MISTIS

MEDIAKEPRI.CO.ID – Perayaan tahun baru 1 Muharram 1440 H bertepatan pada Selasa, 11 September 2018. Bagi masyarakat Jawa, 1 Muharam dikenal dengan 1 Suro.

Malam 1 Suro dalam pandangan sebagian masyarakat Jawa dianggap punya makna mistis dibanding hari-hari biasa.

Sejumlah keraton dari Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, hingga Kasepuhan Cirebon bahkan punya tradisi masing-masing untuk merayakan 1 Suro.

Keraton Surakarta misalnya. Pada malam 1 Suro biasanya akan menjamas (memandikan) pusaka-pusaka keraton termasuk mengirab kerbau bule, Kiai Slamet.

Nama lain malam 1 Suro adalah malam 1 Muharam dalam penanggalan Hijriyah atau Islam.

Ihwal ini tak terlepas soal penanggalan Jawa dan kalender Hijriah yang memiliki korelasi dekat.

Khususnya sejak zaman Mataram Islam di bawah Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645).

Penanggalan Hijriyah memang di awali bulan Muharam. Oleh Sultan Agung kemudian dinamai bulan Suro.

Kala itu Sultan Agung berinisiatif mengubah sistem kalender Saka yang merupakan kalender perpaduan Jawa asli dengan Hindu.

Sultan terbesar Mataram tersebut lantas memadupadankan kalender Saka dengan penanggalan Hijriyah.

Hal ini memang sangat unik mengingat kalender Saka berbasis sistem lunar atau Matahari sementara Hijriyah pergerakan Bulan.

Kalender Hijriyah banyak dipakai oleh masyarakat pesisir yang pengaruh Islamnya kuat, kalender Saka banyak digunakan oleh masyarakat Jawa pedalaman.

Rupanya Sultan Agung ingin mempersatukan masyarakat Jawa yang pada waktu itu agak terpecah antara kaum Abangan (Kejawen) dan Putihan (Islam).

Dalam kepecayaan Kejawen, bulan Suro memang dianggap istimewa.

Muhammad Sholikhin dalam buku Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa menjelaskan, penganut Kejawen percaya bulan tersebut merupakan bulan kedatangan Aji Saka ke Pulau Jawa.

Aji Saka kemudian membebaskan rakyat Jawa dari cengkeraman mahluk gaib raksasa.

Selain itu bulan ini juga dipercayai sebagai bulan kelahiran huruf Jawa.

Kepercayaan tersebut ternyata terus turun menurun hingga saat ini.

Bahkan sebagian kalangan menganggap bulan Suro, terutama malam 1 Suro punya nilai mistis tersendiri atau cenderung dianggap angker.

Malam 1 Suro tahun ini akan diperingati pada Senin 10 September 2018 malam sebab 1 Muharam jatuh pada Selasa 11 September 2018. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sidoarjo – Warga Sidoarjo tepatnya warga Desa Medalem Kecamatan Tulangan sedang dihebohkan kasus pencurian tali kain kafan atau tali pocong di pemakaman umum desa setempat.

Makam warga bernama Janji, warga desa tersebut diketahui sudah dibongkar orang tak dikenal, Jumat, 27 Juli 2018 lalu.

Janji diketahui meninggal Ahad, 19 Juli 2018.

Tanggal itu adalah hari Kamis Kliwon menurut penanggalan Jawa.

Warga dan pihak keluarga baru mengetahui kejadian itu pada Sabtu, 28 Juli 2018 pagi.

Warga setempat sebenarnya sudah paham bahwa jenazah Janji harus dijaga karena meninggal di hari keramat menurut perhitungan Jawa.

Maka dari itu, keluarga dan makam menjaga makam Janji selama tujuh hari berturut-turut.

“Sejak dimakamkan sampai selama tujuh hari, keluarga dan warga terus menjaga makam tersebut,” kata Buarah, istri Almarhum Janji, Ahad, 19 Juli 2018.

Menjaga makam selama tujuh hari atau bahkan sampai 40 hari merupakan pesan dari orang-orang tua di sana, khusus ketika ada warga yang meninggal dunia pada Kamis Kliwon atau Malam Jumat Legi.

Ternyata, setelah dijaga tujuh hari, tetap saja kebobolan.

Diduga para pelaku sudah mengincar dan memantau.

Buktinya, begitu makam tak dijaga, makam Janji langsung dibongkar.

Pencurian tali pocong almarhum Janji itu diketahui secara tidak sengaja oleh Suryat, petani yang sawahnya berada di samping pemakaman.

Suryat mengaku melihat ada keanehan pada makam almarhum ketika melintas usai memanen.

Dia mengaku curiga ada bekas galian di gundukan makam.

Dia kemudian memberitahukan itu ke Mujiono, kerabat almarhum. Mendapat kabar itu, keluarga almarhum lantas datang ke makam untuk mengeceknya.

“Ternyata benar di kuburan suami saya ada bekas digali seseorang. Urukan tanah juga tidak merata dan masih menjorok ke dalam. Padahal terakhir saat dijaga oleh keluarga, bagian permukaan makam, tanahnya masih menjulang ke atas atau mumbul seperti kuburan lainnya,” urai Buarah.

Di sekitar makam juga ditemukan batok kelapa yang diduga dipakai pelaku mengeruk tanah kuburan suaminya.

Di pinggir pagar makam juga ada bekas bercak kaki pelaku yang diusapkan pada bagian pojok pintu kecil bobolan sebelah utara.

Kabar pencurian tali kafan inipun cepat menyebar ke kampung. Bahkan ke berbagai daerah lain di Sidoarjo. Warga juga penasaran dengan peristiwa yang belum pernah mereka ketahui itu.

Beberapa warga menceritakan, tali kafan orang yang meninggal malam Jumat Legi bisa untuk kesaktian. Khususnya untuk ilmu hitam.

“Kabarnya kalau pakai itu bisa menghilang,” kata Agus, warga sekitar.(***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Seorang pria yang mengaku nabi di Ethiopia ditangkap setelah gagal menghidupkan kembali seseorang yang sudah meninggal dunia.

Getayawkal Ayele mencoba menghidupkan kembali Belay Biftu dengan cara berbaring di atas jenazah sambil berteriak memerintahkan mendiang agar bangkit. “Belay, bangunlah!” perintah Getaywkal kepada mendiang Belay Bifttu.

Tentu saja upaya sang “nabi” tak berhasil dan kegagalannya membuat keluarga mendiang marah dan menyerang Getayawkal.

