yang menyebut diri sebagai Guru Spiritual Danau Toba menuturkan bahwa dirinya percaya penangkapan ikan mas berbuah malapetaka karena dirinya telah menjalankan ritual di Danau Toba.

“Saya percaya karena saya semalam sudah melakukan parsantabian penghormatan ke penghuni dan penjaga Danau Toba, Sitolu sadalanan, yaitu Sibiding Laut, Siboru Pareme, dan Namboru Naiambaton.”

“Semalam pukul 11 di TKP (tempat kejadian) saya sudah sampaikan napuran pitu atup,” ujarnya.

Napuran pitu atup adalah daun sirih tujuh lapis dengan telor ayam kampung betina tiga buah yang dibarengi dengan pembakaran dupa serta kemenyan. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Kapal Motor (KM) Sinar Bangun tenggelam di perairan Danau Toba, Sumatera Utara. Petugas langsung melakukan pencarian dan ditemukan seorang penumpang perempuan tewas.

“Korban meninggal Mrs Y, perempuan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, lewat keterangan tertulisnya, Senin, 18 Juni 2018

Korban Y ditemukan KMP SUMUT 1. Kapal itu juga mengevakuasi satu orang penumpang yang masih dalam kondisi selamat.

Sementara, KMP SUMUT 2 mengevakuasi 3 orang penumpang yang juga dalam kondisi selamat. Keempat penumpang yang selamat yakni Muhamad Fitri (21), Heri Nainggolan (23), Jamuda (17), dan Juita.

Para korban langsung dilarikan ke Puskes Simalungun begitu tiba di darat.

Dikabarkan, ada 15 orang penumpang juga yang sudah dievakuasi ke Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 17.30 WIB. Di dalam kapal tersebut ada puluhan orang yang hendak berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, menuju Tigaras Parapat, Kabupaten Simalungun.

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Samosir, Maher Tamba, mengatakan belum diketahui pasti jumlah penumpang kapal kayu yang tenggelam terebut.

Kapal penumpang ini diduga mengalami kecelakaan akibat putusnya tali kemudi kapal usai diterjang ombak dan angin. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Yogyakarta – Gunung Merapi pagi tadi kembali erupsi. Abu vulkanik akibat letusan itu menyebar ke arah utara dan selatan dari puncak gunung.

Melihat kondisi tersebut, para pengusaha hotel yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) khawatir pendapatannya kembali merosot akibat kejadian tersebut.

“Sebenarnya di Yogyakarta ada 3 hal yang membuat saat ini kami terpuruk, pertama puasa karena memang itu siklusnya low season, ditambah teroris di Surabaya dan sekarang Gunung Merapi meletus,” kata Ketua PHRI Yogyakarta Istijab M. Danunagoro.

Untuk daerah Yogyakarta, Istijab mendapatkan laporan pembatalan pesanan kamar hotel. Hal itu membuat penurunan tingkat hunian hotel di Yogyakarta.

“Saat ini saja tingkat hunian sudah turun 10-15%. Itu akibat pembatalan karena khawatir terutama karena kondisi Gunung Merapi,” tuturnya.

Jika kondisi ini berlangsung lama, Istijab memprediksi tingkat hunian hotel di Yogyakarta akan turun hingga 20%.

Untuk saat ini rata-rata tingkat okupansi hotel berbintang di Yogyakarta mencapai hanya 30-40%. Sedagkan untuk hotel non berbintang hanya 10-155.

“Untuk hotel berbintang banyak yang membatalkan pesanan. Mereka lebih memilih ke Bali atau tempat lainnya,” tuturnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Yogyakarta – Gunung Merapi kembali mengalami letusan freatik pada Senin, 21 Mei 2018 pukul 01.25 WIB.

Letusan ini menyemburkan asap setinggi 700 meter.

Terkait letusan freatik ini, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merekomendasikan kegiatan pendakian Gunung Merapi hanya sampai di Pasar Bubar kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

Selain itu, kondisi morfologi puncak Gunung Merapi saat ini rawan terjadi longsor sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan pendaki.

Saat ini hujan masih terjadi di seputar Gunung Merapi, sehingga masyarakat perlu menjaga kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lahar.