Beruntung, polisi yang datang tak lama kemudian bisa menyelamatkan nyawa pria itu. Meski bukan berarti Getayawkal lolos dari masalah.

Menurut undang-undang Ethiopia, melakukan tindakan yang dianggap melecehkan jenazah merupakan perbuatan melanggar hukum. Dan, komandan kepolisian setempat mengatakan, pria yang pekerjaan sehari-harinya adalah seorang staf medis itu kini ditahan.

Insiden percobaan untuk membangkitkan jenazah ini terjadi di kota kecil Galilee, wilayah Oromia dan terekam video sebelum menjadi viral di media sosial.

Warga kota mengatakan, Getayawkal awalnya mendatangi keluarga yang berduka dan menceritakan kisah Yesus membangkitkan Lazarus yang sudah mati.

Berbekal kisah di dalam kitab Perjanjian Baru itu, Getayawkal meyakinkan keluarga mendiang untuk menggali makam Belay.

Setelah makam mendiang digali dan jenazah diangkat ternyata Getayawkal gagal menghidupkan kembali Belay.

Alhasil beberapa anggota keluarga mendiang jatuh pingsan di lokasi makam dan sisanya mengamuk lalu menghajar Getayawkal. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Maros – Sepintas, perempuan yang dikenal dukun, Daeng Manno tidak tampak seperti paranormal. Tapi siapa nyana, wanita berjilbab itu dikenal memiliki kekuatan khusus dari dunia lain yang bisa mengantar orang duduk di legislatif.

“Dia datang sampaikan niatnya ke saya dan nanti saya akan berikan segelas air putih untuk diminum dan dibawa pulang,” kata Daeng Manno saat berbincang dengan detikcom di Makassar, Sulsel, Kamis, 12 Juli 2018.

Daeng Manno menceritakan ritual yang dijalankannya saat menerima pelanggan. Dikatakannya, para tamu yang datang kepadanya tidak perlu melakukan ritual khusus.

“Ada yang biasanya minta dibawakan ayam atau kambing. Saya tidak minta apa-apa. Mereka biasanya datang bawa oleh-oleh saja seperti makanan dan lainnya,” terangnya.

Air putih itu adalah air putih yang tidak dimasak. Hal ini dikarenakan api yang memasak air itu akan mengambil berkah yang terkandung di dalamnya.

“Jadi saya kasi air kemasan. Itu kan tidak dimasak. Air putih ini saya berikan doa agar urusan yang diminta mereka lancar,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Daeng Manno mengaku punya ‘bala bantuan’ yang ada di sekitarnya. Bala bantuan ini yang nantinya membantu segala urusan para caleg itu seperti saat bertemu orang dan membentengi saat adanya serangan magis dari lawan politik.

Daeng Manno tidak manampik, bahwa setelah air putih pemberiannya diberikan. Para tamunya kerap memberikan amplop sebagai tanda terima kasih.

“Tidak usah saya sebutkan isinya. Itu terserah mereka. Yang penting mereka ingat saya,” pungkas Daeng. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Probolinggo – Nisan raksasa setinggi 15 meter yang berdiri kokoh di tengah ladang sudah dibangun 2 bulan lalu. Lalu, siapakah warga yang membangun nisan setinggi 15 meter itu hingga viral di medsos?

Abdul Wahid, salah seorang warga saat ditemui detikcom, Sabtu,7 Juli 2018 mengungkapkan, jika nisan itu dibangun seorang warga bernama Nur Bintaos (42), di lahan milik dia seluas 1 hektar. Nur Bintaos merupakan bekas napi dalam kasus penggandaan uang.

Meski dibangun di lahan miliknya sendiri, namun ulah Nur sempat diprotes warga. “Warga resah dengan ulah Nur,” jelas Wahid.

Sebenarnya ujar Wahid, ulah Nur membuat Nisan raksasa ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya pada tahun 2012, Nur juga pernah membuat patung raksasa Dewi Sri atau yang dikenal Dewi Padi. Dan patung itu menjadi polemik warga dan para ulama.

“Dulu sempat buat juga patung Dewi Padi, dan akhirnya dibongkar paksa oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo, lantaran dinilai meresahkan,” ungkapnya.

Dari pengamatan detikcom di lokasi, nisan yang berdiri kokok di ladang persawahan Dusun Ganting, Desa Patemon, Kecamatan Pajarakan. itu sudah diberi nama. Nama yang ada di salah satu nisan tertulis Bintaos.

“Lagi-lagi bikin heboh masyarakat, dan cukup meresahkan. Banyak warga menilai ini musrik karena seakan-akan ia telah mempersiapkan kematiannya,” ujar Wahid.

Makam raksasa yang dibuat Nur sekitar 2 bulan lalu ini viral di media sosial. Warga yang penasaran dengan adanya nisan raksasa itu silih berganti berdatangan ke desa itu untuk melihat dan mendokumentasikan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sukabumi – Tating, ibunda Nining Sunarsih (52) mengaku masih tak percaya putrinya bisa pulang setelah hilang tenggelam 1,5 tahun lalu. Tating ikut rombongan untuk menjemput Nining Ahad, 1 Juli 2018 Mereka mendatangi titik saat Nining terseret ombak di Pelabuhan ratu. Tating mengaku merasakan pengalaman mistis malam itu.

Tating bersama kerabat dan tetangganya berjumlah 10 orang pergi ke Pelabuhan ratu pada Sabtu, 30 Juli 2018.

Ketika tiba, mereka pun berpencar Jejen atau paman Nining lah yang menemukan pertama kali. Putrinya itu ditemukan terbaring di pantai dengan posisi kepala ke arah pesisir.

Menurut Tating, saat itu posisi pantai ramai oleh pengunjung yang memasang tenda. Bahkan posisi Nining berada tidak jauh dari tenda-tenda pengunjung.

“Posisinya ramai, banyak orang yang bakar ikan yang main gitar. Anehnya tidak satupun yang melihat anak saya tergeletak di pinggir pantai,” lirih Tating menceritakan peristiwa saat menjemput anaknya di pesisir pantai, Senin, 2 Juli 2018.

Tating juga tidak habis pikir, saat memapah anaknya berjalan bersama kerabat yang lain tidak ada satu orang pun yang melihat. Bahkan beberapa kali kaki Nining terantuk pengunjung, tidak ada yang mempedulikan.

“Anak saya dibawa ke mobil dengan cara dibeyeng (papah), kaki saya dan kaki dia sempat nabrak orang-orang di sekitar pantai. Tapi tidak ada satupun yang nanya, noleh atau melihat. Saya sampai merinding pas kejadian malam itu,” lanjutnya.

Nining ditemukan tergeletak di pinggir pantai setelah Jejen sang paman mengalami mimpi aneh selama tiga kali berturut-turut. Dalam mimpinya Jejen mengaku didatangi Nining dan minta dijemput. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Terbongkarnya makam seorang janda bernama Feni Indriani membuat geger warga Gunung Batin Baru, Terusan Nunyai, Lampung Tengah.

Pihak keluarga yang sedang berziarah lah yang menemukannya pertama kali, Kamis, 10 mei 2018, sekitar pukul 08.00 WIB.

“Kita bermaksud nyekar, menjelang Ramadan. Tapi begitu sampai ke liang makam, keluarga terkejut karena sudah ada lubang,” kata Eva Yuliana, seperti dikutip Tribun-Video.com dari TribunLampung.co.id, Sabtu, 12 Mei 2018.

Eva Yuliana, kerabat korban, mengatakan bahwa lubang makam itu sangat besar sehingga jenazah di dalam terlihat dari atas.

Keluarga korban kemudian melaporkan kejadian itu ke pamong desa dan kepolisian.

Makam itu diduga baru saja sengaja dibongkar karena ada ember dan tanah masih basah.

“Kayaknya itu sengaja dibongkar, karena ada bekas bongkarannya berupa ember di dekat makam. Selain itu, bongkarannya juga masih baru, karena tanah masih terlihat basah,” tutur Eva.

Selain itu, ditemukan kejanggalan pada jenazah
korban.

“Infonya ada bagian rambut (jenazah) yang dipotong (pelaku),” kata seorang warga yang enggan disebut namanya.

“Selain itu juga lima helai benang pengikat kain kafan hilang,” imbuhnya.

Diketahui, Fani meninggal setelah dibunuh mantan suaminya, Abdul Gani (42), Jumat, 20 April 2018.

Sekujur tubuh korban ditikam di tempat kerjanya menggunakan sebilah laduk karena tak mau diajak rujuk.

Korban seketika tewas di tempat kerjanya di 521 G Perkebunan Pisang PT Multi Agro, Gunung Batin Baru.

Sementara itu, pelaku diamankan 20 menit setelah melakukan aksinya.

Kini polisi sedang mendalami motif pembongkaran jenazah korban.

“Motif sedang kita dalami. Kita sudah lakukan olah tempat kejadian perkara,” ujar Kapolsek AKP Abdul Roni, Kamis, 10 Mei 2018.

“Tidak ada kerusakan pada jenazah, tapi memang kondisi makam dalam keadaan terbongkar seperti bekas galian,” tambahnya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Sebagai salah satu penyanyi senior di panggung hiburan dangdut Banua, Mega Fortuna tergolong paling banyak memiliki pengalaman menemukan hal mistis sepanjang kariernya sebagai penyanyi.

Namun yang membuat Mega sangat terkesan adalah ketika dia tampil di Muara Teweh, Kalteng pada 2013 lalu.

“Saya kan emang sering tampil di mana mana, banyak cerita soal mistis ini disejumlah daerah tapi yang paling serem ya di Muara Teweh ini,” kata Mega.

Mega menceritakan saat itu dia mendapat undangan tampil di Muara Teweh bersama Laila, Citra, Helda Risma dan Ratna disalah satu desa terpencil di sana.

“Kami sendiri tidak tahu nama desanya tapi sangat terpencil, bahkan untuk menuju kesana kami dijemput menggunakan kapal klotok,” katanya.

Di desa sangat jauh itu kedatangan mereka disambut kepala desa.

Awalnya memang tidak ada sesuatu yang ganjil, namun pas malam ketika hendak tampil sejumlah keganjilan pun datang.

“Biasakan kita kalau menyanyi ada lampu sorot. Nah lampu ini jika disorot di keatas. Penontonnya sangat rame sekali tapi pas tersorot ke bawah tepatnya ke penontonnya sangat sepi,” kata Mega.

Mereka yang bergantian menyanyi duduk saling berseberangan. Nah Mega melihat aneh ke tempat duduk rekannya, tiba-tiba ada sesosok perempuan yang bukan temannya duduk di situ.

“Pokoknya dia bukan rombongan kami. Sepeti menunggu giliran menyanyi juga. Setelah teman tampil saya tanya teman melihat tidak yang duduk disampingnya kamu tadi ternyata teman saya tidak tahu dia tahunya kursi itu kosong,” ujar Mega.

Kejanggalan lain Mega mendengar suara ribut-ribut dibelakang panggung sepeti orang berkelahi.

Namun hingga selesai acara keributan itu tidak sampai membuat panik penonton yang di depan.

“Penasaran besok paginya saya datangi ke belakang panggung ternyata benar banyak darah yang berceceran,” ucap Mega.

Di panggung Mega dan kawan kawan dipanggil Kepala Desa dan diserahkan uang dalam amplop sebagai imbalan honor menyanyi.

“Kita buka saat itu juga Alhamdulillah dapat Rp 500 ribu per orang,” kata Mega.

Nah ketika pulang mau sampai ke Banjarmasin menggunakan kelotok ada salah satu teman membuka amplop lagi ternyata dia kaget isinya berubah jadi daun.

“Dia panik dan menyuruh kami membuka juga ternyata sama isinya daun semua. Kami pun pulang dengan tanpa membawa uang sepeser pun,” kata dia.

Tapi yang membuat mereka merinding adalah kejadian demi kejadian itu. Mega yakin saat manggung dia dan teman-temannya menghibur mahluk halus di desa mahluk halus juga. (****)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Batulicin – Bukan hanya Tika seorang, banyak lagi warga yang mengalami istilah Ketindihan setan saat tidur.

Fenomena itu memang tak asing bagi sebagian masyarakat. Sebab, sebagian pernah mengalami dan sebagian lagi tidak. Namun mereka yang mengalami mengaku itu bisa terjadi.

Alfi misalnya, saat dia berlibur di Lombok Nusa Tenggara Barata tepatnya di Gili Trawangan, juga pernah mengalaminya. Saat itu dia tidur larut malam.

Namun di pertengahan tidurnya, dia sulit bernafas. Seperti di sebuah ruangan, dia didatangi seseorang bertubuh besar. Orang itu terus mendekat dan disitu dia berupaya membaca tahlil.