BPPTKG melalui akun Twitternya menjelaskan, letusan yang terjadi pada pukul 01.25 itu menyemburkan asap setinggi 700 meter dari atas puncak.

“Telah terjadi letusan freatik kecil atau hembusan pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 01.25 WIB selama 19 menit dengan ketinggian asap 700 m teramati dari Pos Babadan. Amplitudo seismik terukur 20 mm. #statusnormal,” demikian twit BPPTKG.

Meskipun demikian, status Gunung Merapi masih dinyatakan normal, sehingga masyarakat diminta tidak panik dan beraktivitas seperti biasa.

Letusan ini menyebabkan hujan abu di wilayah Cawang Bebeng atau di bagian barat Gunung Merapi.

Sebelumnya, letusan freatik terjadi pada Jumat, 11 Mei 2018 lalu pukul 07.40 WIB.

Saat itu, ketinggian kolom abunya mencapai 5.500 meter dari atas puncak.

Sebelum erupsi tersebut terjadi, BPPTKG tidak mencatat adanya peningkatan aktivitas kegempaan.

Berikut ini beberapa informasi tentang letusan freatik Gunung Merapi yang dirilis BPPTKG.

02:53

Telah telah terjadi letusan freatik kecil atau hembusan pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 01.25 WIB selama 19 menit dengan ketinggian asap 700 m teramati dari Pos Babadan. Amplitudo seismik terukur 20 mm.
#statusnormal

02:59

Rekomendasi: Masyarakat untuk tidak panik dan beraktivitas seperti biasa serta mengantisipasi hujan abu di sekitar Merapi.
#statusnormal.

03:18

Laporan dari warga #merapi hujan abu di wilayah Cawang Bebeng (barat Merapi).

 

Letusan freatik kali ini lebih kecil daripada yang terjadi 11 Mei 2018 kemarin. Warga #merapi dimohon tetap tenang.
#statusnormal (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Sri Warsini (27) terkesiap saat wajahnya tak sengaja memandang ke arah puncak Merapi, Jumat, 11 Mei 2018.

Sesaat ia tak mampu bergerak menyaksikan asap pekat bergulung-gulung cepat membubung ke angkasa. Rumput di pondongan tangannya nyaris jatuh saking ia gemetar.

“Jlegurrrrr….langsung bergulung-gulung asap membubung di puncak. Sangat menakutkan Mas,” kata Warsini di rumahnya, dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman.

Warsini dan adiknya, Tri Wartini (26), saat itu tengah menyabit rumput di lereng barat bukit Kukusan. Mereka berangkat naik gunung sekitar pukul 06.30.

Jarak tempat ia dan adiknya “mugut” atau mencari rumput untuk pakan ternak sekitar satu kilometer saja dari puncak Merapi. Letusan freatik Merapi terjadi pukul 07.43

Dari tempat ia berdiri, Warsini bisa sangat jelas menyaksikan puncak Gunung Merapi yang pagi itu cuaca di sekitarnya sangat cerah. Tidak ada kabut menghalangi.

“Setelah agak sadar karena saya ini “kamitenggengen” (terpaku), rumput dan sabit saya lempar. Saya lari turun, teriak-teriak panik dan nangis” kata Warsini yang sore itu masih tampak syok dan kelelahan.

Bukit Kukusan adalah bagian punggungan bukit yang puncak sebelah timurnya disebut Gunung Kendil. Bentang bukit tinggi itu terlihat jelas dari gardu pandang Klangon.

Di lokasi itu hanya ada Warsini dan adiknya. Tiga pencari rumput lain warga Kalitengah Lor, yaitu Mbah Ratno, Bejo dan Rami, ada di lereng berbeda, dan lebih dulu datang sehingga kemungkinan sudah turun.

Perjalanan turun Warsini dan adiknya dari puncak bukit bukan masa-masa yang mudah. Mereka panik dan ketakutan, harus cepat turun, namun yang ada hanya jalan setapak selebar dua telapak kaki.

Sebelah kanan lereng berujung jurang sangat dalam, hulu Kali Gendol. Warsini yang gemetaran jatuh bangun sampai lima kali. Ia juga sempat terguling-guling di turunan curam.