Akan tetapi, sangat sulit untuk mengucapkannya. Bahkan berupaya minta tolong tapi sulit.

Menurutnya, dirinya berada dalam keadaan seperti setengah sadar. Tahlil hingga Kalimat Syahadat pun terucap tapi sulit saat itu.

“Itu berlangsung beberapa saat hingga akhirnya terbangun. Rasanya kayak mau mati saja kalau ketindihan seperti itu,” katanya. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Pada jaman dahulu ada 4 mitos mengerikan soal organ tubuh perempuan. Apa saja itu?

Organ sensitif ‘Miss V’ ialah bagian dari alat reproduksi wanita.

Dimana keberadaannya sangat ‘suci’ dan harus terawat dengan baik.

Namun berbeda dengan zaman sekarang yang sudah canggih dan maju.

Pikiran manusia zaman baheula (dahulu kala) masih primitif.

Sehingga menganggap Miss V wanita ialah sesuatu yang tabu serta sering dikaburkan fungsi asasi sebenarnya oleh mitos-mitos yang menyerbak di tengah-tengah masyarakat zaman dahulu.

Bahkan mitos tersebut sampai tak masuk akal dan membikin orang yang mendengarnya mengernyitkan dahi.

1. Akibat Menstruasi

Menstruasi, haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi.

Umumnya darah yang hilang akibat menstruasi adalah 10-80 mililiter.

Menstruasi menandakan kesehatan akan organ vital seorang wanita.

Namun berbeda dengan zaman dahulu kala.

Orang-orang akan menganggap jika seorang wanita mengalami menstruasi maka dirinya sedang dihukum oleh tuhan sebagai tanda ia berdosa dan darah yang dikeluarkan dari organ vitalnya adalah racun.

Bahkan zaman dahulu para pria dilarang untuk bercinta dengan perempuan yang sedang menstruasi karena percaya mereka bisa mati dan menghasilkan anak yang tidak sempurna.

2. Organ Sensitif yang berbahaya

Mitos selanjutnya ialah organ paling sensitif di Miss V wanita.

Kola Superdeep Borehole, Lubang Terdalam di Bumi yang di Dalamnya Terdapat Hal Tak Terduga

Pada abad ke-19 di Romawi mengharuskan para wanita untuk disunat atau dimutilasi di organ Miss V paling sensitif itu.

Alasannya pun terbilang konyol karena organ paling sensitif itu bisa saja memanjang dan menjadi Mr.P serta ditakutkan dapat memerkosa laki-laki.

Mendapati mitos seperti itu maka para perempuan ramai-ramai dan dipaksa untuk melakukan sunat alias mutilasi paksa di organ paling sensitif di Miss V nya.

3. Rahim yang berpetualang didalam tubuh

Seorang filsuf terkenal asal Yunani, Plato pernah berpikir irasional tentang rahim wanita dan jelas-jelas ia salah.

Plato mengungkapkan bahwa rahim wanita tak ubahnya seekor hewan hidup di dalam tubuh manusia.

Plato menggambarkan bahwa rahim merupakan binatang kecil yang ‘mengembara’ di seluruh tubuh perempuan hingga menyumbat saluran pernapasan dan menyebabkan penyakit.

Gara-gara itu para wanita zaman dahulu tidak mau menikah dan tetap menjaga keperawanannya sampai mati, takut binatang didalam tubuhnya itu berontak.

4. Organ sensitif yang bergigi

Inilah mitos paling ‘nyleneh’ tentang organ sensitif wanita.

Orang zaman baheula sangat percaya jika oragan sensitif milik wanita mempunyai gigi-gigi tajam yang mereka juluki Dentata.

Namun ada sisi baik dari mitos ini, yakni bagi para lelaki yang percaya mereka tidak akan berani memerkosa seorang wanita, takut Mr.P nya digigit sampai putus oleh Dentata itu.

Bahkan mitos Dentata ini sempat diangkat menjadi film layar lebar berjudul ‘Teeth. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Yogyakarta – Rombongan siswa SMK 4 Tangerang mengalami kesurupan usai mengunjungi Candi Prambanan. Diketahui ada seorang siswa yang membawa kain penutup candi.

Kesurupan terjadi saat mereka dalam perjalanan di sekitar jalan Veteran Umbulharjo, Selasa, 10 April 2018.

Salah seorang warga Umbulhajo yang ikut menyembuhkan para siswa kesurupan ini, Hidayat menceritakan, saat kesurupan, siswa terus mengatakan, “Balekno lendange (kembalikan selendangnya).”

Beberapa orang kemudian ikut membantu menyembuhkan. Bahkan ada yang membantu ikut mencari kain selendang seperti yang dikatakan salah satu siswa yang kesurupan. Bahkan seorang juru kunci dari Candi Prambanan juga didatangkan.

Setelah ditemukan, kain tersebut kemudian dikembalikan ke Prambanan. Siswa yang masih berteriak histeris turut serta dibawa ke Prambanan menggunakan mobil ambulans dikawal aparat kepolisian.

Setelah situasi tenang, semua siswa kemudian diminta masuk kembali ke dalam bus untuk menuju hotel. Bus pun kemudian meninggalkan lokasi tersebut.

“Ada yang mengambil kain selendang atau penutup batu candi. Sudah dibawa ke Prambanan lagi, semua sudah tenang,” kata Hidayat. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Sukabumi – Budi (40) masih tidak percaya harus menemukan Rafi (2,5) cucunya tewas dalam kondisi tidak wajar. Dia menemukan cucunya itu tergeletak dalam keadaan tertutup jaket sweater warna abu-abu milik ayahnya.

Budi adalah orang yang pertama kali menemukan jasad cucunya itu tergeletak di area perbukitan Gunung Sampai, Kampung Legok Arey, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sekitar pukul 05.30 WIB, Jumat 23 maret 2018.

“Firasat saya kuat, dia itu cucu kesayangan saya. Pagi tadi saya mendengar suara cucu saya itu manggil-manggil. Abah Aden (sebutan kesayangan korban) lapar, abah aden haus hoyong (pengen) susu,” kata Budi kepada detikcom di rumah duka.

Tempat tinggal Budi berada di pinggir Jalan Raya Jubleg, berbekal senter dia melakukan pencarian. Mulai dari perkebunan warga, hingga gorong-gorong di pinggir jalan.

“Pokoknya setiap sudut saya sinari, telinga saya terus mendengar cucu saya ini manggil-manggil. Saya seperti orang gila, ada tetangga yang nanya saya jawab Aden lapar pengen susu,” lirih Budi.

Langkah Budi terhenti tepat di jalan sempit menuju puncak Gunung Sampai, mulut jalan itu berada dekat dengan jalan raya utama. Matanya terantuk pada sosok bayangan anak kecil yang melambaikan tangan.

“Saya enggak bohong, saya lihat sosok cucu saya melambaikan tangan minta saya mendekat. Setiap saya dekati bayangannya menjauh, sampai akhirnya sekitar 50 meter perjalanan saya menemukan cucu saya itu tergeletak, badannya tertutup jaket,” lanjut Budi.

Budi saat itu tidak langsung mengangkat tubuh cucunya, dia menangis sambil berlari ke bawah menuruni jalan. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Saya sempat kaget, panik, syok lihat cucu saya tergeletak. Setelah di bawah saya naik lagi ke atas, lalu gendong tubuh cucu saya,” nada suara Budi parau mengingat peristiwa itu.

Teriakan Budi didengar warga, mereka berdatangan dan melihat Budi menggendong tubuh kaku sang cucu.

“Sebelumnya pak Budi memang terlihat seperti mencari sesuatu, dia bawa senter sampai jongkok-jongkok di gorong-gorong. Ditanya warga jawabnya cucu saya kelaparan, sampai akhirnya dia naik ke atas bukit dan berteriak. Saat warga samperin dia sudah gendong cucunya,” kata Dede Bemo (34) tetangga korban.

Budi terlihat paling histeris saat jasad cucunya yang sempat dibawa ke rumah sakit Sekarwangi dipulangkan ke rumah. Berkali-kali Budi berteriak dengan nada emosional.

“Kalau bapaknya mau mati-mati aja, enggak usah dia bawa-bawa pakai habisin nyawa cucu saya,” teriaknya.

Selang satu jam kemudian jasad Agung Akbar (30) ayah korban ditemukan warga tergantung diatas pohon mahoni sangat dekat dengan penemuan jasad Rafi. Agung ditemukan setelah Obing (80) warga setempat mengeluh kehilangan tambang. Warga yang mendengar hal itu langsung sadar ada yang tidak beres dan kembali mencari ke tempat ditemukannya Rafi.

“Saya dan dua warga lainnya naik lagi ke atas setelah Pak Obing mengeluh kehilangan tambang, ketika naik lagi ke atas betul saja jasad ayah korban ditemukan tergantung setinggi 4 meter dari permukaan tanah tepat di atas tempat Rafi ditemukan,” kata Dede.

Jasad Agung langsung dibawa ke RS Sekarwangu dan dipulangkan ke rumah duka di Kecamatan Baros, Kota Sukabumi. Sementara jasad Rafi saat ini telah dikebumikan keluarganya di pemakaman umum setempat. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Presenter Robby Purba rupanya pernah mengalami kejadian tak menyenangkan. Saat bermain jailangkung, ia pun tidak bisa tidur nyenyak selama dua hari.

Kejadian itu terjadi saat dirinya hendak membawakan salah satu acara di televisi. Kala itu, Robby sempat bermain jailangkung di atas panggung.

“Dan ada satu waktu kita main jailangkung. Ya memang nggak ditanyain, karena saya rasa sudah pertimbangan dari kami dan tim ya, takutnya mengajarkan,” tuturnya saat ditemui di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis 22 maret 2018 malam.

“Dan setelah main, dua hari nggak bisa tidur aku, kayak ada yang lewat, zrut zrut zrut gitu,” lanjutnya.

Rupanya bukan kali itu saja Robby Purba mengalami kejadian mistis. Beberapa kali sebelumnya, pria 31 tahun itu juga pernah mengalami kejadian aneh.

“Banyak sih pengalaman horor, tiba-tiba ada kelelawar gedelah masuk. Banyak sih banyak,” pungkasnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Jakarta – Tukiyono Ardiyanto alias Yono ditangkap anggota Satuan Reskrim Polsek Tanah Abang lantaran menipu Pasutri M dan TM. Yono memperdaya korbannya dengan menggunakan jenglot yang disebutnya bisa menggandakan uang.

“Dalam menjalankan aksinya, tersangka memperlihatkan kepada korban yaitu kotak coklat berisi jenglot yang menurut tersangka selama ini jenglot tersebut bekerja,” kata Kapolsek Tanah Abang AKBP Lukman Cahyono dalam keterangannya kepada detikcom, Kamis 22 Maret2018.

Menurut tersangka, jenglot tersebut bisa membantu mendatangkan rezeki berlimpah dan kesuksesan kepada korban. Namun, korban juga diminta melaksanakan syariat seperti perintahnya.

“Yaitu dengan cara korban mengikuti syariat yang diperintahkan pelaku untuk membuang uang ke kali secara ikhlas,” imbuhnya.

Peristiwa bermula pada Selasa 22 Februari 2018 sekitar pukul 20.00 WIB lalu. Korban mendatangi rumah kontrakan Yono di RT 001 RW 007 Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

“Karena percaya dengan ucapan pelaku, dia kemudian menyerahkan uang sebesar Rp 10 juta,” lanjutnya.

Sebagai gantinya, tersangka memberikan kain kafan kepada korban. Uang Rp 10 juta tadi kemudian dia masukan ke dalam kain kafan dan membuangnya bersama-sama dengan korban di kali Karet Bivak.

Korban kemudian disuruh menunggu beberapa hari hingga uangnya nanti akan berlipat ganda. “Namun, setelah ditunggu-tunggu ternyata yang dijanjikan korban tidak terbukti,” sebutnya.

Merasa tertipu, korban kemudian melaporkan hal ini ke polisi. Tersangka akhirnya berhasil ditangkap pada tanggal 7 Maret 2018 lalu. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID – Sejak pertama kali tayang, program reality show Karma ANTV seolah menjadi primadona bagi para penonton Tanah Air. Kendati tayang menjelang tengah malam, Karma belakangan ini sukses merajai rating di jam tayangnya.

Adapun Karma adalah sebuah program reality show bergenre misteri yang mengungkap karma baik dan buruk seseorang berdasar tanggal lahir. Bersinggungan dengan banyak orang yang ‘bermasalah’, rupanya membawa dampak tersendiri untuk Roy.