“Saya hanya bisa bertakbir, Allahu Akbar! Allahu Akbar, kata saya, dan kami berusaha secepat mungkin turun. Gumpalan tebal itu seolah mengejar kami,” ungkap Warsini diamini adiknya.

Tri Wartini yang lebih muda, jauh lebih gesit ketimbang kakaknya. Beberapa kali ia jauh meninggalkan kakaknya.

Terpaksa balik lagi naik, dan menolong kakaknya yang ternyata jatuh bangun.

Tanpa menghiraukan semak, rumput berdaun tajam di sepanjang perjalanan turun, kakak adik ini akhirnya sampai di dekat tower air di kawasan Klangon.

Di lokasi itu terparkir dua sepeda motor mereka. Jarak dari lahan merumput ke parkiran motor sekitar satu kilometer. Dari situ ke rumah mereka juga sekitar satu kilometer.

Tenaga mereka nyaris habis. Ternyata mereka sudah dijemput suami Warsini yang menyusul dari rumah. Selain mereka sudah tidak ada seorangpun lainnya.

Setelah istrahat sebentar, Warsini memancal motornya ke sekolah anaknya di Srunen. Rupanya murid-murid SD Srunen sudah diungsikan ke Jambon, jauh di bawah dari dusun mereka.

Warsini pulang sebentar, tapi penduduk dusun sebagian sudah mengungsi.

Situasi pagi itu sangat mencekam, panik, dan tangis terdengar bersahut-sahutan.

Ia lalu pergi menyusul anaknya bersama suaminya. Sesudah situasi kembali tenang, mereka pulang ke rumah di Dusun Kalitengah Lor.

Sampai sore, rumput dan sabit serta kain gendong mereka masih tertinggal di puncak bukit Kukusan.

“Biar saja lah, nanti kalau sudah kuat ke sana,” lanjut ibu satu putri ini.

Menurut Warsini dan Wartini, pagi sebelum berangkat merumput, mereka sebenarnya merasakan ada keganjilan di puncak gunung.

“Ada suara ngosrong (seperti tiupan angin kencang). Jelas sekali suaranya, dan pepohonan di puncak sana tak bergerak,” kata Warsini.

Pengakuan ini dikuatkan pendengaran dan penglihatan yang sama oleh ayahnya, Wardi (57).

“Saya juga mendengar suara kemrongsong, seperti dari tubuh gunung,” aku Wardi.

Tanda lain, asap yang keluar dari kawah Merapi juga terlihat lebih tebal dari biasanya.

“Tebal dan pekat cokelat,” tambah Warsini. Keganjilan itu malah jadi bahan candaan mereka saat akan berangkat.

“Adik saya sempat nanya, nanti kalau njebluk piye, saya bilang, ya lari,” lanjutnya.

Candaan itu ternyata jadi kenyataan.

Keduanya mengalami peristiwa yang sangat menyeramkan tak jauh dari puncak Merapi.

Bahkan nyaris merenggut nyawa mereka.

Warsini mengaku saat lari turun tak pernah lagi menengok ke belakang.

Ia benar-benar ketakutan jika gulungan asap dari Merapi memburu dan melibas mereka.

“Takut kaya kejadian 2010,” timpal Wartini, sang adik.

Saat berbincang-bincang dengan Tribunjogja.com di dekat kandang ternak keluarga Wardi, mereka masih menyuguhkan wedang teh dan krupuk beras di tengah suasana yang panik setelah erupsi.

Keluarga itu memiliki empat ekor sapi perah dan simetal (pedaging). Warsini dan Wartini jadi tulang punggung keluarga tiap pagi, yaitu mencari rumput ke lereng Merapi.

Suami-suami mereka ikut buruh padat karya atau kadang mencari pasir di Kali Gendol.

“Biasanya selesai merumput sekitar pukul 8,” kata Warsini.

Sebelum tugas mereka tunai, ternyata pagi tadi mereka dipaksa lari lintang pukang mencari selamat saat Merapi “batuk” memuntahkan material vulkanik.

Pada 2010, keluarga itu kehilangan semua harta benda. Rumah mereka di Kalitengah Lor ludes tersapu awan panas.

Mereka akhirnya kembali membangun rumah di atas puing-puing, di Kalitengah Lor. Tawaran pindah ke hunian tetap di lokasi baru, ditolak sebagian besar warga.