Hal itu terlihat ketika Karma episode 64 pada 18 Maret 2018, menampilkan seorang partisipan bernama Ibu Sri. Ibu Sri ini hidupnya penuh kepedihan karena ulah suami. Dari pengakuannya, selama 20 tahun menikah, Sri hanya dinafkahi beberapa bulan saja.

Sri juga kerap merasakan kekerasan fisik dan mental. Mulai dari suami yang selingkuh hingga ancaman soal video porno. Menggunakan kemampuan lebihnya, Roy Kiyoshi lantas mendalami kehidupan Sri.

Tetapi tak lama kemudian, Roy malah muntah darah. Kejadian itu sempat membuat Robby Purba panik.

“Wah selama tiga bulan baru kali ini saya lihat Roy muntah darah,” ujar Robby Purba.

Partisipan juga alami hal serupa.

Roy lantas melanjutkan acara Karma, dan mengatakan ada kekuatan hitam yang berada di belakang tubuh Sri.

“Saya merasakan suatu benda black energi. Khususnya di bagian perut sama dada. Saya masuk ke dalam jiwa kamu dan saya agak kurang nyaman lalu muntah,” tutur Roy yang tak lama kemudian pulih.

Beberapa hari setelah insiden muntah darah itu, diketahui Roy Kiyoshi kemudian dirawat di rumah sakit.

Tampak dalam foto yang diunggah pada Selasa, 20 Maret 2018 itu, Roy tengah terbaring di bangsal sebuah rumah sakit.

Roy memejamkan mata, dengan selang infus terpasang di tangannya.

“Get well soon, Roy Kiyoshi.. We are rooting for you.
#roykiyoshi #getwellsoonroykiyoshi,” tulis akun roykiyoshibase yang mengunggah foto tersebut.

Rekan Roy Kiyoshi di acara Karma, Robby Purba, Rabu, 21 Maret 2018, juga mengunggah foto ketika dia menjenguk Roy. Namun, Robby justru menyertakan caption kocak untuk menghibur temannya tersebut.

Di foto yang Robby unggah, Roy terlihat lebih sehat dan bisa tersenyum.

“Alhamdulillah… lahirannya normal… @roykiyoshi selamat ya dedek… ganteng anak lo… 3,5Kg Panjang 50 Cm #korbanGulaGula #IlmuBalet :p,” tulis Robby.

Sementara itu dari kolom komentar, sejumlah warganet mendoakan supaya Roy segera pulih.

Tak sedikit pula yang khawatir dan menanyakan perihal sakit Roy.

Sejumlah warganet menduga Roy Kiyoshi terbaring sakit karena kecapaian.

Saking perhatiannya para penggemar dan pendukung sinetron Karma, pantauan TribunSolo.com, unggahan Robby Purba saat menjenguk Roy di RS itu menuai 2.500 komentar lebih dalam hitungan jam. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Surabaya – Penipuan dengan modus penggandaan uang masih saja terjadi. Kali ini di Ponorogo, Jawa Timur. Polisi menyebut kasusnya mirip Dimas Kanjeng. Ada mahar, ritual, dan uang gaib.

Adalah Siswoyo (40), pelaku penggandaan uang di Ponorogo. Warga Jalan Letjen Suprapto Kelurahan Kenitan, Kecamatan Ponorogo, Ponorogo itu diamankan polisi dengan sangkaan menipu Sabil (56), warga Desa Kepuhburuh, Kecamatan Siman, Ponorogo.

“Ini seperti kasusnya Dimas Kanjeng. Katanya bisa menggandakan uang,” kata Kapolsek Siman, AKP Dwi Agus Cahyono, Rabu 14 Maret 2018.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang disebut AKP Dwi Agus Cahyono sempat membuat heboh pada pertengahan 2017 karena seolah-olah mampu mengeluarkan uang dari jubahnya. Pria asal Probolinggo itu memiliki padepokan dan banyak pengikut. Ia divonis 18 tahun penjara atas kasus pembunuhan 2 pengikutnya dan vonis 2 tahun terkait penipuan dengan korban Prayitno Suprihadi asal Jember.

Siswoyo dan Dimas Kanjeng sama-sama mengklaim mampu mengambil uang gaib.

Syaratnya ada uang mahar untuk penggandaan. Bedanya Siswoyo menggunakan medium gentong, kain mori, dan ulekan, sedangkan Dimas Kanjeng tidak. Uang mahar korban Siswoyo juga tak sebanyak yang disetorkan pengikut Dimas Kanjeng.

“Tersangka mengaku memiliki ilmu gaib,” tutur Dwi Cahyadi.

Kasus di Ponorogo ini bermula saat tersangka datang ke rumah korban untuk minta restu akan berangkat ke Korea sebagai TKI. Obrolan berlanjut soal uang. Tersangka menyatakan bisa menggandakan uang. Korban mengaku digendam sehingga tidak sadar menuruti kemauan tersangka.

Awalnya uang mahar Rp 3 juta ditaruh di gentong. Kemudian berlanjut sampai 17 bulan. Total lebih dari Rp 12 juta. Sampai-sampai korban menggadaikan BPKB motor anaknya. Tersangka minta korban salat, berpuasa, dan baca mantera agar uang gaib bisa diambil.

“Katanya sebagai uang mahar, dimasukkan ke amplop putih terus ditaruh di bawah bantal. Beberapa menit kemudian berganti kertas putih, uangnya hilang. Katanya diambil makhluk ghaib,” tutur Sabil

“Katanya kalau uang dibungkus kain mori dan ditaruh di gentong bisa bertambah dengan cara pinggir gentong dipukul ulekan,” tambah Sabil.

Gentong tak boleh dibuka tanpa seizin pelaku. Waktu terus berlalu, anak korban curiga dengan aksi itu. Dia membuka gentong uang mahar, Selasa 13 Maret 2018. Ternyata isinya uang mainan. Tahu aksinya diketahui, tersangka kabur dan akhirnya tertangkap. Kejadian itu dilaporkan ke polisi.

Siswoyo diamankan. Dia dijerat pasal 378 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara. Barang bukti berupa dua buah gentong, satu ulekan, uang mainan, satu lembar kain batik dan satu gamis pria, disita.

Belum diketahui adakah korban lain dari aksi Siswoyo. Yang jelas, kasus seperti ini sudah berulang kali terjadi. Modusnya mirip, ada uang mahar dan ritual. Alih-alih mengeluarkan uang gaib, pelaku justru berurusan dengan kepolisian dengan sangkaan penipuan. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Kotabaru – Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kotabaru Hajjah Ernawati, mengemukakan Pulau Matasirih salah satu pulau di Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru, Kalsel dikenal endemis Malaria.