Waktu itu mereka menolak karena takut kehilangan tanah temoat tumpuan hidup mereka jika pindah ke permukiman relokasi.

Peristiwa 2010 masih meninggalkan memori kuat yang membuat trauma. “Tadi gak ada sirine bunyi atau pengumunan mengungsi,” kata Wardi.

Pengungsian dilakukan mandiri, inisiatif masing-masing warga dengan sarana seadanya. Khusus untuk murid SD Srunen, dievakuasi menggunakan truk pengangkut pasir.

Menurut Tini, warga Kalitengah Lor yang membuka warung di Klangon, sempat terjadi beberapa kecelakaan kecil saat proses pengungsian.

“Tabrakan dan jatuh dari motor karena berebut jalan. Semua panik, dan ada yabg naik ada yang turun. Situasi ruwet pokoknya,” kata Tini.

Saat Tribunjogja.com tiba di Klangon tengah siang hari, sejumlah warga terlihat turun dari perbukitan membawa rumput. Situasi bergerak normal. (***)

sumber: tribunnews.com

BENCANA

Kamis | 29 Maret 2018 | 17:19

Pencemaran Sungai Jadi Ancaman Wisata Air Danau Toba

MEDIAKEPRI.CO.ID, Medan -Pemerintah daerah seharusnya lebih fokus mengendalikan pencemaran air sungai yang mengalir ke Danau Toba dan tidak hanya fokus dengan pencemaran yang ada di dalam danau.

Danau Toba telah dicanangkan sebagai destinasi wisata utama di negeri ini. Bahkan, Pemerintah Republik Indonesia tengah mengupayakan agar salah satu danau kaldera terbesar di dunia itu memperoleh status geopark tingkat dunia dari UNESCO pada tahun 2018. Hal itu disampaikan pemerhati masalah lingkungan, Endi Setiadi Kartamihardja, baru-baru ini di Medan.

Dikatakannya, pemanfaatan perairan Danau Toba untuk keperluan wisata menghendaki terpeliharanya kualitas dan kuantitas air di sana. “Sebagai destinasi wisata, perairan Danau Toba wajib memiliki kualitas air yang sesuai kebutuhan wisata. Oleh karena itu, sudah sepatutnya dilakukan pengelolaan terpadu untuk memertahankan kualitas lingkungan perairan danau,” katanya.

Hal itu telah pula ditegaskan melalui Perpres Nomor 81/2014 yang menetapkan Danau Toba sebagai perairan dengan kualitas baku mutu kelas satu. Ditambah lagi, dengan SK Gubernur Sumatra Utara Nomor 188.44/209/KPTS/2017 yang menetapkan Danau Toba adalah kawasan perairan oligotropik.

Danau Toba yang memiliki luas 1,124 kilometer persegi itu memeroleh pasokan air dari sekitar 190 sungai ditambah curah hujan.

Hasil penelitian Pusat Riset Perikanan pada Agustus 2017, atau bertepatan dengan peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, menunjukkan kandungan limbah berupa fosfor dari air sungai yang mengalir ke Danau Toba rata-rata mencapai 0,29 mg per liter.

Namun, pada saat musim hujan Desember 2017, kandungan fosfor meningkat hampir dua kali lipat menjadi rata-rata 0,53 miligram per liter. Artinya, jika setiap satu liter air sungai itu memiliki kandungan fosfor sebesar 0,53 miligram maka dalam satu tahun kandungan fosfor yang masuk ke Danau Toba akan mencapai 17.500 ton.

Menurut penelitian tersebut, limbah fosfor yang berada di sungai berasal dari pencucian limbah rumah tangga dan domestik, persawahan, perkebunan, peternakan dan aktivitas manusia lainnya di sekitar daerah tangkapan air Danau Toba.

Endi berasumsi bahwa air yang masuk dari sungai dan air hujan itu akan mengalir keluar Danau Toba dalam jangka waktu 81 tahun. Oleh karena itu, air dari sungai yang sudah tercemar akan masuk danau dan tergenang serta menumpuk selama 81 tahun. “Bila cemaran air sungai tidak dikendalikan, maka selama itu pula dia akan terus bertambah dan semakin mencemari air danau,” katanya.