Sebagai daerah endemis malaria, selain berdasarkan hasil penelitian, Pulau Matasirih endemis malaria dapat ditentukan secara medis.

Memang diakui Ernawati, Matasirih menjadi daerah endemis malaria sempat terbesit dari cerita, Malaria terjadi di Pulau Matasirih adanya unsur mistis yang sebagian dipercayai warga setempat.

Namun tentunya hal bersifat mistis, tidak dapat digabungkan dengan penelitian dilakukam secara medis.

“Memang di dalam Alquran kita percaya dengan hal gaib. Tapi kita bicara soal medisnya, soal adanya hal mistis tergantung kita menyikapinya.”

Seperti dilansir trevelingyuk.com banyak nelayan yang mempercayai bahwa barang siapa pergi ke pulau tersebut, maka mereka takkan bisa kembali lagi.

Alasan sendiri sebenarnya tak masuk akal, namun karena bentuk pulaunya yang seperti pocong mungkin itu yang membuat nelayan berpandangan lain. (***)

sumber: tribunnews.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Ciamis – Di Ciamis, ada satu situs bersejarah yang punya mitos unik dan sulit dipercaya. Ada 3 batu yang bisa memberi jodoh, poligami dan juga keturunan. Ini kisahnya.

Sebuah daerah yang memiliki peninggalan zaman dulu biasanya sarat dengan mitos. Seperti di Situs Astana Gede, Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tepatnya di komplek Pamuruyan.

Di lokasi ini ada tiga cungkup prasasti yang kerap dikunjungi oleh para peziarah. Mitos itu berkembang sangat kental di masyarakat Kawali. Yakni keberadaan Batu Panyandaan, Batu Panyandungan dan Batu Pangeuntengan.

Mitos yang dipercaya oleh masyarakat beragam. Mulai percaya bisa mengabulkan keinginan untuk mendapat keturunan, ingin berpoligami, hingga impian berparas cantik dan dapat jodoh.

Budayawan asal Kawali yang juga sesepuh Ketua Paguyuban Seniman dan Budayawan Paseban Jagat Palaka, Daday Hendarman Praja atau Bah Daday, menceritakan komplek pamurayan merupakan tempat ritual atau untuk semedi para masa Kerajaan Sunda Galuh.

Tujuannya untuk mencari wangsit. Malahan lokasi ini dijuluki Sang Hiang Lingga Hiyang yang artinya tempat berkumpulnya atau bersemayamnya para leluhur. Bah Daday pun menjelaskan satu per satu mitos yang sampai saat ini masih terus beredar di masyarakat.

Pertama yaitu Batu Panyandaan. Batu itu identik dengan kaum ibu, sebab Batu itu berdasarkan sejarah dikuburnya abu jasad prameswari atau Lara Ringsing istri dari Raja Sunda Galuh Prabu Linggabuana.

“Mitos yang tumbuh apabila ibu yang susah melahirkan atau belum mendapat keturunan, bila melakukan ritual atau nyender di prasasti tersebut atau nyarande. Sambil berdoa menurut keyakinan masing-masing, maka diyakini bakal memperoleh keterunan dan dimudahkan,” ujarnya saat ditemui di Padepokannya di Kecamatan Kawali, Selasa 13 Maret 2018.

Umumnya peziarah ke lokasi itu sampai sekarang masih ada dari daerah-daerah pinggiran perkampung Kawali. Keyakinan dari mitos itu karena banyak yang menyambangi Batu Panyandaan untuk mendapat keturunan.

Mitos lainnya soal keberadaan Batu Panyandungan. Konon para peziarah, khususnya lelaki, datang dengan niat untuk berpoligami.

Di lokasi ini diyakini tempat dikuburkannya abu jasad Raja Sunda Galuh Prabu Linggabuana. Panyandungan sendiri artinya memadu atau bermadu beristri dua.

“Seandainya seorang laki-laki sedang punya isteri mempunyai menambah lagi isteri bisa melaksanakan ritual di tempat ini sebelum melangsungkan pernikahan kedua dan jika ingin awet,” ucap Bah Daday.

Ritualnya itu tangan kiri ditaruh di puncak batu, lalu tarik napas sedalam dalamnya, mata dipejamkan berputar sambil bersiul minimal tujuh kali searah jarum jam tanpa bernapas. Namun sejauh ini, menurut Bah Daday, belum ada seorang pun yang sanggup melaksanakannya. Umumnya yang sudah mengikuti ritual ini rata-rata tidak kuat, paling banyak hanya melakukan putaran sampai empat kali.

“Sewaktu ditanya orang itu ditanya oleh pemandu, umumnya mejawabnya pusing. Pusing itu mengandung filosofi kalau melaksanakan poligami. Bila yang tidak sanggup akan pusing atau menyiksa diri sendiri,” katanya.

Menurut Bah Daday, sekalipun orang yang bisa menahan napas cukup lama tidak akan kuat untuk melaksanakannya, bila tidak ada izin dari leluhur. Karena kebanyakan yang berniat poligami itu berdasarkan hawa nafsu. Namun bila memiliki hati bersih dan ada tujuan mulai dari niat poligami itu bisa saja berhasil dalam ritual tersebut.

Mitos yang ketiga di Batu Pangeunteungan. Makna ngeunteung atau bersolek ini biasanya gadis. Di tempat itulah ada abu jasad Citra Resmi atau Diah Pitaloka. Dia adalah seorang gadis putri mahkota yang sangat cantik dari Kerajaan Sunda Galuh, anaknya Prabu Linggabuana.

Istimewanya, batu itu bisa menyerap air dari bawah tanah, sehingga batu itu kerap mengeluarkan air pada bagian atasnya.

Masyarakat meyakini, bila membasuh muka menggunakan air di batu itu sebanyak tiga kali, maka gadis tersebut akan bercahaya dan sehingga menjadi daya tarik lawan jenis serta mudah mendapatkan jodoh.

“Paling banyak dikunjungi itu Batu Panyandungan. Selain penasaran ingin melaksanakan ritual untuk berpoligami. Juga yang melaksanakan ziarah ke batu panyandungan itu untuk calon-calon pemimpin, karena Prabu Linggabuana dipercaya sebagai pemimpin yang sukses bisa memakmurkan masyarakatnya,” jelas Bah Daday.