Menurut perhitungan, jika beban limbah total fosfor yang masuk Danau Toba tidak dikendalikan, maka konsentrasi total fosfor di danau akan menjadi sekitar 68,11 miligram per liter. Itu berarti sudah 340 kali lipat melebihi baku mutu kualitas air kelas satu yang mensyaratkan total fosfor maksimum sebesar 0,2 miligram per liter.

Menghadapi hal ini, lanjut Endi, sudah seharusnya pemerintah lebih fokus dalam pengendalian pencemaran di sungai yang mensuplai air ke Danau Toba. Tidak hanya mengendalikan pencemaran yang terjadi di dalam danau. “Jika upaya strategis pengendalian cemaran di sungai dapat segera dilaksanakan, maka tujuan untuk menjadikan Danau Toba sebagai kawasan wisata tingkat dunia dapat tercapai,” tegasnya. (***)

sumber: hariansib.co

Sang anak ditemukan dalam keadaan tewas.

MEDIAKEPRI.CO.ID, Ngamprah – Dua orang warga Kampung Bonjot, Desa Buninagara, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat menjadi korban bencana longsor, Senin 5 Maret 2018 sekitar pukul 06.00 WIB.

Satu orang korban berhasil dievakuasi dan dalam keadaan meninggal dunia. Sementara satu orang lainnya belum dievakuasi.

Dua orang tersebut adalah, Puja (13 tahun) dan Damah (40) yang merupakan warga setempat. Basarnas Jawa Barat telah memberangkatkan satu tim rescue untuk melaksanakan operasi SAR.

“Kejadian sekitar pukul 06.00 WIB pagi, dua orang tertimbun akibat longsor,” ujar Humas Basarnas Jabar Joshua Banjarnahor, Senin 5 Maret 2018.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat Dicky Maulana mengungkapkan longsoran tanah terjadi akibat hujan yang terus menerus di wilayah tersebut. Kemudian, longsoran di perbukitan itu menimpa empat rumah.

“Longsor di perbukitan itu menimpa empat rumah. Namun yang terbawa material longsor hanya satu rumah yang didalamnya sedang ada dua orang warga,” ujarnya.

Menurutnya, kedua orang tersebut merupakan ibu dan anak yang sedang beristirahat. Korban pertama yang merupakan seorang anak berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Sementara untuk ibunya, Basarnas masih melakukan pencarian. (***)

sumber: republika.co.id

MEDIAKEPRI.CO.ID, Blora – Banjir luapan sungai Bengawan Bolo di Kabupaten Blora, merendam sejumlah 4 Desa di wilayah Kecamatan Cepu, Jumat 23 Februari 2018. Banjir merendam wilayah pemukiman dan persawahan warga.

Empat desa yang terendam banjir diantaranya Desa Balun, Nglanjuk, Sumberpitu dan Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora.

Anggota Tim Respon Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora, Agung Tri menyebutkan rata-rata ketinggian air mencapai 50 cm. Jalan desa serta areal persawahan di empat desa itu terendam banjir.

Agung mengatakan air mulai meluap dan menggenang pemukiman terjadi sekitar pukul 08.00 WIB.

“Sesuai pantauan di lapangan tadi ada sepanjang 100 meter jalan yang terendam air di Desa Balun. Sedangkan sawah yang terendam total ada sekitar 17 hektar,” terangnya saat dihubungi via telepon, Jum’at 23 Februari 2018.

Agung menjelaskan, di Desa Balun, jalanan desa sudah terendam air yang mengakibatkan akses keluar masuk desa tertutup. Di Desa itu pula seluas 1 hektar persawahan juga terendam air.

Di Desa Nglanjuk banjir merendam 4 hektar lahan persawahan. Desa Sumberpitu sekitar 2 hektar juga sawah terendam. Sedangkan di Desa Jipang ada sedikitnya 10 hektar area persawahan yang terendam banjir luapan.

“Beberapa rumah warga yang konturnya agak rendah sudah kemasukan, tapi hanya beberapa saja. Saat ini sejumlah relawan sudah bergotong royong, menanggulangi air agar luapan tidak semakin luas,” jelasnya. (***)

sumber: detik.com