Astana Gede Kawali sendiri merupakan bekas peninggalan Kerajaan Sunda Galuh. Dimana dilokasi ini terdapat prasasti-prasati dan makam Prabu Linggabuana dan keluarganya. Di balik mitosnya, keberadaan tempat ini tentu penting untuk menjaga sejarah kebudayaan Sunda di masa silam. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Trenggalek – Tukinem (51), warga Dusun Jeruk Gulung, Desa Surenlor, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, tewas digelonggong air oleh 7 anggota keluarganya.

BACA: SADIS! Satu Keluarga 3 Hari Kesurupan, Dinaiki dan Diinjak-injak, Tukiyem Tewas Mengenaskan

Kejadian mengenaskan ini berawal dari ritual. Begini kronologinya.

Jumat, 2 Maret 2018

Pukul 18.00 WIB

Tersangka dan korban menyembelih 5 ayam dan memasak nasi kuning. Menurut keterangan tersangka, kegiatan ini merupakan ritual untuk kesembuhan anggota keluarga.

Kelengkapan ritual dimakan hingga Minggu 4 Maret 2018 pukul 04.00 WIB

Minggu, 4 Maret 2018

Pukul 15.30 WIB

Korban keluar dari rumah dan mengeluh sakit perut

Tersangka berinisiatif melakukan pengobatan alternatif, mengguyur korban dengan air. Tak hanya itu, korban digelonggong dengan air dengan alasan mengeluarkan rasa sakit.

Kejadian ini membuat kaget warga. Tak ada yang berani mendekat karena tersangka seolah-olah kesurupan.

Polisi datang atas laporan warga. Korban dibawa ke rumah sakit, sedangkan tersangka diamankan.

Senin, 5 Maret 2018

Korban dimakamkan.

“Jadi kasus ini berawal dari ritual. Kami masih mendalami lagi keterangan tersangka,” kata Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo Saputra dalam gelar perkara di mapolres, Jalan Brigjend Soetran Trenggalek, Selasa 6 Maret 2018. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Trenggalek – Kasus kematian Tukiyem (51) yang diduga akibat digelonggong air oleh sejumlah anggota keluarganya kini ramai menjadi perbincangan warga. Tetangga korban mengaku, sebelum meninggal, para pelaku mengalami kesurupan selama tiga hari berturut-turut.

“Selama tiga hari itu yang perempuan-perempuan itu kesurupan dan mengamuk. Pagi itu saya berangkat ke ladang, yang perempuan itu berjajar pakai mukena. Kemudian saat saya pulang semua sudah ndadi (kesurupan, red) di halaman,” ungkap salah seorang tetangga koban, Katirin, Senin 5 Maret 2018.

Bahkan pada saat kejadian, Katirin mengaku melihat Tukiyem diinjak-injak dan dinaiki oleh para pelaku di halaman rumahnya. Di dekat korban juga terlihat ada sebuah selang air yang mengalir.

Namun Katirin menambahkan, ia tidak melihat secara langsung saat korban digelonggong air oleh para pelaku.

“Jadi kejadian itu tidak ada yang menolong, warga hanya tahu dari kejauhan. Karena waktu itu para pelaku mengamuk sehingga kami tidak berani mendekat,” imbuhnya.

Akhirnya sejumlah warga bersama, kepolisian, perangkat desa dan TNI mendatangi lokasi kejadian dan melakukan evakuasi.

“Pada saat kami datang bersama pak polisi itu, Tukiyem sudah meninggal dunia dan ditutupi pakai kain sarung dan kepalanya ditutupi kaos berlumpur. Kalau anggota keluarganya masih kesurupan saat kami datang,” lanjutnya.

Saat ini Kepolisian Trenggalek mulai meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan. Rencananya polisi juga akan segera menetapkan tersangka dalam kasus ini.

Kasatreskrim Polres Trenggalek AKP Sumi Andana mengatakan, dari hasil penyidikan awal kasus tersebut mengarah pada pembunuhan yang dilakukan secara sadis oleh para pelaku.

Hasil autopsi yang dilakukan oleh Tim Forensik Polda Jatim dari RS Bhayangkara Kediri ditemukan sejumlah bekas luka penganiayaan seperti pada daerah sekitar mulut serta organ dalam korban.

“Jadi bisa kami sampaikan ada kematian tidak wajar, dengan hasil autopsi, aliran udara tertutup oleh air, ada kekerasan pada sekitar mulut, kemudian rongga paru-paru dan rongga dada terisi cairan air,” ujarnya. (***)

sumber: detik.com

MEDIAKEPRI.CO.ID, Solo – Pertunjukan liong dan barongsai menutup acara tahun baru Imlek di Kota Solo. Tiga kelompok liong dan barongsai melakukan pentas dengan berkeliling kota.

Sebelum berkeliling kota, mereka memulai acara dengan ritual doa di kelenteng. Dua kelompok berada di Kelenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede, satu kelompok lainnya berada di Kelenteng Poo An Kiong, Coyudan.

“Total ada 3 liong dan 20 barongsai. Mereka berkeliling kota dengan rute yang berbeda,” kata pengurus Kelenteng Tien Kok Sie, Henry Susanto, di sela-sela kegiatan tersebut di kelenteng yang berada di Pasar Gede, Solo, Jumat 2 maret 2018.

Dalam perjalanan, mereka mampir ke rumah dan toko yang dilewatinya. Kebanyakan pemilik rumah ataupun toko telah menyiapkan angpau untuk para pemain liong dan barongsai.

Pemberian angpau tersebut merupakan ungkapan terima kasih kepada liong dan barongsai. Dipercaya, hewan yang menyimbolkan naga dan singa itu dapat menolak bala.

“Sejarahnya sejak zaman Dinasti Cing. Ada monster yang yang meneror warga. Kemudian ada singa yang muncul dan membuat monster takut. Lalu warga mulai membuat singa-singaan untuk menolak bala,” ujarnya.

Selain itu, acara tersebut juga diharapkan dapat lebih siap menghadapi tahun ini. Di tahun anjing tanah ini, masyarakat diajak untuk melestarikan lingkungan.

“Anjing tanah ini berkaitan dengan tanah, bumi. Kita dipesan untuk meruwat dan merawat bumi sebaik-baiknya. Harapannya agar masyarakat yang semakin ramah terhadap lingkungan,” tutupnya. (***)

sumber: detik.com